Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Neraca Perdagangan April Surplus US$ 2,19 Miliar

Kamis, 20 Mei 2021 | 12:34 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 2,19 miliar pada April 2021. Surplus pada bulan April ini semakin menguat selama Januari sampai April 2021.

Bila ditelisik lebih jauh neraca perdagangan Indonesia sudah mengalami surplus  selama 12 bulan terakhir. Bila dilihat dari komoditasnya, komoditas nonmigas yang menyumbang surplus terbesar pada bulan April ini adalah lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi baja.

“Pada bulan April tahun 2021 ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 12 bulan berturut-turut, atau sejak bulan Mei tahun 2020,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam telekonferensi pers pada Kamis (20/5).

Pada April 2021 ini nilai ekspor mencapai US$  18,48   miliar sedangkan impor mencapai  US$ 16,29 miliar.  Ekspor mengalami kenaikan tipis 0,69% dari bulan sebelumnya dan tumbuh tinggi mencapai dan 51,94% dari periode yang sama tahun 2020.   Sedangkan impor pada bulan April turun 2,69% dibanding Maret atau naik 29,93% dibanding April 2020.

Suhariyanto mengatakan dengan porsi kenaikan ekspor sebesar 51,94%  dan impor naik 29,93% dari periode yang sama tahun 2020 menunjukan pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi dari impor. Diharapkan surplus neraca perdagangan pada bulan April 2021 ini bisa terus berlanjut baik karena peningkatan performa ekspor maupun naiknya harga komoditas.

Surplus neraca perdagangan juga sejalan dengan naiknya Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan April 2021  menjadi  54,6 dari angka 53,2 pada bulan Maret 2021. Hal ini menunjukan pemulihan ekonomi nasional akan terjadi pada tahun 2021.

“Hal yang perlu dijadikan catatan bahwa proses pemulihan ekonomi akan berbeda antar region, sektor dan subsektor. Sehingga kita perlu memberikan perhatian khusus pada sub sektor yang masih mengalami pemulihan yang agak lama,” kata Suhariyanto.

Bila dilihat secara kumulatif neraca perdagangan dari Januari ke April 2021 mengalami surplus sebesar US$ 7,72  miliar. Surplus yang besar ini sangat menggembirakan, sebab menunjukan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada periode Januari-April 2020 terjadi surplus sebesar US$ 2,22 miliar.

Sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 dan 2018 terjadi defisit sebesar US$ 2,28 miliar dan US$ 1,41 miliar.

Suhariyanto mengatakan  performa neraca perdagangan harus dipertahankan dan perlu kerjasama yang erat dari berbagai pihak untuk menggerakan semua sektor di dalam negeri guna memulihkan perekonomian nasional.

“Kuncinya ada di penanganan covid pemerintah  sudah menggerakkan program vaksinasi dan kita semua tetap harus mematuhi protokol kesehatan,” kata Suhariyanto

Suhariyanto mengatakan selama bulan April neraca perdagangan mengalami surplus dengan beberapa negara.  Pertama surplus dengan Amerika Serikat sebesar US$ 1,2 miliar.  Posisi ekspor mencapai US$ 2 miliar dan impor US$ 815,3  juta. Kedua yaitu dengan Filipina dimana ekspor sebesar US$  650,1 juta dan impor sebesar US$  96   juta  sehingga surplus US$  554,1 juta Ketiga yaitu dengan  India dimana terjadi surplus sebesar US$  439,9 juta dengan posisi ekspor sebesar  US$ 1,1 miliar dan impor US$ 679,6 juta.

Sementara itu defisit terbesar terjadi dengan Tiongkok sebesar US$ 652,1  juta posisi impor mencapai US$ 4,5 miliar sedangkan ekspor hanya US$ 3,9 miliar. Berikutnya yaitu Indonesia defisit  dengan Australia sebesar US$ 418,3  juta, nilai ekspor mencapai US$ 225,7 juta dan impor sebesar  US$ 644 juta. Ketiga yaitu dengan  Thailand yang mengalami defisit  US$ 248,1 juta dimana posisi  ekspor sebesar US$ 520,2 juta dan impor sebesar US$ 768,3 juta. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN