Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita (tengah) didampingi Ketua Kelompok Madu Biene Desa Tanjung Leban Rahmadi (kiri) dan Commmunity Development Officer Kilang Sei Pakning Miftah Arjuna (kanan) saat meninjau budidaya Kelompok Madu Biene binaan PT Pertamina, di Desa Tanjung Leban. Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau

VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita (tengah) didampingi Ketua Kelompok Madu Biene Desa Tanjung Leban Rahmadi (kiri) dan Commmunity Development Officer Kilang Sei Pakning Miftah Arjuna (kanan) saat meninjau budidaya Kelompok Madu Biene binaan PT Pertamina, di Desa Tanjung Leban. Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau

Memilih Berdakwah dengan Madu bersama Pertamina

Senin, 13 September 2021 | 11:25 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Selepas menamatkan pendidikan dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Manajemen Dakwah pada 2015, Rahmadi memilih kembali ke kampung halaman. Tujuannya mulia, yakni ingin mengabdi dan membangun desanya. Sayangnya, saat pekerjaan belum didapat, dia pun akhirnya terbawa arus masyarakat sekitar, yakni mencari madu secara liar di hutan.

Pria dari Desa Tanjung Leban. Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau kelahiran 25 Januari 1994 ini dahulu biasa mencari madu di hutan dengan sistem pengasapan, menggunakan sabut kelapa atau daun kelapa kering yang dibakar, untuk menghalau lebah, dan dipanen madunya.

“Saat itu, saya sedang jahat-jahatnya karena belum bekerja, belum menikah. Saya mencari madu di hutan, ikut orang hingga 2017. Karena kebiasaan tersebut, kami para pencari madu selalu dijadikan kambing hitam penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau,” kata Rahmadi mengenang.

Tahun 2018, dia sempat bergabung dengan BUMDES, namun dirasa belum juga memberikan hasil yang diharapkan. Beruntung pada 2019, dia mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari PT Pertamina (Persero), yakni Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning, melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut. Melalui program tersebut, Rahmadi dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Madu Biene, diajarkan mengembangkan budidaya madu hutan, dari hulu ke hilir. Terdapat tiga jenis madu yang dihasilkannya yakni Apis Cerana, Apis Dorsata, dan Trigona. Rahmadi dan kelompoknya membudidayakan lebah madu di sekitar rumah.

“Saya saya terbantu dengan adanya bimbingan Pertamina. Bukan hanya ekonomi yang meningkat, tapi lingkungan juga terselamatkan,” ujarnya. Apalagi, kata dia, di masa pandemi ini, permintaan madu sangat tinggi, karena banyak diburu masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Saat awal Covid-19 tahun lalu, permintaan madu tidak hanya dari Bengkalis dan Pekanbaru saja, bahkan dari luar daerah. Kalau dihitung selama tahuan 2020 lalu, kelompok bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 244 juta,” kata Rahmadi

Rahmadi juga mengaku saat ini ikut membina warga di luar kelompoknya baik yang ada di desanya maupun luar desa. “Sekarang jalan dakwah saya melalui madu. Saya melakukan sosialisasi dan edukasi. Cerita lebah itu kan ada juga dalam Al Quran. Perintah meminum madu pun ada dalam Al Quran. Jadi, saat kita menggalakkan orang untuk minum madu, itu juga sudah menjalankan perintah agama,” jelasnya.

Madu yang diproduksi oleh Kelompok Madu Biene
Madu yang diproduksi oleh Kelompok Madu Biene

Dia berharap, dengan bimbingan Pertamina, bisa terus mengembangkan usahanya ini lebih luas lagi, bukan hanya dari sisi produk melainkan juga pemasaran. “Saya ingin produk-produk ini lebih dikenal lagi di mancanegara,”ujarnya.

Program Berkelanjutan

Area Manager Communication, Relations & CSR RU wilayah Dumai PT Pertamina Kilang Internasional Imam Rismanto menjelaskan, program budidaya madu yang dirintis sejak 2019 diawali dengan edukasi dan penyuluhan terkait wawasan lingkungan dan panen madu tanpa bakar.

"Awalnya warga masih awam, namun lambat laun mulai menunjukkan minat setelah diberikan pelatihan budidaya lebah madu yang bisa dilakukan di sekitar rumah mereka sendiri tanpa harus ke hutan. Tahun ini kami juga menambahkan pelatihan bagi warga untuk mengembangkan budidaya lebah madu jenis mellifera,"jelas Imam.

Vice President Corporate Social Responsibility and Small Medium Enterprise and Partnership Program (CSR & SMEPP) PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita yang melihat langsung panen madu mengungkapkan kegiatan ini sebagai salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8 yakni mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktif, dan pekerjaan yang layak.

“Hal yang paling penting adalah bahwa budidaya lebah madu ramah lingkungan ini telah membangun kepedulian masyarakat untuk merawat dan melestarikan lingkungan melalui pencegahan kebakaran di lahan gambut,”kata Arya.

Pakar CSR yang juga Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran Risna Resnawaty menilai Pertamina memiliki fokus yang serius pada semua bidang secara holistik, baik ekonomi, sosial, SDM, dan lingkungan.

“Kelihatan sekali komitmen dari perusahaan untuk benar-benar memberdayakan masyarakat, sehingga tidak heran banyak program unggulan yang berhasil meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang dampaknya bukan hanya di tingkat lokal namun global,” katanya kepada Investor Daily.

Sebagai salah satu contoh program lebah madu, di masa pandemi ini madu menjadi primadona untuk menjaga stamina dan kesehatan. Petani madu binaan Pertamina yang jauh-jauh hari sejak sebelum pandemi telah mendapatkan pendampingan dan binaan yang baik dari Pertamina, dapat merasakan bahwa produknya dicari dan laku karena kualitasnya.

“Hal ini akan menjadi lain ceritanya jika pendampingan baru-baru ini dilakukan, tentu hasilnya tidak akan sebaik sekarang. Jadi keberhasilan petani madu tersebut merupakan buah kerja keras petani dan juga ketekunan Pertamina dalam mendampingi sedari dulu, bukan instan,” papar Risna.
 

 

 

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN