Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sri Mulyani. Foto: IST

Sri Mulyani. Foto: IST

Menkeu Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kembali Capai 5% di Kuartal II 2021.

Selasa, 10 November 2020 | 17:52 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kembali berada kisaran  5% terjadi pada kuartal kedua dan ketiga di tahun 2021. Hal ini seiring dengan akselerasi pemulihan ekonomi nasional yang terus berlanjut.

“Tahun depan kita berharap pemulihan akan berjalan di kuartal  II dan III dan akan menyumbang pertumbuhan ekonomi minimal 5%. Berbagai institusi lain memberikan proyeksi yang lebih optimistis di 2021,” jelasnya dalam diskusi virtual, Selasa (10/11).

Ia mengatakan bahwa indikator pemulihan ekonomi mulai, karena mobilitas aktivitas masyarakat yang mulai agak membaik dan diharapkan terus terjaga. Namun ia menekankan disiplin fiskal masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci utama untuk mencapai pemulihan ekonomi di level tersebut.

“Sehingga kita tetap bisa beraktivitas melakukan kegiatan ekonomi namun tidak menyebarkan Covid. Ini harus dijaga bersama, karena kita sudah melihat buktinya, kalau kita melakukan disiplin kesehatan kita bisa mengatasi penyebaran covid dan ekonomi pulih,” ujarnya.

Lebih lanjut, arah kebijakan ekonomi Indonesia akan tetap dijaga. Untuk tahun 2021, pemerintah akan tetap fokus menangani pemulihan ekonomi sambil terus melihat masalah fundamental ekonomi Indonesia.

"APBN 2021 akan mencari keseimbangan, di satu sisi menjaga sektor kesehatan yang masih penting dan menjadi tantangan terutama untuk potensi penganggaran dari vaksinasi," katanya. 

Tren pemulihan mulai terjadi pada kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal III yang tercatat kontraksi -3,49%. Kontraksi ini sudah lebih baik dibandingkan kontraksi kuartal II tercatat -5,32%.

Bahkan kontraksi ekonomi yang dialami Indonesia masih lebih baik, dibandingkan negara lain seperti India minus 23%, meski begitu, kontraksi ekonomi tetap harus dijadikan tantangan yang serius untuk terus mendorong pemulihan ekonomi nasional.

“Di kuartal III agregat demand menunjukkan pemulihan, konsumsi berbalik, investasi juga berbalik, ekspor menunjukkan pembalikkan, hanya impor yang masih dalam situasi cukup struggle. Kita berharap dengan pemulihan ekonomi global dan optimisme penemuan vaksin, maka ayunan pembalikkan arah ini akan semakin terakselerasi,” katanya.

Sementara itu, secara umum sektor produksi juga menunjukkan pemulihan yang cukup nyata yakni 12 sektor mengalami pemulihan dan 3 sektor memiliki pertumbuhan positif bahkan dalam situasi Covid,  yaitu pertanian, informasi dan komunikasi, jasa keuangan.

Kemudian untuk sektor terdampak Covid sudah mulai menunjukkan pemulihan, dari industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan akomodasi.

“Meski masih di zona negatif namun mereka menunjukkan arah pembalikkan yang cukup solid,” jelasnya.

Dengan demikian, ia memproyeksikan kinerja pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap dalam proyeksi semula yakni minus 0,6% hingga minus 1,7%.

Bangkit 2022

Chatib Basri
Chatib Basri

Sebelumnya, Ekonom Chatib Basri memperkirakan ekonomi Indonesia dapat kembali bangkit di tahun 2022 mendatang yakni setelah pandemi Covid-19 dapat teratasi, maka aktivitas ekonomi akan kembali mengarah ke normal.

“Setelah nanti pandemic bisa diatasi, aktivitas mulai mengarah normal, baru bicara recovery. Jadi, sekarang itu dalam fase  survival. Recovery bisa dilakukan kalau pandemi bisa di-address, karena, kalau pandemic tidak diatasi, Indonesia akan menghadapi skala ekonomi,” ucapnya dalam diskusi daring mendorong investasi saat pandemi di Jakarta, Senin (9/11).

Ia mengatakan bahwa, ketika ekonomi mulai pulih dan normal kembali tahun 2022, diperkirakan investasi swasta baru akan meningkat.

“Jika vaksin butuh waktu 2021, saya tidak yakin investasi swasta naik tajam 2021 karena protokol masih in place karena itu proses recovery di mana investasi naik itu periode setelah kondisi ekonomi mulai normal,” tuturnya.

Bahkan ia mengungkapkan bahwa titik terendah pertumbuhan ekonomi terjadi pada kuartal II 2020 mencapai minus 5,32%, kemudian mulai ada perbaikan di kuartal III menjadi minus 3,49%. Bahkan kinerja ekonomi di kuartal IV belum akan menunjukkan kembali normal lantaran pandemi Covid-19 saat ini masih menjadi masalah.

“Asal selamat aja, yang penting ekonominya tidak terpuruk lah. Kalau pandemi tidak diatasi, Indonesia akan menghadapi skala ekonomi, sebab kapasitas terpasang masing banyak dan dunia usaha gak mungkin beroperasi 100%,”jelasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN