Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Menghidupkan Lagi UMKM Sebagai 'Engine' Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 19 Januari 2021 | 10:00 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id – Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dari jumlah pelaku, serapan tenaga kerja, dan kontribusi terhadap PDB, UMKM terbilang signifikan. Data Kementerian Koperasi dan UMKM menyebutkan, jumlah pelaku UMKM saat ini sebanyak 64,1 juta atau mencapai 99% dari jumlah pelaku usaha yang ada di Indonesia. Tenaga kerja yang terserap pada sektor UMKM mencapai 116 juta dan UMKM berkontribusi 58% terhadap PDB.Namun nilai ekspor UMKM masih terbilang rendah, di angka 16%. Pendemi Covid-19 berdampak besar terhadap UMKM sehingga pemerintah menaruh perhatian yang besar untuk membantu memulihkan sektor ini.

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).
Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UMKM Hanung Harimba Rachman, mengatakan, kebangkitan UMKM merupakan kunci kebangkitan ekonomi karena mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar, di tengah kondisi saat ini dimana jumlah pengangguran meningkat. Dalam rangka mendorong UMKM bangkit Kementerian Koperasi dan UMKM melakukan berbagai hal, di antaranya berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak dan berupaya mewujudkan semangat UU Ciptaker bagi koperasi dan UMKM.

Langkah lain dengan mempercepat akselerasi digital UMKM dan koperasi yang saat ini baru sebanyak 10,2 juta UMKM yang terhubung dalam platform digital. Mengupayakan implementasi kebijakan 40% alokasi belanja kementerian dan lembaga untuk menyerap produk UMKM. Serta penyediaan 30% dari lahan area komersil infrastruktur publik di tempat-tempat promosi untuk pengembangan usaha.

Disampaikan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, salah satu yang menjadi concern Kementerian BUMN adalah mendorong UMKM berperan lebih besar dalam global value chain yang dari berbagai produk yang saat ini baru sekitar 6,3%. Ada tiga tantangan utama yang saat ini dihadapi UMKM yakni capability dalam mengelola usaha, akses kepada pembiayaan, dan akses pasar. Dikatakan Tiko, guna menghadapi tantangan tersebut, dari kacamata BUMN ada tiga pilar untuk membantu pemulihan tersebut. Pertama, meningkatan kapasitas kompetensi usaha. Dalam hal ini BUMN memiliki program yang dinamakan Rumah BUMN dan sudah berjalan beberapa tahun dengan tujuan untuk membuat UMKM naik kelas. “Mulai pemberdayaan dengan tiga tahapan, go modern dengan memperbaiki tampilan dan produk, go digital produk UMKM bisa dijual melalui e-commerce, dan go global, UMKM menembus pasar internasional,” jelasnya dalam sambutan webinar Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional yang diselenggarakan Majalah Investor Beritasatu Media Holding di Jakarta (18/1).

Pilar kedua, dengan akselerasi akses keuangan. Penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) melalui Himpunan Bank-Bank Pemerintah (Himbara) tahun 2020 mecapai Rp 186,6 triliun dengan realisasi melebihi target yakni Rp 188,11 triliun, diberian kepada 5,8 juta debitu. Tahun 2021 Himbara mengajukan plafon KUR sebesar Rp 253 triliun. “Kita terus tingkatkan penetrasi KUR sehingga bisa menjangkau makin banyak masyarakat dan dengan nominal yang makin besar sehingga jumlah UMKM di seluruh Indonesia yang memiliki akses kepada pinjaman murah dengan struktur subsidi pemerintah makin banyak,” papar Tiko.

Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo  dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).
Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Pilar ketiga, Pembetukan ekosistem dan perluasan pasar. Tahun lalu Meneg BUMN telah meluncurkan Pasar digital UMKM (Padi) dimana BUMN menjadi salah satu pembeli utama dari produk-roduk UMKM. Ada sembilan BUMN wajibkan menjadi pembeli di bawah Rp 14 miliar dari para seller UMKM yang di-onboardkan di dalam platform digital. Lebih lanjut Kartika mengatakan, market place ini akan dikembangkan terus dan disambungkan dengan e-procurement BUMN sehingga ke depan BUMN jadi pembeli utama dari produk-produk UMKM dari berbagai sektor, mulai dari ATK, elektronik, catering, furniture, dsb. “UMKM ini engine ekonomi yang sangat besar dan sangat mempengaruhi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, karena itu kami di BUMN sangat fokus dalam mendukung berbagai effort untuk meningkatkan kapasitas, akses kepada keuangan dan pasar produk-produk UMKM,” paparnya.

Direktur Utama PT Bank BRI Tbk (BBRI) Sunarso menyebut, ada dua strategi BRI dalam membangun kembali pertumbuhan UMKM. Terhadap nasabah yang sudah ada (existing) BRI mendorong agar dapat naik kelas, di sisi lain BRI juga memperbesar cakupan nasabah baru dengan mencari pelaku-pelaku usaha pada level yang lebih rendah (ultra mikro).

Agar mampu menjangkau lebih banyak nasabah pada segmen mikro dan ultra mikro tersebut, penerapan teknologi menjadi suatu keharusan agar lebih efisien. BRI pun memiliki konsep Go Smaller (jangkauan pasar seluas-luasnya hingga segmen ultra mikro) Go Shorter (memberikan tenor yang lebih pendek), Go Faster (proses lebih cepat karena menggunakan teknologi), dan Go Cheaper (bunga rendah).

Disampaikan Sunarso, tahun 2020-2022, BRI menawarkan banyak pilihan kredit seperti Kredit usaha pendesaan (Kupedes) senilai Rp 55 juta tenor hingga 5 tahun, Kredit usaha rakyat (KUR) senilai 22 juta tenor hingga 3 tahun, KUR Super mikro 8,7 juta bertenor hingga 2 tahun. selain Kupedes dan KUR, BRI juga menawarkan Pinang (Pinjaman tenang) dengan nilai Rp 6 juta tenor setahun, Kece (kredit cemerlang) plafon sebesar Rp 2,9 juta, dan Ceria (2,5 juta) masing2 6 bulan. Juga ada pinjaman melalui Fintech dan e-commerce dengan nilai 4-7,5 juta tenor 6 bulan.

Guna mendrong nasabah naik kelas, BRI mempersiapkan training dan edukasi dengan cara pemberdayaan UMKM dan dan ada 1,9 juta debitur UMKM naik kelas di BRI Incubator, juga ada Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang memiliki anggota 329.969 orang dan 4.133 pelatihan. Dalam membantu memperluas akses pasar, BRI memiliki BRIlianpreneur , di tahun 2020 mencatat transaksi US$59 juta dengan melibatkan 99 pembeli dari AS, Eropa, Timur Tengah, Jepang, dan Australia. BRI pun menyediakan self assesment yang bisa diisi para pelaku UMKM sehingga bisa mengukur ia berada di level mana dan kategori apa.

Dirut BRI Sunarso (kanan) dalam Webinar Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).
Dirut BRI Sunarso (kanan) dalam Webinar Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Selama pandemi ini banyak masyarakat yang enggan datang ke pasar tradisional karena risiko tertular covid, di sisi lain para pelaku UMKM di pasar juga tetap harus beroperasi, Sunarso menjelaskan, untuk menjembatani persoalan tersebut BRI membuat Web Pasar. Para pelanggan bisa memesan kebutuhan bahan pokok yang ada di pasar melalui aplikasi yang tersedia, dan ada petugas dari BRI yang akan mengantarkan pesanan tersebut. Saat ini ada 4.547 pasar yang memiliki Web Pasar dengan jumlah pedagang terdaftar 108.582 orang. Data kumulatif dari Juli – November 2020 tercatat jumlah transaksi sebanyak 893.197 dengan nominal 48 miliar. Potensi ada 14.182 pasar dengan jumlah pedagang 2.541. 222 pedagang.

BUMN di sektor konstruksi PT Wijaya Karya Persero (Tbk) memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM. Disampaikan Corporate Secretary WIKA Mahendra Vijaya, di tahun 2019 jumlah belanja yang dilakukan WIKA terhadap UMKM mencapai lebih dari Rp 2,2 triliun. Di tahun 2020 belanja tersebut menurun karena dampak Covid-19 menjadi sebesar Rp 1,5 triliunan. “Harapannya di tahun 2021 spending kami terhadap UMKM bisa kembali meningkat lebih dari Rp 2 triliun,” tuturnya.

WIKA fokus pada pengembangan UMKM yang memberikan value kembali ke perseroan, sebagian besar berupa program kemitraan yang dibina, dan sebagian besar berada di sektor jasa sehingga diharapkan program tersebut bisa memberikan kontribusi kompetitif terhadap WIKA yang kemudian WIKA bisa menjamin sustainability bisnis mereka.

Dikatakan Mahendra, di tahun 2020 WIKA sudah menyalurkan lebih dari Rp 27 miliar untuk pengembangan UMKM dan pengembangan tersebut juga bisa mensupport bisnis Wika secara kompetitif Dari pengembangan -pengembangan tersebut lebih dari 37% UMKM. UMKM yang dilakukan pembinaan oleh Wika itu sudah mengalami peningkatan dari yang semula usaha mikro itu bisa naik ke kecil sebesar kurang lebih 20% dan kemudian 17% nya itu sudah naik kelas dari kecil menengah. “Dengan adanya pembinaan terhadap UMKM ini kapasitas UMKM yang yang ada di Indonesia khususnya yang kerjasama dengan WIKA semakin meningkat,” harap Mahendra.

Mahendra Vijaya dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).
Mahendra Vijaya dalam Webinar KebangkitanUMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M Ikhsan Ingratubun memaparkan berdasarkan kajian yang dilakukan asosiasi, selama 2020 UMKM memang mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2019. Sebagai contoh serapan tenaga kerja menjadi 73% dari tahun sebelumnya 96%, jumlah unit usaha menjadi 34 juta unit dari 63 juta, dan kontribusi terhadap PDB menjadi 37,3% dari 60,3%.

Ikhsan menyebut beberapa hal yang menjadi syarat agar UMKM bisa bangkit dari sisi kebijakan pemerintah yakni, perlu untuk melanjutkan stimulus bantuan pemerintah, bantuan tunai dari presiden perlu diperbesar porsinya, pembinaan UMKM yang terarah melalui satu kementerian, pembinaan UMKM yang berkelanjutan dilakukan bersama-sama dengan Asosiasi, serta pengembangan beberapa Digital Platform khusus produk UMKM asli Indonesia.

Berdasarkan data dari Ali Drop, unit usaha dari Ali Express (Ali baba), Ekonom Indef Bima Yudhistira menyebut bisnis yang akan menjadi tren di 2021, dalam konteks produk-produk yang dijual Ali Express di negara-negara berkembang. “Akan ada kebangkitan lagi permintaan komoditas kopi, sawit, cokelat, minyak goreng, vanili, itu momentumnya 2021 mulai meningkat,” ulasnya.

Fenomena menarik, lanjut Bima, komestik juga akan meningkat, meskipun acara-acara seremonial turun tajam selama pandemi, tapi kalangan menengah atas tetap belanja kosmetik untuk ditampilkan di media sosial. Farmasi, urban farming, aksesoris rumah, aksesoris olah raga, gadget, itu juga trennya akan meningkat, termasuk pariwisata. Dikatakan Bima, pariwisata memang terpukul khususnya di Bali, tapi ada pariwisata di Jabodetabek, atau kota-kota besar di Jawa ada tren staycation. “Daripada berlibur yang terlalu jauh, lebih baik berlibur yang jaraknya 2-10 km dari rumah. Kenapa butuh? Karena mereka suntuk di rumah, tapi tidak mau terlalu jauh karena ada rapid antigen dsb,” paparnya.

Dari sisi pertumbuhan e-commerce Indonesia termasuk yang baik karena bertumbuh 30% dan masuk 10 besar negara yang pertumbuhan e-commerce-nya tinggi selama pandemi. Sementara rata-rata dunia pertumbuhan e-commerce-nya 18%.

Webinar Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional ini terselenggara berkat kerja sama Majalah Investor dengan Kementerian BUMN RI, Kementerian Koperasi dan UMKM RI, dan didukung oleh BRI, WIKA, PLN, Telkom, Askrindo, Jamkrindo, PP, dan Waskita Karya.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN