Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Meski Ada Idul Fitri, Inflasi Mei Tercatat Hanya 0,07%

Arnoldus Kristianus/Nasori, Selasa, 2 Juni 2020 | 11:23 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistk (BPS) melaporkan, inflasi bulanan atau month to month (mtm) pada Mei 2020 yang bertepatan dengan tibanya bulan Ramadan dan perayaan hari raya Idul Fitri tercatat hanya 0,07%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Juni tahun lalu, bulan dimana hari raya Idul Fitri juga berlangsung, yang mencapai 0,55%.

“Kita semua menyadari bahwa situasi tidak biasa, karena Covid-19. Ini menimbulkan ketidakpastian dan membuat pola dari Inflasi pada Ramadan (dan Idul Fitri) kali ini sangat tidak biasa, berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Kepada BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (2/6).

Ia menjelaskan, pada Ramadan dan Idul Fitri biasa permintaan meningkat karena berbagai kebutuhan sehingga memicu inflasi yang tinggi. Tapi, kali ini hal itu tidak terjadi karena situasinya yang memang tidak biasa, yaitu terjadi pandemi Covid-19, bahkan sejumlah daerah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSPB).

Hal ini, lanjut Suhariyanto, juga mengakibatkan inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi rendah yaitu hanya sebesar 2,19%. “Bandingkan misalnya dengan inflasi Juni tahun lalu yang mencapai 3,28%,” ungkap dia. Sementara inflasi tahun kalender dari Januari-Mei 2020 sebesar 0,90%.

Menurut Suhariyanto, berdasarkan pantauan harga sejumlah komoditas di 90 kota di Indonesia, sebanyak 67 kota tercatat mengalami inflasi, sedanglan 23 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan yaitu 1,2% yang diakibatkan oleh kenaikan harga daging ayam ras, iklan, dan bawang merah. “Sedangkan inflasi terendah terjadi di Tannjungpinang, Bogor, dan Madiun yaitu 0,01%,” ucap dia.

Sementara itu, menurut Suhariyanto, angka deflasi tertinggi terjadi di Luwuk yaitu 0,39% dan deflasi terendah terjadi di Manado yaitu 0,01%.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan inflasi Mei akan bergerak sangat rendah, yaitu hanya 0,09% secara month to month (mtm) dan secara tahunan 2,21%. Proyeksi inflasi ini sangat rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi pada bulan puasa tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2019 misalnya, inflasi sepanjang Ramadan sebelum Idul Fitri sebesar 0,68%. Kemudian mengalami perbaikan setelah perayaan Idul Fitri menjadi 0,55%. “Kalau 2018 itu (inflasi Ramadan) 0,59% dan 2017 itu 0,69%. Jadi memang inflasi kita untuk bulan Ramadan tahun ini sangat rendah," tutur Perry.

Menurut dia, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya inflasi yakni berkaitan dengan masa Covid-19 di mana dampak pandemi tersebut berimbas pada merosotnya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa seiring dengan kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat yang juga terganggu.

"Kalau tahun-tahun sebelumnya kita pada bulan Ramadan berbuka puasa tidak hanya di rumah, kadang juga di restoran. Demikian belanjanya juga banyak. Jadi, dengan demikian makanya faktor inflasi dari permintaan itu rendah," urai Perry.

Faktor kedua, berkaitan dengan rendahnya harga-harga komoditas global. Kondisi tersebut mempengaruhi barang-barang yang diimpor sehingga berimplikasi terhadap rendahnya struktur imported inflation. Faktor ketiga, terkait dengan stabilitas nilai tukar rupiah yang tetap terjaga. Sementara itu, faktor keempat adalah terjaganya ekspektasi inflasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN