Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Menkeu Berupaya Keras Kembalikan Defisit Anggaran di Bawah 3%

Kamis, 7 Januari 2021 | 14:15 WIB
Tryan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku akan berupaya keras untuk mengembalikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga di bawah 3% pada 2023. Hal ini sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020.

"Sampai hari ini kita tetap kerja dengan basiskan Undang-Undang yang ada. Tetap basis tersebut dan diupayakan maksimal agar bisa jalankan Undang-Undang tersebut," ujar dia, di Jakarta, Rabu (6/1).

Menkeu berharap, proses pemulihan ekonomi dan perbaikan ekonomi terus berlanjut. Menurutnya, untuk memulihkan perekonomian tidak hanya tergantung dari APBN, karena tidak akan cukup untuk mengkompensasi atas menurunnya sisi konsumsi, investasi, serta ekspor dan impor.

“Disampaikan Presiden dalam sidang kabinet juga sangat penting, bahwa kita sadari pemulihan ekonomi tidak boleh dan tidak hanya tergantung pada APBN karena tidak akan cukup kompensasi atas menurunnya konsumsi, investasi , ekspor dan impor yang seharusnya terjadi di masyarakat atau kegiatan produksi di semua sektor,”tuturnya.

Seperti diketahui, di dalam UU tersebut pemerintah diizinkan memperlebar defisit pada 2020 hingga 6,34% dari produk domestik bruto (PDB). Hal tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

"Instruksi presiden ke K/L dan pemda, bahwa kita harus berupaya keras agar investasi meningkat kembali dan momentum itu ada. Di satu sisi capital inflow terjadi lagi dan kita harap tidak hanya inflow untuk surat berharga atau saham, tapi juga inflow FDI yang kemudian bisa jadi salah satu pendorong ekonomi," jelasnya.

Selain itu, ia menilai tren pemulihan mulai terjadi dengan peningkatan sisi ekspor yang terjadi di akhir Desember, sejalan dengan upaya vaksinasi di berbagai negara yang dijadikan momentum pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, ia meyakini peningkatan ekspor akan diimbangi oleh meningkatnya konsumsi.

“Dengan vaksinasi, masyarakat lebih confidence dan aman sehingga kegiatan dari mobilitas mereka tetap berjalan. Tetap gunakan protokol kesehatan dan vaksin, diharapkan ke zona positif,”tuturnya.

Adapun sepanjang 2020, defisit anggaran tercatat Rp 956,3 triliun atau setara 6,09% terhadap PDB. Defisit ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya tercatat Rp 348,7 triliun atau 2,20% terhadap PDB. Menkeu Sri Mulyani mengatakan defisit APBN 2020 lebih rendah Rp 82,9 triliun dari pagu yang ditetapkan dalam Perpres 72/2020 sebesar Rp 1.039,2 triliun atau 6,34 % terhadap PDB. Namun lebih tinggi dibandingkan APBN awal yakni ditargetkan defisit APBN mencapai 1,76% atau Rp 307,2 triliun."Jadi terlihat APBN 2020 awalnya didesain jadi APBN yang sehat untuk mendukung ekonomi,"tuturnya.

Ia menekankan bahwa kenaikan defisit yang signifikan pada tahun ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19. Lantaran pendapatan negara, terutama dari pajak menurun dan pemerintah harus menambah belanja negara untuk penanganan kesehatan dan dampak pandemi terhadap masyarakat dan dunia usaha.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN