Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),  Rabu,13 April 2022

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu,13 April 2022

Menkeu Usul Subsidi Energi Ditambah Rp 74,9 Triliun

Kamis, 19 Mei 2022 | 13:25 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA,investor.id -- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan tambahan anggaran subsidi energi mencapai Rp 74,9 triliun di APBN 2022. Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan harga minyak dunia yang makin jauh dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) tahun ini. Adapun ICP diusulkan naik menjadi US$ 100 per barel dari US$ 63 per barel dalam APBN 2022.

Anggaran subsidi energi dalam APBN 2022 sebesar Rp 134 triliun, dengan usulan tambahan subsidi Rp 74,9 triliun maka anggaran subsidi tahun ini akan menjadi Rp 208,9 triliun.

"Dengan adanya perubahan keekonomian, kalau asumsi ICP US$ 100, maka subsidi energi akan menggelembung menjadi Rp 208,9 triliun atau naik Rp 74,9 triliun," ujar Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Kamis (19/5/2022).

Secara rinci, tambahan subsidi energi untuk BBM dan LPG 3 kg sebesar Rp 71,8 triliun menjadi Rp 208,9 triliun. Sementara tambahan untuk subsidi listrik Rp 3,1 triliun menjadi Rp 59,6 triliun.

Baca Juga: Belanja Subsidi Energi Diproyeksi Bertambah Rp 107,4 Triliun, Beban Fiskal Makin Berat 

Selain tambahan subsidi energi, Sri Mulyani juga mengusulkan tambahan kompensasi Rp 291 triliun di tahun ini. "Jadi subsidi kompensasi kalau harga BBM itu direfleksikan USD 100 per barel, maka subsidi dan kompensasi melonjak sangat tinggi dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 443,6 triliun atau naiknya Rp 291 triliun," jelasnya.

Menurutnya, anggaran kompensasi yang melonjak sangat tinggi karena beberapa barang yang sebelumnya tidak diberi kompensasi. Seperti kompensasi untuk Pertalite yang harganya tidak naik mencapai Rp 114,7 triliun serta listrik sebesar Rp 21,4 triliun.

"Solar kita juga 'meledak' ke Rp 98,5 triliun dan untuk listrik juga Rp 21,4 triliun. Jadi anggaran untuk kompensasi akan melonjak dari tadinya hanya dialokasikan Rp 18,5 triliun menjadi Rp 234,6 triliun atau naik Rp 216,1 triliun," pungkas dia.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN