Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani. Sumber: BSTV

Menkeu Sri Mulyani. Sumber: BSTV

Menkeu Berharap Pertumbuhan Ekonomi Semester II Membaik.

Kamis, 9 Juli 2020 | 23:55 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi semester II diharapkan membaik dan stabilitas ekonomi makro terjaga dengan prognosis 0,3% hingga 2,2%.

“Pertumbuhan ekonomi 2020 diproyeksikan untuk dapat tumbuh positif dengan didukung program pemulihan ekonomi nasional,”ujarnya dalam Rapat Panja Banggar, Kamis (9/7).

Ia mengatakan bahwa program stimulus bantuan sosial (bansos) akan mendorong konsumsi masyarakat pada Semester II.

Sementara untuk konsumsi pemerintah pada Semester II diperkirakan akan meningkat sejalan dengan realisasi dari belanja pemerintah pusat dan daerah.

“Investasi Semester II diperkirakan akan tumbuh moderat seiring dengan membaiknya keyakinan investor,”ujarnya.

Kemudian untuk perdagangan internasional diperkirakan masih mengalami kontraksi karena masih rendahnya permintaan global.

Di sisi inflasi pada Semester II prognosisnya sebesar 1,98 hingga 4,03%. Prognosis inflasi pada Semester II meningkat dibandingkan realisasi Semester I sebesar 1,96%.

“Inflasi diperkirakan akan meningkat bertahap seiring pulihnya konsumsi,”jelasnya.

Sementara itu, untuk inflasi inti meningkat sejalan dengan peningkatan permintaan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bertahap. Untuk inflasi pangan masih relatif terkendali, namun masih terdapat risiko fluktuasi harga pangan pada masa tanam.

Dia menjelaskan untuk nilai tukar rupiah dalam prognosis Semester II di kisaran Rp 14.533 hingga Rp 14.950 dan SPN 3 bulan tercatat 3,5 hingga 3,9%.

“Rupiah akan dalam tren menguat sejalan dengan stabilitas ekonomi makro dan arus modal masuk ke dalam negeri namun masih tetap diwaspadai risiko voltalitas pasar keuangan global,”tuturnya.

Kemudian untuk posisi harga minyak pada Semester II masih terdapat risiko volatilitas, karena pengaruh supply dan demand global serta faktor geopolitik. Pada prognosis Semester II diperkirakan US$  21,4 per barel hingga US$ 30,9 perbarel dan untuk lifting minyak diperkirakan 708 ribu barel per hari.

Kemudian lifting gas diperkirakan mencapai US$ 997 ribu barel per hari.

“Lifting minyak akan dioptimalkan untuk mencapai target dengan menjaga keekonomian wilayah kerja, efisiensi biaya, serta mengupayakan proyek-proyek migas yang onstream di tahun 2020 dapat berjalan tepat waktu,”tuturnya.

Proyeksi Semester I

Ia mengatakan pandemi Covid-19 telah berdampak sangat dalam bagi pertumbuhan ekonomi, bahkan pertumbuhan ekonomi  pada Semester I 2020 diproyeksikan akan di kisaran minus 1,1 hingga minus 0,4%.

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada semester I yang minus tak terlepas dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I hanya 2,97%. Angka ini menurun drastis dari rata rata pertumbuhan ekonomi yang biasanya di 5%.

“Penurunan cukup tajam, secara rata-rata pertumbuhan ekonomi kita 5%. Semester I-2020 pertumbuhan diproyeksikan minus 1,1% sampai dengan minus 0,4%," kata dia.

Sementara itu, pukulan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin dalam juga terjadi pada kuartal II karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Kuartal II diperkirakan akan menurun di minus 3,8% atau range minus 3,5 hingga minus 5,1%," jelas dia.

Kendati begitu, ia mengungkapkan tetap optimistis pertumbuhan ekonomi akan membaik di kuartal III maupun kuartal IV- 2020. Lantaran aktivitas masyarakat dan dunia usaha mulai bergerak seiring pelonggaran PSBB.

Setidaknya, kata Sri Mulyani,  pertumbuhan ekonomi kuartal III diharapkan mencapai 0 persen atau positif, tak sampai negatif.

“Pertumbuhan kuartal III dan IV berkisar antara kuartal III minus satu hingga positif 1,2% dan kuartal IV 1,6 hingga 3,2% dari pertumbuhan ekonominya," tandas dia.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dampak Covid-19 dan respon APBN dalam menangani Covid-19 selama semester I terjadi shock luar biasa. Pasalnya hingga saat ini juga ketidakpastian masih tinggi dikarenakan belum ada yang mengetahui kapan pandemic akan berakhir.

“Pertama pandemi Covid yang telah disampaikan dan jadi masalah dunia merupakan tantangan kesehatan yang menular jadi persoalan sosial dan ekonomi serta keuangan. Sehingga telah mengubah arah perekonomian dunia secara dramatis yang mengarah pada kondisi resesi dunia,”jelasnya.

Untuk mencegah tekanan yang semakin dalam terhadap sisi supply dan demand, makanya itu pemerintah meresponnya dengan cepat melalui langkah extraordinary.

“Salah satu langkah extraordinary di dalam merespon kondisi yang menuju kegentingan memaksa akibat terjadinya pademi ini dengan mengerlukan payung hukum sebagai dasar pengambilan kebijakan untuk melakukan langkah extraordinary,”jelasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN