Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erick Thohir. Foto: IST

Erick Thohir. Foto: IST

Menteri BUMN Antisipasi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Minggu, 5 Januari 2020 | 17:12 WIB
Triyan Pangastuti

TANGERANG, investor.id – Menteri Badan Usaha Miliki Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku, pemerintah telah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya lonjakan harga minyak dunia seiring perkembangan ekonomi dunia sulit diprediksi dan geopolitik yang memanas. Antisipasi ini dilakukan agar tidak timbul beban yang bisa mengganggu keuangan negara maupun kinerja BUMN seperti PT Pertamina (Persero).

Erick mengatakan, antisipasi itu di antaranya dilakukan melalui beberapa langkah seperti membeli minyak langsung dari produsen minyak dunia Total. "Tentu. Kami sudah mulai tender, bukan melalui trader tapi langsung kepada perusahaan penghasil minyak yang selama ini belum dilakukan. Ini langsung ke perusahaan Total, tidak ada perantara,” ujar dia usai meninjau posko penanganan korban banjir di kawasan Tangerang, Banten, Minggu (5/1).

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas menyusul terbunuhnya perwira militer senior Iran Qasem Soleimani oleh tentara Amerika Serikat dipastikan akan mempengaruhi harga dan produksi energi di kawasan tersebut, terutama minyak. Alhasil, cepat atau lambat, hal ini akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut Erick, keputusan membeli minyak langsung dari produsen minyak dinilai bisa memangkas beberapa komponen biaya lainnya dan harga bisa lebih murah. "Jika langsung beli ke perusuhaan minyak maka (biaya) bisa di-cut, memangkas pada margin yang tidak perlu. Salah satunya (kami) tender dengan AS. Harganya jelas lebih murah US$ 5-6 (per barel),” jelas dia.

Langkah antisipasi kedua yang dilakukan pemerintah, lanjut Erick, adalah dengan mengurangi impor minyak. Terkait langkah ini, pemerintah giat mendorong penggunaan biodiesel 30% (B30). Pengurangan impor minyak ini, tandas dia, bukan hanya upaya jangka pendek pemerintah. “Tapi, ini langkah jangka menengah dan panjang yang harus dilakukan, bertahap dengan refinery dan lifting, serta sumur minyak yang ada di Pertamina,” pungkas dia.

Harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari melonjak US$ 1,87 menjadi menetap pada US$ 63,05 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah diperdagangkan setinggi US$ 64,09.

Sementara itu patokan harga minyak lainya, minyak mentah brent untuk pengiriman Maret melonjak US$ 2,35 menjadi ditutup pada US$ 68,60 per barel di London ICE Futures Exchange.

Para pedagang khawatir bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak pada produksi energi di wilayah kaya minyak itu, yang oleh para ahli disebut menyumbang hampir sepertiga dari pasokan minyak global.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN