Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BPS

BPS

Neraca Dagang Januari 2020 Tekor US$ 860 Juta

Senin, 17 Februari 2020 | 13:07 WIB
Triyan Pangastuti

Jakarta, investor.id-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan periode Januari 2020 masih mengalami defisit sebesar US$ 860 juta. Meski begitu, nilai ini lebih kecil dibandingkan defisit Januari 2019 yang sebesar US$ 1,06 miliar. Defisit Januari 2020 masih lebih besar dibandingkan Januari 2018 yang tercatat US$ 0,76 miliar, bahkan pada Januari 2017 surplus sebesar US$ 1,42 miliar dan Januari 2016 surplus US$ 50,6 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, komponen impor pada Januari mencapai US$ 14,28 miliar, sedangkan ekspor hanya mencapai US$ 13,41 miliar atau turun 7,16%.  Realisasi ekspor dan impor tersebut turun dibandingkan bulan lalu maupun periode yang sama tahun lalu. “Pemerintah kini sudah membuat berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan untuk memperbaiki neraca dagang, di antaranya penerapan B30” ," tuturnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (17/2).

Oleh karena itu, ia berharap dengan berbagai kebijakan yang telah bergulir mulus di lapangan sehingga neraca dagang dapat membaik dan jadi surplus. Adapun rincian defisit pada Januari 2020 dikarenakan adanya defisit migas hingga US$ 1,18 miliar, sedangkan  nonmigas mengalami surplus US$ 0,32 miliar. Ekspor migas pada Januari tercatat sebesar US$ 0,81 miliar, anjlok 28,73% dibandingkan bulan sebelumnya atau 34,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor nonmigas turun 0,53% dibanding Desember atau 0,69% dibanding Januari 2018 menjadi US$ 12,61 miliar. “Ekspor kita masih naik ke sejumlah negara seperti Thailand, Filipina, dan Taiwan. Sedangkan ke Tiongkok, India, Malaysia, Vietnam, dan Korea Selatan turun," jelas dia.

Apabila dibandingkan dengan Desember 2019, neraca dagang bulan lalu lebih dalam. Pada Desember defisitnya adalah US$ 28,20 juta. Hal ini dipengaruhi penurunan harga minyak mentah. “Selama Desember hingga Januari 2020, tentu saja banyak perkembangan harga yang terjadi misalnya harga minyak mentah di Indonesia selama bulan Desember 2019, ke Januari 2020 mengalami penurunan 2,68%, karena ICP pada Desember 2019 mencapai US$ 67,18 per barel dan turun ke angka US$ 65,38 per barel Januari” ujarnya.

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN