Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan gedung bertingkat di Jakarta.  Foto ilustrasi ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Deretan gedung bertingkat di Jakarta. Foto ilustrasi ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Meski Minus 1,7%, AMRO: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

Jumat, 30 Oktober 2020 | 09:56 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Lembaga riset regional, Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), memperkirakan ekonomi Indonesia akan terkontraksi -1,7% pada 2020.

Kontraksi ini seiring dengan pembatasan mobilitas untuk mengekang infeksi Covid -19 telah menekan aktivitas ekonomi domestik. Proyeksi ini pun sejalan dengan proyeksi pemerintah pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar- 1,7% hingga minus 0,6%.

Lead Economist AMRO Sumio Ishikawa mengatakan, perekonomian Indonesia tetap tangguh meski terjadi pandemi Covid -19, karena bauran kebijakan dan pemberlakuan langkah-langkah stimulus besar telah memberikan dukungan yang tepat kepada rumah tangga, bisnis, dan sektor keuangan yang terkena dampak, serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan keuangan Indonesia.

“Tingkat kontraksi lebih moderat dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Pemerintah  segera merespons dengan kalibrasi ulang bauran kebijakan dan paket stimulus besar untuk mendukung rumah tangga dan bisnis yang terkena dampak, serta sektor keuangan,”tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Jumat (30/10).

Ia mengatakan bahwa sinergi kebijakan yang suportif dan berkelanjutan, bersama dengan perkembangan pesat vaksin Covid -19. Dengan begitu, diharapkan mendukung rebound dalam pertumbuhan menjadi 5,1% pada tahun 2021.

Lebih lanjut menurutnya data frekuensi tinggi baru-baru ini menunjukkan pemulihan bertahap dalam aktivitas ekonomi dari kontraksi pada kuartal kedua, seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial skala besar (PSBB).

“Menyempitnya defisit transaksi berjalan dan berlanjutnya aliran masuk modal, ditambah dengan inflasi yang terkendali, telah mendukung nilai tukar rupiah yang secara umum stabil. Posisi eksternal cukup kuat dengan cadangan devisa bruto yang mencapai US$135,2 miliar per September 2020,”jelasnya.

Di sisi lain, stabilitas sistem keuangan tetap solid selama pandemi, tercermin dari penyangga modal yang kuat, dan adanya kredit bermasalah.

Bahkan Sumio Ishikawa  mengatakan bahwa disahkannya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja baru-baru ini merupakan terobosan dalam perbaikan iklim investasi dan kemudahan penciptaan lapangan kerja.

“Dengan reformasi regulasi dan de-birokratisasi yang masif, undang-undang tersebut bertujuan untuk memberikan kepastian kebijakan bagi semua pemangku kepentingan dan meningkatkan daya saing jangka panjang Indonesia, sehingga mendukung pemulihan ekonomi nasional,”ujarnya.

Disamping itu, Bank Indonesia juga melakukan kalibrasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi.

“Langkah-langkah ini termasuk memberikan dukungan likuiditas yang substansial ke pasar dan melakukan intervensi tiga kali lipat di pasar spot FX dan pasar domestic non-deliverable forward serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder, untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Sementara itu, di tengah laju inflasi  yang rendah, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dan melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pembiayaan perekonomian.

Risiko dan kerentanan

Kemudian AMRO menilai di tahun depan masih ada risiko yakni gelombang infeksi baru, dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-Tiongkok, telah membayangi prospek global dan dapat berdampak negatif pada ekspor Indonesia.  

Akan tetapi kondisi ekonomi global yang lebih baik dari perkiraan, terutama untuk mitra dagang utama Indonesia, dan ketersediaan awal vaksin Covid-19 dapat memfasilitasi pemulihan yang cepat untuk Indonesia.

Oleh karena itu, Sumio merekomendasikan beberapa kebijakan ke depan yakni melakukan implementasi bauran kebijakan stimulus yang efektif diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi dan pemulihannya di tengah situasi pandemi yang sedang berlangsung.

“Upaya baru-baru ini untuk mempercepat pencairan paket fiskal. Demikian pula, restrukturisasi pinjaman bank dapat diperpanjang untuk mengurangi risiko gagal bayar antara rumah tangga dan bisnis. Sinergi kebijakan yang kuat dan komunikasi yang efektif dengan pasar merupakan hal yang penting,”jelasnya.

Kemudian jalan keluar yang mulus dari langkah-langkah kebijakan luar biasa diperlukan untuk menghindari jurang dan untuk memfasilitasi transisi menuju pemulihan ekonomi penuh.

“Komitmen pemerintah untuk memulihkan aturan fiskal mulai tahun 2023 dan seterusnya akan membantu memperkuat kepercayaan pasar dan membangun ruang kebijakan, pasca pandemi. Pihak berwenang dapat mempertimbangkan rencana konsolidasi fiskal melalui peningkatan penerimaan pajak dan peningkatan efisiensi pengeluaran,” ujarnya.

Kemudian ia menilai bahwa  Bank Indonesia perlu terus berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mempercepat pemulihan ekonomi dengan tetap menempuh bauran kebijakan yang berhati-hati dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.

“Reformasi berkelanjutan di bidang diversifikasi ekonomi, iklim investasi, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia akan memperkuat ketahanan terhadap goncangan di masa depan,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN