Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Buku  berjudul Menguak Hikmah Kearifan Haji Leman,mengulas sepak terjang pengusaha sukses Kalimantan, Alm. H. Abdussamad Sulaiman HB (HAS) pendiri Hasnur Grup

Buku berjudul Menguak Hikmah Kearifan Haji Leman,mengulas sepak terjang pengusaha sukses Kalimantan, Alm. H. Abdussamad Sulaiman HB (HAS) pendiri Hasnur Grup

Hasnur Group

Mengenang Sosok H. Leman, Sang Mutiara dari Tanah Banua

Kamis, 27 Mei 2021 | 15:33 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Nama besar Hasnur Group dan klub sepak bola Barito Putera dari Kalimantan Selatan tak bisa lepas dari sang pendiri yakni H. Abdussamad Sulaiman HB (HAS) atau biasa disapa H. Leman. Sosok alhamhum yang melegenda dan menjadi panutan, khususnya bagi warga Kalimantan Selatan ini dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Menguak Hikmah Kearifan Haji Leman.

Hasnur merupakan gabungan nama dari Almarhum H. Abdussamad Sulaiman HB beserta istri beliau Almarhumah Hj. Nurhayati . Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun Hasnur Group saat ini memiliki 6 Strategic Business Unit (SBU) yang saling terintegrasi yaitu Forestry, Mining, Agribusiness, Services, Media, and Logistic.

Kegiatan usaha Hasnur Group yang dimulai dari angkutan sungai, galangan kapal, dan sektor kehutanan terus tumbuh dan berkembang ke berbagai sektor usaha antara lain pertambangan batubara, jalan dan terminal khusus batubara, agribisnis, transportasi, pelayaran, konstruksi, klub sepakbola profesional, media massa, dan pendidikan sekolah olahraga. Selain menjalankan bisnis usaha, Hasnur Group juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Yayasan Hasnur Centre yang menaungi beberapa institusi pendidikan mulai dari pendidikan usia dini sampai dengan tingkat perguruan tinggi di Kalimantan Selatan.

Dalam sebuah sambutan singkat yang terdapat dalam buku “Menguak Hikmah Kearifan Haji Leman”, Gubernur Kalimantan Selatan 2016–2021, H. Sahbirin Noor atau yang kerap disapa Paman Birin mengatakan bahwa jejak sosok H. Leman patut menjadi teladan. “Bagaimana perjuangan beliau selaku pengusaha dari pedalaman yang mampu menaklukkan banyak tantangan, kemudian akhirnya bisa menjadi pengusaha andal yang banyak memberikan sumbangan bagi kemajuan Banua,” ujarnya.

Nama HASNUR, yang saat ini telah menjelma menjadi salah satu kelompok usaha asli Indonesia yang ternama, merupakan gabungan nama H. Abdussamad Sulaiman HB (HAS) dan istrinya Hj. Nurhayati (NUR). “Jangan sampai putus asa dalam menjalani kehidupan, nikmati dan hayatilah pekerjaanmu,maka semuanya akan berjalan dengan baik,” katanya.

Leman lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga pengusaha yang sederhana, mandiri dan relijius. Latar belakang inilah yang turut membentuk sosok Leman sedari kecil sebagai seorang pekerja keras, relijius, berjiwa filantrofi, dan tawaduk kepada orang tua, para ulama dan habaib.

Naluri dan jiwa usaha pria keturunan asli Dayak Bakumpai ini telah nampak sejak usia dini, yang kemudian diasah oleh sang ayah sejak dia lulus dari SD. Berbekal uang Rp. 300,-, Leman muda memulai usaha beternak ayam di kolong rumahnya, dan seiring waktu usahanyapun berkembang dengan menambahkan usaha ternak itik.

Tidak perlu waktu terlalu lama bagi Leman muda untuk mulai menikmati hasil usahanya yang dilakukan sambil bersekolah di tingkat SMP. Sebuah sepeda motor merek Sundap, adalah bukti dari hasil kerja keras, ketekunan dan doanya dalam menjalankan usaha peternakan. Sebuah pencapaian yang membanggakan bagi anak seusia dia saat itu, dan kenangan itu selalu membekas sampai dengan akhir hayatnya. Demikianlah yang dikatakan Almin Hatta, mantan pimpinan redaksi Harian Media Kalimantan saat mengenang sosok H. Leman.

Menginjak usia 15 tahun, kondisi kesehatan ayah Leman memburuk, Leman mudapun memutuskan untuk berhenti sekolah karena berkeinginan untuk merawat sang ayah dan juga sebagai putra satu-satunya di keluarga, dia ingin meneruskan usaha angkutan sungai ayahnya. Bermodalkan 2 buah kapal kecil dan 5 tongkang, serta keyakinan atas rahmat Allah Yang Maha Pemurah, Leman muda memulai lembaran baru dalam kehidupannya. Sebuah keputusan terpenting dalam kehidupannya, dan menjadi sebuah keputusan yang turut merubah nasib ribuan, bahkan jutaan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Di usia yang tergolong masih teramat muda, Leman memasuki dunia usaha dengan melayani jasa pengangkutan sungai, yang kemudian secara perlahan berkembang dengan pesat hingga akhirnya merambah ke transportasi angkutan barang Banjarmasin-Semarang, lalu kemudian berkembang kembali untuk melayani rute Banjarmasin-Surabaya.

Dalam periode inilah naluri bisnis Leman muda semakin terasah. Memanfaatkan jalur transportasi yang dimilikinya, Leman muda mulai mengirim dan menjual kayu galam, sebuah pohon endemic rawa-rawa di Kalimantan Selatan yang dapat digunakan sebagai scaffolding ke Surabaya. Tidak hanya sampai disitu, Leman mudapun tak segan untuk berhubungan dengan Hopman, seorang pengusaha pemegang hak operasional kapal milik Gereja Kalteng Engelis.

Bermodalkan dua dari empat kapal Hopman yang masih layak dioperasionalkan, Leman muda melebarkan sayap usahanya untuk menarik kapal-kapal layar yang saat itu masih banyak digunakan, dari Pelabuhan Trisakti ke muara Sungai Barito.

Wujud tanggung jawab dan kecintaannya terhadap apa yang dia kerjakan tetap tercermin saat usahanya telah berkembang. Seperti yang dikisahkan salah seorang putranya Ir. H. Rachmadi Sulaiman HB . “Bukanlah hal yang aneh bagi ayah saya untuk turun sendiri secara langsung di hampir setiap pengiriman komoditas kayu. Bahkan, beliau tidak sungkan untuk menceburkan diri ke dalam sungai yang tergolong tidak bersih hanya untuk memastikan semuanya sesuai dengan harapan dan peraturan,” ujarnya.

Tekad dan berbagai macam kerasnya pengalaman kehidupan yang harus dijalani oleh Leman dalam usia yang terbilang masih belia, seakan melunak saat dirinya bertemu dengan Siti Nurhayati. Seorang gadis sederhana dan santun, putri dari pemilik warung dimana Leman sering menghabiskan waktu, tidak hanya untuk menikmati makanan yang ada tapi sekaligus dapat melihat sang pujaan hati.

Keduanya memutuskan untuk menikah. Dan mulai saat itu dimulailah kehidupan pasang surut kedua pasangan suami istri ini dalam membesarkan usaha yang mereka bangun bersama. Kegigihan Leman yang didukung oleh doa, kesabaran serta kesetiaan Nurhayati selama bertahun-tahun, adalah kunci kesuksesan pasangan suami istri ini, hingga usaha mereka berdua menjelma menjadi salah satu perusahaan lokal tersukses di tanah Banua.

Dalam bersosialiasi, Haji Leman tidak pernah mengkotak-kotakan seseorang berdasarkan golongan atau latar belakang, beliau selalu berperilaku santun terhadap sesama, tidak pernah berburuk sangka dan selalu menghormati setiap tamu atau lawan bicaranya. Maka tidak heran jika sepanjang hidupnya, Haji Leman senantiasa didaulat sebagai tokoh pemersatu dan yang sosok dituakan masyarakat luas, baik itu dalam permasalahan usaha, politik, organisasi, sampai masalah dalam bermasyarakat. Bahkan sampai dengan akhir hayatnya, Haji Leman masih menjabat sebagai ketua Kerukunan Keluarga Bakumpai pusat.

Di sisi lain, sebagai seorang yang terlahir di keluarga relijius, Haji Leman tidak pernah lupa untuk selalu menjalin tali silaturahmi dengan para pemuka agama, khususnya para pemuka agama Islam. Haji Leman selalu hadir dalam upaya memakmurkan pondok pesantren, masjid, serta turut bersumbangsih dalam hampir setiap kegiatan keagamaan.

Ibnu Sina, Walikota Banjarmasin (2016-2021) dalam buku Menguak Hikmah Kearifan Haji Leman menjelaskan, kedermawanan Haji Leman dalam hal agama, ditunjukkan dengan bantuan yang diberikannya kepada hampir semua masjid yang terdapat di sepanjang Daerah Aliran Sungai Barito, bahkan sampai yang terdapat di pedalaman.

Dirikan Klub Sepak Bola

Nama klub sepak bola Barito Putera bukanlah nama asing bagi para pecinta Liga Divisi I sepak bola Indonesia, namun hanya segelintir yang mengetahui sosok Haji Leman sebagai pendiri dan pemilik klub sepakbola terbesar dari Kalimatan Selatan ini.

Kecintaannya kepada sepakbola sangatlah sukar dicari perbandingannya, bahkan dalam sebuah wawancara, Haji Leman menyatakan: “Kalau aku sudah tak punya harta, tangan ku pun akan ku gadaikan untuk Barito Putera”; itulah bentuk komitmennya yang tidak saja terhadap sepakbola, tetapi juga kepada masyarakat Banua secara lebih luas.

Dalam tulisannya, kapten legendaris kesebelasan Barito Putera (1989-2000), Frans Sinatra Huwae, menyatakan tidak ada seorangpun yang ia kenal yang begitu mencintai sepakbola secara universal seperti halnya Haji Leman. “Beliau tidak saja mencintai bola, tapi bola sudah mengalir di dalam darahnya, karena begitu besar upaya dan keikhlasan beliau dalam membesarkan sepakbola di Banua dan di Indonesia,” katanya.

Dalam menjalankan usaha dan membangun kehidupan pribadinya, pasangan suami istri ini tidak pernah melupakan, alih-alih meninggalkan masyarakat dengan begitu saja. Suatu hal yang sangat jarang dapat ditemukan dalam sosok pengusaha saat ini. Bagi mereka berdua, rizki dan kesempatan yang telah diperoleh merupakan mandat dari Allah SWT agar dapat membantu sesama, serta memakmurkan Islam sebagai agama yang dianut mereka.

 

Dalam sebuah wawancara bersama mantan pimpinan redaksi Media Kalimantan, Almin Hatta, almarhuman Hajjah Siti Nurhayati mengatakan, “ Saya selalu mendorong keluarga saya untuk berbuat sebanyak mungkin kebaikan untuk masyarakat, terutama masyarakat yang kesusahan, masyarakat di sekitar perusahaan, dan tentu saja para tetangga yang kurang berkecukupan.”

 

Untuk dapat menjalankan mandat tersebut, maka didirikanlah Yayasan Hasnur Center sebagai wadah penyaluran untuk memajukan dan membangun Banua, terutama dalam hal sumber daya manusianya, melalui pendidikan dan berbagai macam kegiatan sosial terkait lainnya.

 

Masih jelas dalam ingatan Ir. H Subhan Syarief MT, salah seorang tokoh arsitek senior Indonesia, bagaimana Haji Leman berupaya untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sekolah unggulan dimana 30% dari muridnya adalah mereka yang berasal dari golongan yang tidak mampu. Dan saat itu Subhan pun berpendapat, seandainya para pengusaha sukses di Indonesia mempunyai visi dan cita-cita yang sama seperti aji Leman, maka niscaya kemiskinan tidak akan ditemukan di Indonesia.

 

Dibawah Yayasan Hasnur Center, berdirilah berbagai macam fasilitas pendidikan agar terciptanya generasi muda Banua yang lebih baik dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Serta melalui Yayasan ini pulalah, berbagai macam bantuan kemanusiaan, kegiatan keagamaan, serta berbagai macam bantuan sosial lainnya disalurkan sebagai bentuk perwujudan dari semangat Haji Leman dan Hajjah Nurhayti, yaitu “Tumbuh dan Berkembang Bersama untuk Membangun Masa Depan”.

 

Tidak ada gading yang tak retak, dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Sebagai manusia biasa, tentu masih banyak hal yang belum dapat terlaksanakan, dan masih banyak kekurangan yang terjadi; namun kecintaan H. Leman terhadap Banua, Bangsa dan Negara bukanlah suatu hal yang patut diragukan. Pada 14 Juni 2015, H. Abdussamad Sulaiman HB wafat, dan tak lama setelahnya pada 2 Januari 2016, sang istri tercinta Hj. Siti Nurhayati pun menyusul kepergian beliau. Banuapun bersedih karena telah kehilangan putra-putri terbaiknya. Namun filosofi, dan pandangan kehidupan yang telah dicontohkah oleh kedua tokoh panutan ini akan tetap selalu tinggal, menjadi warisan abadi layaknya mutiara yang tidak pernah redup dalam memantulkan sinar yang menyejukkan.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN