Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto. Foto: IST

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto. Foto: IST

MULAI BERLAKU

Mendag Minta IA-CEPA Dimanfaatkan Optimal

Minggu, 5 Juli 2020 | 18:06 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id –Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dengan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership  Agreement/IA-CEPA) resmi berlaku mulai 5 Juli 2020. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta pelaku usaha dalam negeri memanfaatkan IA-CEPA secara optimal. Pasalnya, dengan IA-CEPA, tarif seluruh produk Indonesia yang memasuki Australia menjadi 0% sehingga ekspor produk Indonesia terutama otomotif, kayu, furniture, perikanan, tekstil, sepatu, alat komunikasi, dan peralatan elektronik berpotensi meningkat.

”Seluruh produk ekspor Indonesia ke Australia dihapuskan tarif bea masuknya. Untuk itu tarif preferensi IA-CEPA ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha Indonesia agar ekspor Indonesia meningkat,” kata Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, dalam keterangan resmi, Minggu (5/7).

Pemberlakuan IA-CEPA didukung oleh penerbitan tiga peraturan, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 63 Tahun 2020, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK.10/2020, dan Permenkeu No. 82/PMK.04/2020. Dengan pemberlakuan IA CEPA, tarif produk asal Australia yang masuk ke Indonesia juga menjadi 0%. Menurut Agus, industri nasional yang banyak mengimpor bahan baku dari Australia, seperti industri hotel, restoran, catering, makanan, dan minuman, akan diuntungkan karena harga bahan baku mereka menjadi lebih murah. Konsumen pun mendapatkan harga produk yang lebih murah dan bervariasi.

“IA-CEPA merupakan perjanjian yang komprehensif dengan cakupan yang tidak terbatas pada perdagangan barang, namun juga mencakup perdagangan jasa, investasi, dan kerja sama ekonomi. Cakupan IA-CEPA yang komprehensif akan mendorong Indonesia dan Australia menjadi mitra sejati menciptakan jejaring supply global,” ujar Agus.

Agus lanjut menerangkan, IA-CEPA dibentuk dengan konsep “Economic Powerhouse” yaitu kolaborasi dengan memanfaatkan keunggulan negara masing-masing untuk menyasar pasar negara lain. Dia mencontohkan pada industri makanan olahan, Indonesia bisa mendatangkan bahan baku berupa daging dan gandum dari Australia untuk kemudian diolah menjadi makanan beku atau mi instan yang dikirim ke Timur Tengah.  Konsep ini juga dapat diterapkan pada industri lain, seperti industri software, perfilman, dan animasi.

Menurut Agus, konsep “Economic Powerhouse” didukung oleh pembukaan akses dan perlindungan investasi yang lebih baik dalam IA-CEPA. Dengan ini, investor Australia akan tertarik masuk ke Indonesia, terutama untuk sektor-sektor yang paling diminati, seperti pendidikan tinggi, pendidikan vokasi, kesehatan, konstruksi, energi, pertambangan, dan pariwisata.

Di sisi lain, dengan IA-CEPA, investor Indonesia juga akan lebih terlindungi dalam melakukan ekspansi usaha dengan melakukan penanaman modal di Australia.

Indonesia, lanjut Agus, juga bisa memanfaatkan IA-CEPA untuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan IA-CEPA, lebih mudah bagi pemerintah Indonesia bekerja sama dalam memgembangkan pendidikan vokasi terutama untuk sektor prioritas, seperti pendidikan, pariwisata, telekomunikasi, pengembangan infrastruktur, kesehatan, energi, pertambangan, jasa keuangan, teknologi informasi dan komunikasi.

Saat ini, Universitas Australia direncanakan akan dibuka di Indonesia yang diyakini Agus akan berdampak positif bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.

“Covid-19 membuat hampir seluruh negara di dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga IA-CEPA dapat dijadikan momentum dan dorongan untuk menjaga kinerja perdagangan dan meningkatkan daya saing Indonesia,” tegas Mendag Agus.

Kemampuan tenaga kerja 

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Kamdani, mengatakan bahwa pelaku usaha nasional dapat memanfaatkan IA-CEPA untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja terutama di sektor unggulan Australia, yakni jasa pendidikan tinggi, pendidikan vokasi, pertambangan, dan pariwisata. Namun, Shinta mengatakan implementasi kerja sama kemungkinan baru bisa direalisasikan tahun 2021 mendatang tergantung kebijakan masing-masing negara terkait lalu lintas orang untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, pelaku usaha dapat langsung memanfaatkan tarif 0% untuk melakukan ekspor ke Australia.

“Semua sektor usaha bisa mempergunakan dan bisa diuntungkan dg pembukaan market access perdagangan barang ke Australia dg IA-CEPA. Masalahnya hanyalah apakah sektornya atau industrinya mau aktif memenuhi standar pasar Australia dan mau memakai IA-CEPA atau tidak. Karena itu kita harus terus sosialisasikan manfaat perjanjian ini agar sebanyak mungkin pelaku usaha di berbagai sektor aktif mempergunakan,” kata Shinta kepada Investor Daily, Minggu (5/7).

Selain sosialisasi, Shinta mengatakan pemerintah harus mendampingi eksportir, terutama eksportir skala kecil dan menengah, sehingga produk mereka bisa memenuhi standar Australia. Pemerintah juga harus terus melakukan sosialisasi regulasi teknis kepada staf internal bea cukai dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di lapangan. Pasalnya, selama ini banyak pelaku usaha yang kesulitan mengklaim manfaat pembebasan tarif berdasarkan perjanjian dagang, karena terdapat perbedaan paham di lapangan.

“Selain itu, sedapat mungkin kita juga harus meneruskan reformasi kebijakan ekonomi nasional agar pelaku usaha nasional lebih efisien, lebih produktif, dan lebih berdaya saing menghadapi persaingan dagang dengan produk-produk dan pelaku usaha Australia karena dari sisi Australia pun akan banyak yang mau mempenetrasi pasar Indonesia. Kalau kita tidak memperbaiki iklim usaha nasional, kita bisa kalah saing karena iklim usaha dan investasi kita saat ini sangat tidak efisien dan kalah saing dibanding negara tetangga,” imbuh Shinta.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan barang Indonesia-Australia pada 2019 mencapai US$ 7,8 miliar. Ekspor Indonesia tercatat senilai US$ 2,3 miliar dan impor sebesar US$ 5,5 miliar, sehingga Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 3,2 miliar. Namun demikian, menurut data yang sama, dari sepuluh besar komoditas impor asal Australia, mayoritas merupakan bahan baku dan penolong industri, seperti gandum, batubara, bijih besi, aluminium, seng, gula mentah, susu, dan krim.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN