Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Nataru, Garuda Sediakan 970 Ribu Kursi Pesawat

Thereis Kalla, Selasa, 26 November 2019 | 13:01 WIB

Jakarta, Investor.id - Maskapai Garuda Indonesia menyediakan kapasitas 970.266 kursi pesawat selama masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020. Jumlah tersebut terdiri atas 967.771 kursi reguler dan 2.495 kursi tambahan Nataru 2020.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah menyebutkan, ada 10 rute penerbangan domestik terlihat mulai diminati masyarakat untuk masa angkutan Nataru 2020. Rute-rute itu, antara lain Jakarta-Denpasar, Jakarta-Medan, Surabaya-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Labuan Bajo, dan Jakarta-Semarang.

"Secara keseluruhan, memang tren penjualannya belum terlalu banyak karena datanya diambil 24 November 2019. Tapi, ini terus bergerak, nanti setelah masa gajian kemungkinan akan terus mengalami kenaikan," ungkap Pikri di Jakarta, Selasa (26/11).

Per 24 November 2019, penjualan tiket terbanyak dialami rute penerbangan Jakarta-Denpasar sebanyak 26.863 tiket terjual, Jakarta-Medan 9.902 tiket, Surabaya-Denpasar 7.469 tiket, Jakarta-Yogyakarta 5.488 tiket, dan Jakarta-Surabaya sebanyak 3.533 tiket.

Lebih jauh, Pikri menyampaikan, beberapa rute juga mengalami lonjakan apabila dilihat dari kapasitas yang disediakan, seperti Jakarta- Labuan Bajo dari 5.832 kursi yang disediakan sudah terjual 57%, Jakarta-Danau Toba terjual 51% dari 993 kursi yang disediakan, serta Jakarta-Sorong terjual 46% dari 5.436 kursi tersedia.

Pikri menyebutkan, untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, pihaknya mengutamakan kebijakan mengganti pesawat berbadan sedang dengan pesawat berbadan lebar. Hal itu lebih efektif karena maskapai tak perlu mengajukan penerbangan tambahan.

"Dengan strategi bigger aircraft, bandara juga tidak padat dari segi take off landing sehingga kelancaran di bandara terjaga. Misalnya, di Bandara Soekarno Hatta itu (kapasitas idealnya) 80 flights per jam kalau ada extra flight 5 saja itu agak berat mengaturnya sehingga bisa sebabkan delay," jelas Pikri.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA