Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani di kebunnya. Foto ilustrasi: IST

Petani di kebunnya. Foto ilustrasi: IST

Nilai Tukar Petani Naik 0,58% pada Oktober 2020

Senin, 2 November 2020 | 20:11 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai tukar petani (NTP) pada Oktober 2020 mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya. NTP bulan ini berada di angka 102,25 atau naik sebesar 0,58% dari September 2020.

“Menurut subsektornya, hampir seluruh  subsektor mengalami kenaikan kecuali tanaman pangan dan peternakan yang mengalami penurunan,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (2/11).

Kepala BPS Suhariyanto. Sumber: Humas BPS
Kepala BPS Suhariyanto. Sumber: Humas BPS

NTP tanaman pangan turun 0,1%, karena harga yang diterima petani itu naik 0,12% sementara harga yang dibayar petani naiknya lebih tinggi 0,22%. 

Peningkatan indeks harga yang diterima petani pada Oktober 2020 disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok padi sebesar 0,25% sedangkan kelompok palawija (khususnya komoditas ketela pohon dan kacang tanah) mengalami penurunan sebesar 0,41%.

Peningkatan indeks harga yang harus dibayar sebesar 0,22% disebabkan oleh kenaikan Indeks Kelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,24% dan kenaikan Indeks Kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,13%.

“Ini yang menyebabkan NTP tanaman pangan turun tipis,” imbuh Suhariyanto.

Sementara untuk NTP Hortikultura (NTPH) naik 2,1% karena indeks harga yang diterima petani lebih besar dari yang dibayar petani. Karena ada kenaikan beberapa komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah dan juga beberapa jenis sayuran.

Peningkatan pada Oktober 2020 disebabkan oleh naiknya indeks harga yang harus diterima pada seluruh kelompok penyusun NTPH yaitu kelompok sayur-sayuran (khususnya komoditas cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit) sebesar 3,23%; kelompok buah-buahan (khususnya komoditas jeruk dan apel) sebesar 0,03%; dan kelompok tanaman obat (khususnya komoditas jahe) sebesar 1,32%.

Peningkatan indeks harga yang harus dibayar sebesar 0,16 %  yaitu dari 105,73 menjadi 105,90 disebabkan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,17% dan kenaikan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,13%.

Untuk NTP tanaman perkebunan rakyat (NTPR) juga mengalami kenaikan 1,72% karena indeks harga yang diterima petani naik lebih besar dari yang dibayar petani.

Ada kenaikan beberapa harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. Peningkatan indeks harga yang harus diterima pada Oktober 2020 disebabkan oleh naiknya indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat khususnya komoditas kelapa sawit, dan karet.

“Peningkatan yang terjadi pada indeks harga yang harus dibayar terjadi karena kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,29% dan kenaikan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,04%,” ucapnya.

Sedangkan NTP Peternakan (NTPT) mengalami penurunan sebesar 0,27%. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterma meningkat sebesar 0,06%, lebih rendah dari peningkatan indeks harga yang dibayar sebesar 0,34%.

Peningkatan  indeks harga yang diterima petani pada Oktober 2020 disebabkan oleh naiknya kelompok ternak kecil sebesar 0,19% dan kelompok unggas sebesar 0,03%. Sementara kelompok ternak besar dan kelompok hasil ternak mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,11% dan 0,07%.  Komoditas yang menyebabkan peningkatan indeks harga yang diterima terbesar terjadi pada subsektor Peternakan adalah ayam ras pedaging dan babi.

Peningkatan pada nilai indeks harga yang harus dibayar karena adanya kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,22% dan kenaikan indeks kelompok BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,40%.

Untuk NTP Perikanan (NTNP) terjadi peningkatan sebesar 0,23%. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima naik sebesar 0,35%, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang harus dibayar sebesar 0,12%. Kenaikan indeks yang diterima terjadi karena naiknya harga berbagai komoditas perikanan tangkap dan budidaya.

Untuk kegiatan perikanan tangkap khususnya komoditas rajungan dan ikan kembung secara rata rata naik sebesar 0,11%.

Sementara itu, indeks harga yang diterima pada kegiatan perikanan budidaya secara rata-rata naik sebesar 0,74%. Khususnya komoditas ikan bandeng payau dan udang payau.

“Peningkatan yang terjadi pada indeks harga yang harus dibayar disebabkan oleh naiknya indeks kelompok KRT sebesar 0,17% dan kenaikan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,07%,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN