Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peluncuran nama baru Holding Industri Pertambangan  menjadi MIND ID

Peluncuran nama baru Holding Industri Pertambangan menjadi MIND ID

Mind Id Siapkan Investasi Rp 25 Triliun

Retno Ayuningtyas, Selasa, 21 Januari 2020 | 14:51 WIB

JAKARTA, investor.id Holding BUMN industri pertambangan atau Mining Industry Indonesia (Mind Id) menyiapkan investasi sebesar Rp 25 triliun untuk mendanai seluruh proyek hilir di anak usaha. Sebagian besar proyek hilir ini ditargetkan rampung paling lambat pada awal 2022.

Direktur Utama Mind Id Orias Petrus Moedak mengatakan, fokus perseroan saat ini yakni mengeksekusi rencana-rencana proyek yang sudah ada. Salah satunya, pihaknya akan memastikan seluruh proyek hilir yang tengah bergulir segera beroperasi sehingga bisa berkontribusi untuk menaikkan laba bersih (bottom line).

"Tahun ini untuk grup, total yang akan di-spend Rp 25 triliun untuk proyek-proyek," kata Orias dalam kunjungan ke Pabrik Aluminium Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Senin (20/1).

Orias Petrus Moedak
Orias Petrus Moedak

Pendanaan kebutuhan investasi ini bersumber dari kas perusahaan dan pinjaman. Sayangnya, Orias enggan merinci besaran masing-masing sumber pendanaan. Dia hanya menyebutkan, kondisi keuangan perusahaan cukup baik dengan total aset Rp 170 triliun dan kas Rp 32 triliun. "Ini kami harapkan proyek-proyek ini, kalau pendanaan tidak masalah bisa dikerjakan," ujarnya.

Mind Id sebagai holding BUMN industri pertambangan menaungi lima perusahaan tambang yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Freeport Indonesia (PTFI), dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Terdapat enam proyek strategis Mind Id. Pertama, PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 di Tanjung Enim, Sumatera Selatan oleh PT Bukit Asam berkapasitas 2x620 megawatt (MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2022. Kedua, pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) Ferronickel Halmahera Timur di Tanjung Buli, Maluku Utara oleh PT Aneka Tambang (Antam) Tbk berkapasitas 13.500 ton per tahun nikel dengan target operasi 2020.

Smelter. Foto ilustrasi: beritasatu.com
Smelter. Foto ilustrasi: beritasatu.com

Selanjutnya, pabrik Smelter Grade Aluminasi Refinery di Mempawah, Kalimantan Barat oleh Inalum dan Antam berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan target operasi kuartal ketiga 2022. Pabrik Gasifikasi Batu Bara menjadi DME di Peranap, Riau oleh PT Bukit Asam, PT Pertamina (Persero) dan Air Product and Chemicals Inc berkapasitas 1,4 juta ton per tahun DME dengan target operasi 2022.

Berikutnya adalah Pabrik Gasifikasi Batu Bara di Tanjung Enim oleh Bukit Asam, Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan target operasi di kuartal pertama 2023. Produk yang dihasilkan yakni urea 570 ribu ton per tahun, polypropylene 450 ribu ton per tahun, dan DME 400 ribu ton per tahun DM.

Terakhir, smelter tembaga terintegrasi dengan fasilitas pemurnian anoda slime menjadi logam berharga oleh PT Freeport Indonesia berkapasitas 2 juta ton per tahun dengan target operasi di 2023. Smelter ini berlikasi di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Jawa Timur.

Dengan banyaknya proyek yang bergulir yang didanai pinjaman, Orias melanjutkan, laba perseroan akan terdampak atau lebih rendah. Sayangnya, dia enggan merinci besaran target laba perseroan pada 2020 ini. Hal ini, menurut dia, sesuai dengan kebijakan perusahaan untuk terus berinvestasi agar perusahaan tetap tumbuh di masa mendatang. Pihaknya akan lebih fokus meningkatkan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA).

"Laba pasti berkurang karena buat bayar bunga. Kami kan pakai duit orang (pinjaman) untuk proyek-proyek ini. Tetapi EBITDA harus naik, tahun ini EBITDA (ditargetkan) Rp 15 triliun," tutur dia.

Namun, Orias optimistis pendapatan perusahaan akan membaik, yakni ditargetkan mencapai Rp 70-80 triliun. Peningkatan pendapatan didorong oleh kenaikan produksi batu bara Bukit Asam dan penambahan penjualan produk Antam. "Sehingga kalau ada efisiensi yang bagus, EBITDA makin bagus," tambah dia.

Dari total target pendapatan, kontribusi sektor hilir diperkirakan sekitar 60-70%. Orias memperkirakan kontribusi dari proyek-proyek hilir yang masih bergulir akan mulai signifikan pada 2021. Pihaknya menargetkan, dengan rampungnya berbagai proyek tersebut, bottom line atau laba bersih perusahaan akan naik minimal 10%. "Kalau Freeport masuk, (bottom line) bisa naik 10 kali," ujar Orias.

Incar Proyek di Kaltara

Selain proyek yang telah berjalan, Orias mengungkapkan, pihaknya berminat menggarap pabrik aluminium di Kalimantan Utara. Namun, pabrik aluminium ini membutuhkan pasokan listrik yang cukup besar. Sehingga, pihaknya harus bekerja sama dengan perusahaan lain yang dapat memasok kebutuhan setrum tersebut.

Saat ini, jelasnya, terdapat satu perusahaan yang memiliki izin untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara. Pihaknya berminat untuk ikut bergabung di proyek PLTA itu guna memastikan pasokan setrum ke pabrik aluminium.

"Kami ditawarkan untuk ikut. Kami melihat kalau lami offtaker listriknya 100%, harusnya kami yang pegang kendali atas perusahaan itu," kata dia.

Menurut dia, keahlian Mind Id memang di smelter. Namun, pihaknya saat ini pun juga mengoperasikan PLTA Sigura-Gura. Dengan demikian, tidak akan menjadi masalah jika perseroan mengelola kedua proyek. "Cuma saat ini kan sudah ada orang lain yang pegang izinnya (PLTA)," ujarnya.

Yang jelas, pihaknya menginginkan dapat menggarap proyek smelter aluminium 100%. Dia tidak ingin kejadian di masa lalu di mana pabrik aluminium di Kuala Tanjung baru berpindah pengelolaan dari Jepang ke Indonesia setelah 30 tahun berselang. "Minat kami, kami sampaikan ke pemerintah, kami mau masuk ke sana," tegas Orias.

Mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), proyek yang dimaksud adalah Greenfield Aluminium Smelter berkapasitas 500 ribu hingga 1 juta ton per tahun. Proyek ini merupakan salah satu proyek yang dikerjasamakan dengan Uni Emirat Arab, di mana Inalum dan Emirates Global Aluminium (EGA) telah menandatangani nota kesepahaman.

Dalam keterangan resmi EGA disebutkan bahwa kedua perusahaan akan mengevaluasi peluang untuk membentuk perusahaan patungan untuk proyek pabrik aluminium tersebut. Kontribusi untuk perusahaan patungan ini bisa berupa layanan terkait teknologi, pasokan bahan baku, dan pemasaran produk.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA