Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS, Suhariyanto

Kepala BPS, Suhariyanto

Nilai Tukar Petani Februari 2021 Turun 0,15%

Senin, 1 Maret 2021 | 13:25 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2021 sebesar 103,10, turun 0,15% dibanding NTP bulan sebelumnya yang sebesar 103,26.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, penurunan NTP ini dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,06%, lebih rendah dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,21%.

NTP sendiri merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

“NTP di Februari 2021 ini sebesar 103,10, turun sedikit dibandingkan posisi Januari 2021 lalu, di mana penurunannya sebesar 0,15%,” kata Suhariyanto dalam pemaparan NTP Februari 2021, Senin (1/3/2021).

Jika dilihat per subsektor, Suhariyanto mengatakan penurunan NTP Februari 2021 dipengaruhi oleh turunnya NTP di dua subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,84% dan Subsektor Peternakan sebesar 0,33%. Sementara itu, NTP pada tiga subsektor lainnya mengalami kenaikan, yaitu Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 1,83%; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,35%; dan Subsektor Perikanan sebesar 0,30%.

Dari 34 provinsi, sebanyak 22 provinsi mengalami penurunan NTP, sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP. Penurunan NTP tertinggi pada Februari 2021 terjadi di Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 1,20%, sedangkan kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,02%.

Menurut Suhariyanto, penurunan terbesar NTP di Provinsi Papua Barat disebabkan oleh penurunan pada Subsektor Tanaman Hortikultura khususnya komoditas cabai rawit yang turun sebesar 9,04%. Kenaikan tertinggi NTP di Provinsi Sumatera Selatan disebabkan oleh kenaikan pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat khususnya pada komoditas karet yang naik sebesar 3,24%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN