Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Trihatmoko, Dosen Fakultas Ekonomi, dan Program Pascasarjana, Universitas Surakarta.

Agus Trihatmoko, Dosen Fakultas Ekonomi, dan Program Pascasarjana, Universitas Surakarta.

HUT KOPERASI ke - 73

Membangun Perkoperasian Nasional Bersama Sistem Ekonomi Murakabi

Minggu, 12 Juli 2020 | 20:21 WIB
Investor Daily

SURAKARTA, investor.id - Kegiatan usaha dengan cara koperasi merupakan budaya ekonomi yang masih berjalan hingga sekarang. Usaha koperasi adalah praktik usaha sistem ekonomi murakabi pada skala kecil dan tradisional ekonomi. Secara informal seperti dilakukan oleh masyarakat di lampisan bawah dalam skala kecil dan bermacam-macam versi teknisnya.

Menengok dari sejarah bahwa koperasi mulai dikenal di Indonesia sejak akhir abad ke-18, masa Kolonial. Konggres pergerakan koperasi merupakan titik tolak sejarah perkoperasian sebagai arah perjuangan ekonomi Indonesia (Tasikmalaya, 12 Juli 1947).  

Proklamator Republik Indonesia – Bung Hatta semenjak Indonesia merdeka konsisten memperjuangan koperasi, sehingga dijuluki Bapak Koperasi Indonesia. Hingga sekarang sebenarnya koperasi masih ingin ditempatkan sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional. Semangat itu, setidaknya terlihat pada setiap rezim pemerintahan masih menempatkan kementerian di bidang koperasi.

Demikian dikemukakan Dr R Agus Trihatmoko SE MBA MM dari Universitas Surakarta, dalam rilisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (12/7/2020), terkait Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Koperasi.

Agus Trihatmoko bersama Prof Sri Edi Swasono
Agus Trihatmoko bersama Prof Sri Edi Swasono

Namun demikian, lanjut Agus, dalam perkembangan ekonomi politik nasional dan global tidak disadari perlahan telah menyingkirkan koperasi. Usaha koperasi terus digerus oleh persaingan liberal usaha dan korporasi, sehingga menempatkan kelompok kapitalis menjadi kekuatan utama ekonomi nasional. Koperasi tinggal menjadi kegiatan usaha di bagian lapisan bawah korporasi besar atau institusional tertentu. Sisa sedikit porsi ekonomi dalam perkoperasian seperti itu masih memberikan manfaat turut mensejahterakan anggota usaha koperasi termaksud.

“Masih ada beberapa koperasi besar di Indonesia yang dinilai kuat di bagian tubuh korporasi besar, misalnya, Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) dan Koperasi Semen Padang. Tetapi, kemungkinan KSWG sudah mulai terpuruk oleh karena mis-manajemen dan juga terholdingnya perusahaan ke Semen Indonesia”, paparnya.

Menurut dia, banyak strategi atau upaya dari program-program kerja Kementerian Koperasi semenjak dulu hingga sekarang. Alhasil, memang kuantitas koperasi meningkat, namun demikian kualitas koperasi nasional masih jauh dari visinya sebagai soko guru perekonomian. Bahkan, kelembagaan bernama koperasi disalahgunakan oleh oknum pelaku usaha seperti halnya cara kapitalis.

Ia menilai, pembangunan perkoperasian di Indonesia akan sangat sulit maju besar, bahkan semakin menuju keredupannya; Selagi, leberalisasi ekonomi terus mengalir dalam sistem pembangunan ekonomi nasional. Tak dapat dihindari dari arah ekonomi global dan kemajuan teknologi digital semakin memperkuat dominasi kapitalis besar dan menyingkirkan koperasi-koperasi.

Ia menekankan perlu keberpihakan dari kebijakan pemerintah untuk menempatkan koperasi-koperasi dalam berbagai sektor bisnis untuk ambil bagian secara signifikan. Jika, memang perekonomian Indonesia dibangun sesuai dengan amanat konstitusinya yaitu Pasal 33 UUD NRI 1945.

“Reposisi koperasi dari lapisan bawah ekonomi kepada lapisan atas sangat memungkinkan yaitu dengan sistem ekonomi murakabi. Koperasi diberikan kesempatan beroperasi tidak berdiri sendiri dalam unit usahanya, tetapi bersinergi dengan usaha korporosi besar. “Seperti, kala itu dikembangkan oleh BUMN Semen Gresik dengan KWSG nya, dan di Semen Padang”, ujarnya.

Agus Trihatmoko bersama Prof Sri Edi Swasono
Agus Trihatmoko bersama Prof Sri Edi Swasono

Berikutnya, lanjut Agus, suatu mekanisme seperti keanggotaan masyarakat dalam koperasi yaitu kepemilikan saham masyarakat dalam korporasi besar.

“Inilah teori ekonomi murakabi sebagai solusi di tengah kesulitan berkembangnya perkoperasian. Kekuatan ekonomi nasional akan berdiri kokoh pada saat masyarakat tercakup dalam keanggotaan berbagai unit koperasi, beserta memiliki saham-saham korporasi besar nasional,’ ucapnya.

Lebih jauh Agus mengatakan bahwa kegoncangan ekonomi dapat dipastikan selalu terjadi  pada saat titik tertentu yaitu krisis ekonomi. Terlepas ada pandemi Covid-19 atau pun tidak ada musibah sosial-kesehatan ini.

Ia menjelaskan, krisis ekonomi meletus pada puncak kapitalisasi moneter dan fiskal tidak terkendali di tengah globalisasi ekonomi yang sangat leberalis.

Secara teoretikal, papar Agus, murakabisme ekonomi menyatakan bahwa pendekatan ini mampu meredam potensi krisis ekonomi, karena tidak mengandalkan perdagangan kapital. Asas kekeluargaan dan gotong royong adalah kekuatan kapital dari partisipan pelaku/organ ekonomi secara kolektif.

“Pada Hari Koperasi ke – 73 ini merupakan kesempatan baik bagi saya untuk turut menyumbangkan pemikiran ekonomi murakabi sebagai perkuatan koperasi Indonesia,” katanya.

Dalam kepentingan ini juga, masih kata Agus, murakabisme ekonomi tidak hanya penting bagi bangsa Indonesia tetapi juga telah ditawarkan bagi dunia.

Bagi Agus, kesejahteraan rakyat dan perdamaian dunia menjadi arah dari tatatan ekonomi murakabi. Mengapa demikian?  Perang dagang atau ekonomi dan resesi ekonomi saat ini telah memicu ketegangan fisik antar negara adi daya. 

“Semoga mementum Hari Koperasi Indonesia ini menjadi semangat baru membangun tatatan ekonomi lebih baik ke depan agar murakabi bagi kemakmuran rakyat”, pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN