Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani  memberikan penjelasan tentang Perkembangan Penerapan PPKM, Rabu (21/7/2021). Sumber: BSTV

Menkeu Sri Mulyani memberikan penjelasan tentang Perkembangan Penerapan PPKM, Rabu (21/7/2021). Sumber: BSTV

Menkeu Paparkan Empat Risiko Pemulihan Ekonomi Global

Rabu, 21 Juli 2021 | 21:03 WIB
Tryan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan adanya empat risiko yang membayangi berlangsungnya pemulihan ekonomi global sejak semester I-2021 terutama di kuartal II dengan munculnya varian delta. Hal ini telah menyebabkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara termasuk Indonesia.

“Meskipun dengan cerita yang positif dan sangat baik pada semester I-2021 namun kami melihat ada risiko yang muncul juga dimulai pada semester I terutama di kuartal II yakni adanya varian delta,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu (21/7).

Risiko pertama yakni terkait kemunculan varian delta yang menimbulkan risiko pengetatan atau restriksi sehingga menghambat mobilitas aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi. Dia menceritakan varian delta sudah muncul di India sejak bulan Maret, April, dan Mei sehingga menimbulkan dampak luar biasa terhadap ekonomi serta masyarakat sekarang telah tersebar di lebih dari 130 negara.

Terlebih lagi, lonjakan kasus Covid-19 varian delta ini juga terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang telah melaksanakan program vaksinasi dalam jumlah sangat besar.

“Jumlah kenaikan Covid-19 melonjak sangat drastis di Indonesia, begitu juga di Amerika Serikat dan Inggris yang telah melaksanakan program vaksinasi dengan jumlah yang sangat besar. Begitu juga di Malaysia, Singapura, dan Thailand, serta Vietnam yang selama ini dilihat sebagai salah satu negara yang efektif menjaga penularan Covid-19,” jelas dia.

Kemudian, risiko kedua adalah pelaksanaan program vaksinasi yang tidak merata antar negara maupun dalam satu negara sehingga menyebabkan pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi tidak seragam.

Dia mengatakan tidak meratanya vaksinasi antara lain karena masyarakat belum berkenan untuk divaksin seperti di beberapa negara bagian di AS maupun memang tidak memiliki akses seperti di negara-negara di Afrika dan Asia.

“Akses vaksinasi dan kemampuan penetrasi vaksinasi menyebabkan risiko karena selama Covid-19 belum bisa ditangani maka dia akan terus melakukan penularan dan bermutasi,” kata Sri Mulyani.

Selanjutnya, risiko ketiga adalah kenaikan inflasi di AS yang dalam dua bulan berturut-turut di atas 5% atau jauh di atas target inflasi AS yaitu sekitar 2%. “Sehingga pertama tentu memukul daya beli masyarakat AS terutama kelompok menengah bawah dan ini juga kemudian mengancam untuk melemahkan pemulihan,” ujar dia.

Tak hanya itu, kenaikan inflasi AS juga menimbulkan berbagai proyeksi pasar terkait prospek langkah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dalam merespon kenaikan inflasi seperti terkait isu kenaikan suku bunga Fed dan kebijakan tapering oleh Fed atau mengurangi pembelian aset-aset atau surat berharga negara dalam perekonomian.

Risiko terakhir, terganggunya supply dan kenaikan inflasi di banyak negara khususnya negara maju yang mempengaruhi kelancaran produksi maupun kenaikan biaya produksi. “Kami melihat berbagai kemungkinan dari sisi supply dan kenaikan inflasi itu terhadap sisi produksi di seluruh dunia,” kata Sri Mulyani.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN