Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana diskusi

Suasana diskusi "Youth for Climate: Turning Biowaste to Biofuel" yang diselenggarakan oleh Rumah Energi bersama Belijelantah, Waste4Change dan didukung oleh delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia pada 2 Oktober 2019, di Jakarta. ( Foto: Istimewa )

Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa 2019

Olah Limbah Jadi Bahan Bakar Hayati untuk Kurangi Dampak Perubahan Iklim

Happy Amanda Amalia, Selasa, 8 Oktober 2019 | 12:48 WIB

JAKARTA, investor.id - Pengolahan limbah menjadi bahan bakar hayati, semakin dilirik oleh para pegiat dan praktisi muda di bidang lingkungan. Hal ini diungkap dalam diskusi Youth for Climate: Turning Biowaste to Biofuel yang diselenggarakan oleh Rumah Energi bersama Belijelantah, Waste4Change dan didukung oleh delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa 2019 yang diselenggarakan secara serentak di seluruh dunia mulai 23 September-6 Oktober 2019.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan timbunan sampah hingga 175.000 ton dalam sehari, di mana 50% di antaranya merupakan limbah organik yang sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berlimpahnya limbah organik yang menumpuk di TPA tidak hanya mencemari lingkungan, namun juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar. Padahal sebenarnya, limbah organik memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai energi terbarukan.

“Waste4Change mendorong terbentuknya ekosistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, yang didukung teknologi tepat guna dan dilakukan secara kolaboratif. Limbah organik yang diolah menjadi bahan bakar hayati merupakan wujud upaya kami dalam mewujudkan konsep Circular Economy, yaitu ekonomi Indonesia yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, termasuk dalam hal pengelolaan sampah, menuju Indonesia bebas sampah,” ujar Manager Strategic Services Waste4Change Rido Malik Ibrahim dalam keterangan pers.

Salah satu limbah organik yang dapat diolah kembali menjadi bahan bakar hayati adalah used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Pembuangan minyak jelantah secara sembarangan dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan kerusakan ekosistem perairan karena lapisan minyak pada permukaan air menghalangi masuknya sinar matahari.

Pemanfaatan UCO sebagai bahan bakar hayati, berarti membantu menanggulangi perubahan iklim dan memastikan keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan data International Council on Clean Transportation, potensi pemanfaatan minyak jelantah di Indonesia dapat mencapai 3.000.000 (kl) dengan potensi penurunan emisi sebesar 11.500.000 ton CO2e.

Pengolahan limbah minyak jelantah berpotensi memenuhi kebutuhan energi yang begitu besar, sekaligus menciptakan solusi bagi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Bahkan saat ini, ekspor minyak jelantah memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel negara-negara Uni Eropa. Bahan bakar hayati juga menjadi pemecah masalah bagi penguraian sampah, meningkatkan kemandirian energi dan melepaskan ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil.

“Pemanfaaan minyak jelantah dalam negeri untuk menggantikan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak hanya akan akan mengurangi emisi GRK, melainkan juga membuka kesempatan kerja dan usaha berbasis masyarakat. Masyarakat dapat terlibat mulai dari proses pengumpulan, pemurnian dan pengolahannya yang relatif mudah. Oleh karena itu kami mendorong gerakan bersama pemuda, komunitas, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pelaku usaha, untuk memperluas inisiatif ini,” kata Direktur Eksekutif Rumah Energi Rebekka Angelyn.

Melalui sesi ini Rumah Energi berharap dapat menyebarkan semangat penggunaan energi terbarukan kepada para pemuda, sehingga mereka dapat turut berkontribusi mengatasi persoalan terkait energi, melalui kreativitas dan inovasi demi mencapai kedaulatan energi.

“Keberlanjutan lingkungan tercapai ketika kita dapat memenuhi kebutuhan kita saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk menikmati sumber daya yang sama,” tambah Public Relations Beli Jelantah Azizah Sayida Amalina.

Pekan Diplomasi Iklim 2019 terdiri dari serangkaian kegiatan tematik di Jakarta, maupun di luar Jakarta, yang merupakan cara kreatif Uni Eropa dalam mengampanyekan perubahan iklim. Tahun ini, Uni Eropa berkolaborasi dengan 7 kedutaan besar negara-negara anggota, 18 organisasi masyarakat serta 12 pemimpin opini (selebriti).


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN