Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ILUSTRASI: Harga minyak dunia turun. ANTARA/Shutterstock/am.

ILUSTRASI: Harga minyak dunia turun. ANTARA/Shutterstock/am.

Minyak Makin Terpuruk, Harganya Turun Lagi 7,7%

Listyorini, Jumat, 27 Maret 2020 | 07:59 WIB

NEW YORK, Investor.id – Makin banyak negara yang melakukan pembatasan (lockdown) untuk memutus penyebaran virus corona (COVID-19), permintaan terhadap minyak makin turun. Harga minyak kembali terpuruk dan pada Kamis (Jumat pagi), rata-rata turun lebih dari satu dolar per barel.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei jatuh US$1,89 atau 7,7% menjadi US$ 22,60 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei merosot US$ 1,05 atau 3,8% menjadi US$ 26,34 dolar AS per barel. Kedua kontrak turun sekitar 60% pada tahun ini.

Harapan atas paket stimulus AS sebesar US$ 2 triliun untuk menghidupkan kembali roda ekonomi, kalah dengan pesimisme pasar terhadap prospek harga minyak. Terlebih lagi belum ada tanda-tanda perbaikan dari konflik antara Arab Saudi dan Rusia terkait pasokan minyak dunia.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, permintaan minyak di seluruh dunia bisa turun sebanyak 20 juta barel per hari atau 20% dari total permintaan. Alasannya, korban COVID-19 makin bertambah. "Sekitar tiga miliar orang saat ini berada di bawah perintah untuk tinggal di rumah karena wabah Virus Corona," katanya, seperti dikutip Reuters.

Menurut John Kilduff, mitra di Again Capital, anjloknya permintaan minyak sekitar 20% itu setara dua kali produksi Arab Saudi yang perlu dihentikan untuk mencoba menyeimbangkan pasar minya.

Harga minyak berjangka Brent terus melemah setelah Departemen Energi AS membatalkan rencana untuk membeli minyak mentah domestik untuk Cadangan Minyak Strategis (SPR). Hal itu karena sebagian anggaran direalokasikan untuk paket stimulus yang lebih luas.

Senat AS akhirnya menyetujui paket stimulus fiskal yang diajukan Pemerintah Trump sebesar US$ 2 triliun untuk mengatasi wabah virus corona (COVID-19). “Ini adalah tingkat investasi masa perang ke negara kita," kata Pemimpin Mayoritas Senat Republik, Mitch McConnell dalam sebuah pidato menanggapi disetujuinya paket tersebut

Gagalnya kesepakatan antara Arab Saudi dan Rusia untuk mengurangi pasongan minyak antara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain, yang dikenal OPEC+, diprediksi akan meningkatkan pasokan minyak di pasar. Arab Saudi berencana untuk mengirim lebih dari 10 juta barel per hari mulai Mei.

Perusahaan-perusahaan minyak dan gas terkemuka di dunia telah memotong pengeluaran sekitar 20%, sementara kilang-kilang minyak memangkas tingkat operasi karena permintaan yang melambat.

Petrobras dari Brazil mengatakan akan menekan kembali produksi minyak dalam jangka pendek sebesar 100.000 barel per hari, menunda pembayaran dividen dan memangkas rencana investasi 2020-nya.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN