Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mobil listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Mobil listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Mobil Listrik Hapus 30% Perusahaan Komponen 

Leonard AL Cahyoputra, Rabu, 14 Agustus 2019 | 06:10 WIB

JAKARTA, Investor.id - Pemerintah gencar mendorong percepatan pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Namun, proyek mobil listrik diprediksi menghapus 30% perusahaan komponen nasional anggota Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (Giamm). 

Sekretaris Jenderal Giamm Hadi Surjadipradja mengatakan, saat ini, anggota Giamm berjumlah 150 perusahaan, baik industri skala besar dan kecil. Meski begitu, dia percaya, masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh industri komponen, yakni dari mobil pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), seperti kendaraan komersial. 

“Mengikuti teknologi baterai EV masih sangat berat, sehingga mungkin kami akan mencari alternatif yang lain," ujar dia di Jakarta, Selasa (13/8).

Hadi menyakini, transmisi kendaraan listrik nantinya tetap sama seperti ICE. Perubahan ada di sisi tenaga penggerak utama, yakni menggunakan motor listrik. Selain itu, mobil listrik tetap akan membutuhkan bodi yang bisa dipasok industri komponen otomotif. 

“Jadi motor penggeraknya saja yang berubah. Jadi, kalau Toyota, ya pasti memakai motor listrik Toyota, Anda mau beli berapapun, tidak akan dijual, mereka pasti brand minded, pasti disesuaikan dengan mobil jenis plug in hybrid dan lainnya," ucap dia.

Hadi menjelaskan, komponen otomotif di era mobil listrik memiliki karakteristik yang sebetulnya lebih sederhana dan ringan. Hal itu mempengaruhi bahan komponen yang bakal digunakan. “Makanya, di mobil listrik, banyak aluminium dipakai, menggantikan baja. Kalaupun memakai baja, ketebalannya berkurang," ujar dia.

Hadi menegaskan, kebutuhan itu harus dipenuhi pemain lokal, sehingga industri dalam negeri diuntungkan dengan mobil listrik. Ini penting agar komponen otomotif dalam negeri tidak tergerus barang impor. "Saat ini, bahan baku yang kita 90% lebih impor," kata dia.

Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik (Mobil Listrik) telah diteken Presiden Joko Widodo, Senin (5/8). Perpres tersebut akan menjadi landasan bagi pelaku industri otomotif di Indonesia untuk segera merancang dan membangun pengembangan mobil listrik. Salah satu poin penting regulasi itu, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mobil listrik minimal 35%. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA