Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang karyawan memantau berbagai instrumen investasi di Global Markets Maybank Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Investor Daily/David Gita Roza)

Seorang karyawan memantau berbagai instrumen investasi di Global Markets Maybank Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Investor Daily/David Gita Roza)

CAPITAL INFLOW CAPAI RP 7,74 TRILIUN

Modal Asing Masuk ke SBN Tiga Pekan Berturut-turut

Minggu, 14 Agustus 2022 | 17:32 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Investor asing kembali membukukan beli bersih (nett buy) terhadap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar keuangan domestik pada pekan ke-2 Agustus, tepatnya periode 8 – 12 Agustus 2022, yaitu sebesar Rp 4,29 triliun. Ini merupakan beli bersih minggu ke-3 secara berturut-turut oleh investor asing di pasar SBN domestik, setelah hampir dua bulan selalu mengalami jual neto (net sell).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono memaparkan, pada periode yang sama, investor asing juga melakukan beli bersih di pasar saham yaitu sebesar Rp 3,44 triliun. “Sehingga, berdasarkan data transaksi 8 – 11 Agustus 2022, total dana asing yang masuk (capital inflow) di pasar keuangan domestik mencapai Rp 7,74 triliun,” ujar Erwin dalam keterangan tertulisnya, pekan lalu.

Berdasarkan catatan BI, sebelumnya beli neto oleh investor asing terhadap SBN di pasar keuangan domestik terakhir kali terjadi pada pekan ke-5 Mei 2022 atau tepatnya pada periode 30 Mei - 2 Juni 2022 yakni sebesar Rp 5,94 triliun. Kemudian, asing kembali menyambangi SBN pada pekan ke-4 Juli 2022 dan berlanjut pada pekan ke-1 Agustus 2022, masing-masing sebesar Rp 3,28 triliun dan Rp 3,42 triliun.

Namun demikian, Erwin menyebutkan bahwa secara keseluruhan, sejak Januari hingga 11 Agustus 2022, investor asing masih membukukann jual neto atau capital outflow senilai Rp 126,1 triliun. Pada periode yang sama, investor asing di pasar saham membukukan beli bersin sebanyak Rp 58,2 triliun.

Dengan derasnya aliran modal asing yang masuk, BI mencatat, nilai tukar rupiah berhasil dibuka menguat sebesar 35 poin pada Jumat (12/8/2022) pagi menjadi Rp 14.730 per dolar AS, dari sehari sebelumnya yang ditutup di level Rp 14.765 per dolar AS. Berbanding terbalik dengan kurs Garuda, indeks dolar AS justru tercatat melemah ke level 105,09.

Sementara itu imbal hasil atau yield SBN Indonesia tenor 10 tahun menurun dari 6,98% menjadi 6,91%. Meski demikian, jarak yield SBN RI tersebut masih cukup jauh dari yield obligasi AS tenor 10 tahun yang naik ke level 2,888%.

Erwin menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.

Global Bond

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman sebelumnya mengatakan, Kemenkeu akan kembali menerbitkan dua obligasi global atau global bond hingga akhir 2022, jika mengikuti rencana yang sudah ada di dalam pipeline.

"Implementasi penerbitan obligasi global ini akan fleksibel, baik dari segi waktu, besaran, dan mata uangnya," kata Luky dalam Konferensi Pers: APBN KiTa Agustus 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Maka dari itu, ia menekankan akan terus melihat kondisi pasar, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta risiko yang akan dihadapi, barulah akan dituangkan penerbitan obligasi global dalam bentuk keputusan.

Dalam menerbitkan obligasi global, pemerintah selalu mempertimbangkan dan memperhatikan beberapa hal, misalnya kondisi APBN, kebutuhan pembiayaan, kondisi dalam negeri maupun luar negeri, serta kondisi pasar.

Menurut Luky, kondisi global saat ini masih penuh tantangan dan diliputi ketidakpastian serta volatilitas, sehingga penerbitan obligasi global selanjutnya akan bersifat lebih oportunistik, fleksibel, tetapi tetap berhati-hati.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam kesempatan yang sama menyebutkan penerbitan obligasi atau SBN pada tahun ini kian menurun, dengan penerbitan obligasi global yang menyesuaikan kondisi pasar yang volatil dan kondisi kas yang masih cukup berlimpah.

Dengan demikian, realisasi pembiayaan melalui utang selama periode Januari hingga Juli 2022 turun 49,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) dari Rp 468,8 triliun menjadi Rp 236,9 triliun. "Ini artinya APBN makin diupayakan kesehatannya," tegas Sri Mulyani.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com