Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Menkeu Sebut Pernyataan Trump Pengaruhi Proyeksi Ekonomi

Triyan Pangastuti, Jumat, 13 September 2019 | 10:06 WIB

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pernyataan Trump melalui akun twitter akan menimbulkan reaksi dan gejolak pada perekonomian global, sehingga hal itu akan mempengaruhi ekspektasi pasar dan proyeksi ekonomi.

Ia mengatakan, ketidakpastian global yang berasal dari negara adikuasa seperti AS dan Tiongkok saat ini mencakup beberapa hal, seperti resesi, perang dagang dan selisih perbedaan suku bunga dengan Fed fund rate (FFR). Hal ini akan berdampak pada negara sekitarnya.

“AS dan Tiongkok merupakan dua negara dengan ukuran ekonomi terbesar. Yang dilakukan AS akan memiliki spill over, sebab mereka negara dengan size ekonomi terbesar dan apa yang (dilakukan) akan mempengaruhi sekitarnya atau bahkan dunia,” tutur dia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (12/9).

Menkeu mengibaratkan dua negara ini seperti gajah besar, jika dalam kondisi tidak harmonis maka akan berdampak pada negara lainnya. Salah satu contoh adalah cuitannya (Trump) tentang pengenaan tarif impor produk Tiongkok yang masuk ke Amerika Serikat. Hal ini membuat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin memanas.

Adapun ketidakpastian lainnya terkait dengan brexit yang belum menemui keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Hal ini membuat sistem parlementernya tidak berfungsi dengan hasil putusan yang tidak jelas.

“Mereka tidak tahu lagi sistem demokratik, dengan fungsi sistem terkait parlementer yang tidak berfungsi dan membuat putusan tidak jelas, dan really don’t know how to deal brexit,” ujar dia.

Meski demikian, ia menyampaikan akan tetap mewaspadai perkembangan global yang dapat mempengaruhi ekonomi nasional. Walau begitu, ia mengingatkan tidak perlu terlalu khawatir.

Pasalnya sejak krisis global pada 2008-2009, ekonomi dunia belum sepenuhnya sehat, dengan berbagai kebijakan negara-negara di dunia hampir sama terkait kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif sementara pengetatan di sektor keuangan.

Lanjutnya, dari sisi makro, Indonesia berupaya menjaga agar APBN-nya tetap sehat dengan defisit selalu di bawah 2% dan rasio utang terhadap PDB sekitar 30%.“Kita akan menjaga agar macro policy kita sound dan timely appropriate. Tekanan ketidakpastian global harus terus diwaspadai meski tak perlu khawatir," kata dia.

Menurutnya permasalan saat ini tidak hanya terkait dengan resesi, melainkan juga masalah fundamental, struktural, dan spillover. “Perlu menjaga agar macro policy sound, tentu kita menggunakan setiap rupiah untuk address yang isunya fundamental," kata dia.

Pihaknya memastikan akan terus melakukan komunikasi dan berkoordinasi bersama Bank Indonesia (BI). Pemerintah menggunakan rupiah untuk address isu yang sifatnya fundamental. Disamping itu, Indonesia juga ingin adress isu-isu yang ada saat ini menjadi lebih efektif. Untuk itu, dibutuhkan pendalaman pasar keuangan atau financial deppening. “Jika hanya mengandalkan macro policy kita tidak bisa menyelesaikan masalah secara fundamental,” tegas dia.

 

Ketidakpastian Tinggi

Sebelumnya hal yang sama juga disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. Destry mengatakan, ketidakpastian global yang semakin tinggi ditengah eskalasi perang dagang AS dan Tiongkok dikarenakan tweet yang dilakukan oleh Trump.

“Saat ini ketidakpastian memang tinggi dengan barometer AS, AS mau kemana arahnya, dan AS yang menentukan itu. Trump hanya melalui tweet-nya maka market bergerak,” ujar Destry, di Jakarta.

Menurutnya, volatilitas yang tinggi juga disebabkan oleh ketidakpastian global. Saat ini ketidakpastian dipengaruhi oleh pergerakan ekonomi AS khususnya juga terkait langkah suku bunga Fed fund rate (FFR) kedepan apakah akan turun atau tidak, hal ini juga akan memengaruhi pasar.

Di samping itu, untuk aliran modal asing keluar (capital outflow) menurutnya merupakan hal yang tidak bisa dicegah, lantaran devisa bebas yang dianut oleh Indonesia. Kendati demikian, BI akan memastikan tetap menjaga stabilitas ekonomi dari sisi nilai tukar rupiah.

“Jika sesuai ekpektasi pasar, maka pasar akan bereaksi dengan positif juga. Itu sesuatu yang nggak bisa cegah, karena kan kita devisa bebas, tapi paling nggak kita bisa menciptakan iklim investasi yang kondusif. Jadi harus ada kepastian hukumnya, kebijakannya apakah moneter-apakah fiskal-apakah struktural. Itu on the right track,” ungkap dia.

Dengan berbagai pernyataan yang dilakukan Trump, ia menilai bahwa Trump melakukan hal tersebut untuk menyesuaikan dengan kebutuhan ekonomi AS. Hal ini menyebabkan kondisi gejolak ekonomi dunia akibat perang dagang tidak pernah mereda.

“Ketika (AS) butuh dolar, dia bikin isu negatif buat AS. Dolar melemah, dia beli dolar. Tapi ketika (AS) banyak dolar dan butuh duit, ya dia bikin isu positif soal AS. Akhirnya pasar beli, harga dolar naik,” tutur dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA