Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

PEMERINTAH TINGKATKAN KINERJA EKSPOR

Neraca Dagang Oktober 2019 Surplus US$ 161 Juta

Arnoldus Kristianus, Sabtu, 16 November 2019 | 23:07 WIB

JAKARTA, investor.id  – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2019 surplus sebesar US$ 161 juta. Surplus neraca dagang ini di luar ekspektasi, namun secara kumulatif Januari-Oktober masih mencatatkan defisit US$ 1,79 miliar.

Surplus neraca dagang pada Oktober 2019 terjadi karena nilai ekspor yang mencapai US$ 14,93 miliar dan impor US$ 14,77 miliar. Sektor nonmigas mencatatkan surplus sebesar US$ 990,5 juta, sementara sektor migas defisit US$ 829,2 juta.

“Pergerakan neraca perdagangan pada tahun 2019 ini cenderung flat. Surplus dan defisit berada dalam posisi angka yang kecil. Agak berbeda jauh dibandingkan dengan posisi tahun 2018,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/11).

Neraca perdagangan Indonesia
Neraca perdagangan Indonesia

Menurut Suhariyanto, tantangan ke depan luar biasa karena perekonomian melambat dan fluktuasi harga komoditas. “Benar-benar tantangan yang luar biasa dan harus dipikirkan langkah kebijakan yang tepat ke sana,” ujar dia.

Suhariyanto menambahkan, kondisi yang ideal yaitu ketika ekspor meningkat saat impor menurun. Tetapi pada Oktober 2019 mengalami surplus US$ 161,3 juta tentunya akan menolong neraca perdagangan domestik.

“Defisit secara kumulatif jauh lebih kecil dari Januari-Oktober 2018, tentunya kita bisa melihatnya dari berbagai angle apa yang bagus dan menjadi PR (pekerjaan rumah),” ucap Suhariyanto.

Upaya Pemerintah

 Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonoman Airlangga Hartarto mengatakan, perbaikan neraca perdagangan pada Oktober 2019 utamanya disumbangkan oleh surplus non-migas sebesar US$ 990,5 juta, meski pada saat yang sama sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 829,2 juta. Hal ini menunjukan program yang dijalankan oleh pemerintah berada pada arah yang benar

“Realisasi nilai ekspor pada Oktober 2019 melebihi ekspektasi yang diperkirakan banyak pengamat. Pemerintah pun akan mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan kinerja ekspor, salah satunya dari sisi kemudahan dan penyederhanaan proses perizinan dan investasi melalui Omnibus Law,” ucap Airlangga.

Pada sisi yang lain, nilai impor pada Oktober 2019 mencapai US$ 14,77 miliar atau naik 3,37% (mtm) dibandingkan bulan lalu, meskipun dibandingkan Oktober 2018 turun signifikan sebesar 16,39% (yoy).

“Berbagai langkah yang sedang dan akan diambil pemerintah Indonesia saat ini diharapkan dapat menurunkan angka impor ke depan, di antaranya pemberlakukan Mandatori B30,” ucap Airlangga.

Pada November 2019 akan mulai dilakukan uji coba (trial) penggunaan B30 di sektor transportasi. Hasil road test sementara kendaraan bermesin diesel yang akan difinalisasi dalam waktu dekat menunjukkan bahwa bahan bakar (B20 dan B30) telah memenuhi spesifikasi parameter short test, yakni kadar FAME, kadar air, viskositas, densitas, angka asam.

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Selain itu, penggunaan B20 dan B30 tidak memperlihatkan perbedaan dampak yang signifikan terhadap daya kendaraan.

“Maka, pada saat implementasi Mandatori B30 dilaksanakan secara formal pada 1 Januari 2020, diproyeksikan akan terjadi penghematan devisa sebesar US$ 4,8 miliar sepanjang 2020,” ucap Airlangga.

Langkah lain yang akan dilakukan pemerintah dalam upaya menekan impor dan penghematan devisa antara lain revitalisasi Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) untuk mensubstitusi produk impor petrokimia, pengembangan program gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai upaya substitusi Liquified Petroleum Gas (LPG), dan pengembangan green refinery.

“Kesemuanya ini merupakan bagian dari quick wins pemerintah dalam upaya memperkuat neraca perdagangan Indonesia,” ucap Airlangga.

Ekonomi yang juga Rektor UI Ari Kuncoro saat berkunjung ke kantor redaksi Investor Daly di Beritasatu Plaza, Jakarta, Rabu malam (9/10/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Ekonomi yang juga Rektor UI Ari Kuncoro saat berkunjung ke kantor redaksi Investor Daly di Beritasatu Plaza, Jakarta, Rabu malam (9/10/2019). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Di sisi lain, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro menilai surplus terjadi dari adanya ekspektasi positif akan terjadinya kesepakatan dagang antara Amerika dan Tiongkok. Hal ini menyebabkan orang-orang yang membeli barang Indonesia di luar negeri biasanya minyak sawit mulai menyiapkan cadangan lagi.

“Sebanarnya ini masih sangat riskan karena semua tergantung ekspektasi perjanjian damai dagang antarar Amerika dan Tiongkok. Kalau perang dagang masih terjadi maka sampai akhir tahun 2019 masih akan tejadi defisit,” ucap Ari Kuncoro ketika dihubung lewat sambungan telepon, kemarin.

Ari mengungkapkan, pemerintah belum bisa melakukan diversifikasi pasar ekspor. Produk yang diekpsor juga sebagian besar berasal dari komoditas, baru diikuti manufaktur dan jasa. Untuk mengantisipasi defisit neraca perdagangan maka pemerintah harus melihat jenis neraca yang lain yaitu neraca pariwisata.

Kondisi neraca pariwisata yang masih positif dinilai akan meningkatkan pemasukan bagi negara. Pemerintah juga harus mengoptimalkan pendapatan sekunder yaitu pendapatan dari TKI dikurangi pendapatan orang asing yang tinggal di Indonesia. Ini juga bisa menjadi sumber pemasukan sehingga ada kompensasi terhadap defisit neraca perdagangan.

“Surplus yang dijadikan sinyal, Investor masuk karena meliaht adanya likuiditas yang menjanjikan saat ingin memasukan modal ke Indonesia. Kalau rupiah tidak bergerak jauh uang masuk dan uang keluar seimbang, “ ucap Ari Kuncoro.

Ia mengatakan pemerintah juga sebenarnya sudah mulai melakukan pengaturan impor. khususnya untuk impor oleh BUMN. Impor diatur sedemikian rupa sehingga melihat dari kondisi ekspor.

“Saat ekspor jeblok BUMN tidak langsung mengimpor banyak istilah akademisnya smoothing melakukan penghalusan, Tidak sekaligus impor tetapi bertahap ini sebenarnya membantu menciptakan surplus, “ tutup Ari.

Ekspor

Neraca perdagangan bulanan
Neraca perdagangan bulanan

Nilai ekspor pada Oktober 2019 mencapai US$ 14,93 miliar, atau naik 5,92% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan secara year on year (yoy) ada penurunan 6,13%. Ekspor nonmigas mencapai US$ 14,01 miliar, naik 5,56% dibandingkan September 2019.

Sementara ekspor migas naik 11,58%, dimana ekspor hasil minyak turun, sementara nilai minyak mentah dan gas mengalami kenaikan. “Sumbangan ekspor nonmigas di bulan ini (Oktober) mencapai 93,8%. Jadi kalau kita lihat sumbangan nonmigas meningkat karena ekspor nonmigas cenderung menurun beberapa bulan terakhir,” ucap Suhariyanto.

Secara kumulatif, total ekspor Januari- Oktober mencapai US$ 139,11 miliar atau turun 7,8% jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Menurut sektor, ekspor nonmigas industri pengolahan meningkat dari bulan lalu sebesar 4,56%. Sedangkan secara yoy turun 2,49%.

“Sebab ada penurunan ekspor minyak kelapa sawit, penurunan ekspor barang perhiasan dan barang berharga, kimia organik serta pakaian jadi dari tekstil,” ucap Suhariyanto.

Sementara itu, ekspor sektor tambang meningkat 12,61% dari bulan lalu dan turun sebesar 3,73% secara yoy. Komoditas yang mendorong kenaikan porsi ekspor adalah batu bara, biji logam lainnya dan biji besi. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu pertanian sebesar 4,64% dari September 2019, namun meningkat sebesar 7,38% dibandingkan periode sama tahun 2018.

“Ekspor pertanian ini yang turunnya cukup tajam dari mtm (month to month) di antaranya adalah tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah. Kemudian penurunan ekspor, sayuran, kopi dan tembakau. Jika dilihat secara tahunan kenaikan 7,38% ini disebabkan kenaikan harga kopi, sarang burung, buah buahan, dan biji kakao,” ucap Suhariyanto.

Dilihat dari negara tujuan ekspor, ekspor nonmigas Oktober 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,77 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,53 miliar dan Jepang US$ 1,24 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 39,55%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,22 miliar. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari– Oktober 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 25,31 miliar (18,20%), diikuti Jawa Timur US$ 15,56 miliar (11,18%) dan Kalimantan Timur US$ 13,75 miliar (9,89%).

Impor

Seorang pekerja dalam pabrik migas. Foto ilustrasi: IST
Seorang pekerja dalam pabrik migas. Foto ilustrasi: IST

Sementara itu, nilai impor di bulan Oktober mencapai US$ 14,77 miliar atau naik 3,57% dibanding September 2019, namun jika dibandingkan Oktober 2018 turun 16,39%. Impor nonmigas Oktober 2019 mencapai US$ 13,02 miliar atau naik 2,73% dibanding September 2019, namun jika dibandingkan Oktober 2018 turun 11,75%. Impor migas Oktober 2019 mencapai US$ 1,76 miliar atau naik 10,26% dibanding September 2019 dan turun 39,82% dibandingkan Oktober 2018.

Peningkatan impor nonmigas terbesar pada Oktober 2019 dibanding September 2019 adalah golongan mesin/ peralatan listrik sebesar US$ 122,8 juta (7,26%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin/ pesawat mekanik sebesar US$109,9 juta (4,65%).

Sementara itu nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari-Oktober 2019 mengalami penurunan dibanding periode sama tahun sebelumnya masing-masing 8,31%, 11,19%, dan 4,94%.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari– Oktober 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$ 36,32 miliar (29,46%), Jepang US$ 13,28 miliar (10,77%), dan Thailand US$ 7,92 miliar (6,42%). Impor nonmigas dari Asean US$ 24.343,6 (19,75%), sementara dari Uni Eropa US$ 10.214,1 (8,29%).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA