Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi salah satu panelis dalam acara Toronto Centre Live Webinar dengan tema

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi salah satu panelis dalam acara Toronto Centre Live Webinar dengan tema "Post Covid-19 Crisis: Implications for Financial Stability, Financial Inclusion, Gender Equality and International Development", Senin (29/6/2020).

Menkeu: Respons Pemerintah Jadi Kunci dalam Menghadapi Pandemi

Selasa, 30 Juni 2020 | 10:26 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemerintah memiliki peran sangat penting dalam menghadapai dampak pandemi Covid-19. Pasalnya, berbeda dengan krisis keuangan Asia 1998 dan krisis keuangan global 2008, krisis akibat pandemi kali ini berimbas ke hampir semua sektor, baik publik maupun swasta.

Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani saat menjadi salah satu panelis dalam acara Toronto Centre Live Webinar dengan tema Post Covid-19 Crisis: Implications for Financial Stability, Financial Inclusion, Gender Equality and International Development yang berlangsung pada Senin (29/6/2020).

Di antara yang membedakan dengan krisis-krisis sebelumnya, menurut dia, krisis kali karena yang harus dilindungi adalah manusia dan perekonomiannya sekaligus. Untuk membendung penyebaran virus, di antara hal yang harus dilakukan adalah membatasi pergerakan manusia.

“Itu salah satu shock besar karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Jadi, kita harus memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan. Inilah mengapa pemerintah berperan sangat penting”, kata Menkeu. Pemerintah sejumlah negara langsung merespons dengan cepat pandemi ini dengan melakukan penyesuaian anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Menurut Sri Mulyani, pandemi Covid-19 telah memukul perekonomian masyarakat secara luas, termasuk rumah tangga dan pelaku usaha. Oleh karena itu, selain perlindungan sosial, dukungan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, sangat penting.

Ia menambahkan, langkah penting lain yang perlu dilakukan adalah restrukturisasi kredit UMKM, dibarengi dengan subsidi bunga dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja, baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit.

 

Kesetaraan Gender

Menurut Menkeu, banyak pelaku UMKM adalah wanita, sehingga dukungan ini juga sekaligus berdampak pada inklusi keuangan dan kesetaraan gender yang menjadi topik webinar ini.

Satu hal yang berbeda pada krisis kali ini, lanjut Menkeu, adalah adanya pembatasan sosial, namun keberadaan teknologi sangat membantu karena banyak transaksi bisa dilakukan secara online. Terlebih, untuk kasus di Indonesia, episentrum pandemi adalah Jakarta yang masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi.

“Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital,” jelas mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.

Menkeu juga menjelaskan, seputar strategi pembiayaan Indonesia di masa pandemi. Di tengah pandemi yang menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting.

Di Indonesia, ongkos penanganan dampak pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) telah mendongkrak peningkatan defisit terjadi secara dramatis menjadi di atas 6%. Langkah pertama untuk menutup defisit itu adalah melihat sumber pembiayaan yang masih dimiliki. Selanjutnya pemerintah memanfaatkan pasar surat berharga dalam negeri.

“Di samping itu, dimungkinkannya bank sentral untuk membeli dan berpartisipasi di pasar primer juga menjadi satu hal kritikal. Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah,” papar Sri Mulyani seperti dikutip laman resmi Kementerian Keuangan, Selasa (30/6/2020).

Acara live webinar ini dimoderatori oleh Chair of OECD Development Assistance Committee Susanna Moorehead, dengan panelis lainnya yaitu Vice President dan Chief Economist World Bank Group Carmen Reinhart.

Toronto Centre merupakan lembaga nirlaba yang fokus pada capacity building regulasi dan pengawasan sektor keuangan. Lembaga nirlaba ini telah didukung oleh berbagai lembaga donor seperti GAC (Canada), SIDA (Sweden), World Bank, dan IMF.

Toronto Centre telah bekerja sama antara lain dengan lembaga pengawasan sektor keuangan Swedia, Singapura dan menangani beberapa proyek spesifik seperti South East Asian Central Bank Research and Training Center dan ASEAN Insurance Training and Research Institute.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN