Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani

Menkeu Sri Mulyani

Menkeu: Kalau Tak Disubsidi, Harga BBM Naik Dua Kali Lipat

Senin, 27 Juni 2022 | 13:00 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk melindungi masyarakat miskin dan rentan dengan tidak menaikkan harga BBM, LPG 3 kg dan pengguna listrik di bawah 3000 VA meski di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Oleh karena itu, Sri Mulyani menyebut, APBN hadir dengan memberikan tambahan subsidi energi agar tetap menjadi bantalan disaat ekonomi tengah menghadapi tekanan ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga energi dan naiknya inflasi.

Advertisement

"Pemulihan ekonomi dan kesehatan APBN menjadi tujuan itu semua penting, namun lindungi masyarakat. Karena jika tidak, seluruh BMM naik, paling tidak dua kali lipat betul kan? Tapi kami tidak passthrough ke Pertamina dan BUMN makanya subsidi energi harus naik, kami tambah jadi Rp 380 triliun di tahun ini dari on top on Rp 154 triliun,” ungkapnya dalam Webinar Merdeka Belajar, Senin (27/6/2022).

Baca juga: Mentan Tinjau Perkembangan Jagung Dua Tongkol di Gowa

Saat ini, harga BBM jenis Pertalite kini bisa dibeli dengan harga Rp 7.650 per liter. Sementara Pertamax lebih tinggi, yaitu Rp 12.500 per liter. Bahkan pemerintah dan dewan perwakilan rakyat (DPR) dalam APBN 2022 telah mematok harga minyak US$ 65 per barel namun imbas lonjakan harga minyak dunia kini telah mencapai level US$ 120 per barel.

Meski begitu, Sri Mulyani mengatakan, Indonesia beruntung mendapatkan berkah naiknya harga energi global. Khususnya untuk beberapa komoditas andalan Indonesia yang merupakan ekspor andalan. Sehingga ada tambahan pendapatan negara yang cukup besar bisa dialihkan kepada subsidi.

"Jadi subsidi yang dinikmati listrik, ke sini naik mobil, walaupun anda beralasan saya pakai pertamax bu, pertamax itu masih jauh di bawah harga (keekonomian)," jelas Sri Mulyani.

Baca juga: Minyak Bergerak Bullish, Pertemuan G7 Jadi Sorotan

Dengan kebijakan tambahan subsidi energi, maka belanja negara tahun ini diproyeksi capai Rp 3.000 triliun, akibat kenaikan harga energi dan pangan dunia. Sehingga untuk menjaga daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih akibat dampak pandemi, pemerintah menambah anggaran.

"Ini menyebabkan postur APBN dari Rp 2.750 triliun jadi di atas Rp 3.000 triliun," kata Sri Mulyani.

Dengan demikian, ia berharap tidak ada lonjakan inflasi seperti yang dialami banyak negara lain. Pemulihan ekonomi juga dapat berlanjut pasca pandemi covid-19. "Banyak negara sekarang hadapi tekanan luar biasa, politik ekonomi sosial. Karena kenaikan harga minyak energi dan pangan. itu bukan suatu yang sepele," pungkasnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN