Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Pacu Ekspansi Usaha, Kadin Berharap Suku Bunga Acuan Tetap 3,5%

Kamis, 20 Januari 2022 | 08:37 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dilaksanakan Rabu-Kamis (19-20/1). Suku bunga acuan yang rendah dinilai masih mampu untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah percepatan tapering oleh Bank Sentral AS.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan saat ini kondisi makro ekonomi masih cukup dan pasar keuangan domestik masih relatif stabil untuk menanggung efek tapering. Oleh karena itu BI dinilainya tidak perlu untuk menaikkan suku bunga acuan.

“Indikator makro ekonomi kita masih cukup kuat dan  stabil untuk menanggung efek tappering, apalagi karena diproyeksikan efek tappering kali ini akan jauh lebih ringan dibanding efek tappering sebelumnya,”tegasnya kepada Investor Daily, Rabu (19/1).

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta W Kamdani . Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta W Kamdani . Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Di samping itu, Shinta mengatakan bahwa pelaku usaha membutuhkan akses pendanaan yang affordable untuk pemulihan dari krisis pandemi yang masih berlangsung.

Menurutnya apabila Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan, maka biaya financing dari pelaku usaha akan menjadi lebih tinggi dan semkain tidak terjangkau untuk pelaku usaha.

“Padahal, pasar belum sepenuhnya pulih, apalagi dengan tantangan peningkatan kasus Omicron dan faktor-faktor lain seperti potensi kenaikan biaya energi dan pajak di beberapa sektor,”ucapnya.

Dengan demikian,  secara keseluruhan ini akan menjadi disinsentif bagi pelaku usaha untk memulihkan kinerja, membuka lapangan kerja baru atau melakukan re-investasi.

“Kalau suku bunga tetap, setidaknya kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pinjaman usaha riil akan hilang dan beban financing usaha tidak membengkak ketika beban-beban usaha lain berpotensi semakin mahal,”ujarnya.

Dengan suku bunga rendah, Shinta menilai pelaku usaha lebih terpacu atau lebih confident untuk melakukan ekspansi usaha. Oleh karena itu, ia meminta suku bunga acuan untuk tetap dipertahankan.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.pada sesi pembukaan IPOTLook 2022 yang diselenggarakan oleh PT Indo Premier Sekuritas, Jumat malam (10/12/2021). Foto: Indo Premier
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.p  Foto: Indo Premier

Sementara itu, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyekskan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunganya di level 3,5% pada RDG bulan ini. Keputusan ini dinilainya akan mempertimbangkan nilai tukar rupiah yang stabil serta inflasi yang tetap terkendali.

“BI diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang ekspektasi inflasi terkendali meskipun Fed sudah memberikan sinyal bahwa akan mulai menaikkan suku bunga FFR pada FOMC bulan Maret 2022 setelah proses tapering selesai pada bulan tersebut,”ucapnya saat dihubungi.

Lebih lanjut, arah kebijakan moneter Bank Indonesia di tahun ini akan ditujukan untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah normalisasi kebijakan moneter negara maju.

Untuk saat ini, Bank Indonesia dinilainya akan melakukan tapering pada kebijakan Quantitative Easing (QE) Bank Indonesia dengan mengurangi secara bertahap penambahan likuiditas perbankan.

“Lebih lanjut, ketika tekanan inflasi cenderung meningkat maka BI diperkirakan akan mempertimbangkan suku bunga acuan BI7RR,”ucapnya.

Meskipun The Fed diperkirakan  lebih awal akan menaikkan suku bunga acuannya dalam rangka merespon tekanan inflasi AS yang tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini.

Dengan dampaknya pada pasar keuangan negara berkembang termasuk pasar keuangan domestik diperkirakan tidak lebih severe dibandingkan normalisasi kebijakan moneter pada tahun 2013 lalu yang ditandai dengan taper tantrum.

“Pada tahun 2014-2015, ketika Fed selesai proses tapering hingga kenaikan suku bunga pertama, Rupiah terdepresiasi hingga 14,10%, diikuti oleh kenaikan yield obligasi 10 tahun sebesar 65bps, dan pada kondisi tersebut, BI hanya menaikkan suku bunganya sebesar 25bps,”ungkapnya.

Sementara  itu, pada kondisi saat ini, sejak dimulainya tapering di bulan November 2021, Rupiah hanya bergerak melemah sekitar 0,1%. 

Di sisi lain, kondisi keseimbangan eksternal Indonesia saat ini yang lebih solid dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 yang lalu, terindikasi dari neraca transaksi berjalan yang lebih rendah dari kondisi normal bahkan berpotensi mengalami surplus pada full year 2021 (yang ditopang oleh kinerja ekspor yang solid di tengah tren commodity boom).

Kemudian saat ini posisi cadangan devisa yang merupakan first line of defense atau bantalan utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Proporsi kepemilikan investor asing terhadap SBN yang saat ini relatif rendah jika dibandingkan dengan proporsinya pada tahun 2013 yang lalu berimplikasi bahwa tingkat kerentanan yang lebih rendah,”ucapnya.

Oleh sebab itu, BI akan mulai menaikkan suku bunga acuannya ketika sinyal tekanan inflasi domestik mulai meningkat dan tetap melakukan triple intervention dalam rangka menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek serta melakukan tapering quantitative easing dengan pengurangan likuiditas secara bertahap.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank
Indonesia (BI) Hariyadi Ramelan. Foto: IST
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Hariyadi Ramelan. Foto: IST

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Hariyadi Ramelan mengatakan Bank Indonesia telah menyiapkan beragam strategi untuk menjaga stabiliats pasar keuangan dan nilai tukar rupiah ditengah percepatan tappering dan kenaikan suku bunga bank sentral AS.  Dengan strategi yang dijalankan BI mencakup tetap menjaga likuiditas rupiah dan likuiditas valas untuk menjaga keseimbangan mekanisme supply demand di pasar domestik.

Sedangkan dari aspek instrumen moneter, BI memastikan akan terus melakukan stabilitas pasar keuangan domestik termasuk melakukan stabilisasi  rupiah, melalui triple intervention di pasar spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder.

“Dari aspek instrumen moneter kita fokus untuk stabilisasi , sementara instrumen makroprudensial tetap mendukung kebijakan moneter yg tetap akomodatif dengan melihat perkembangan inflasi terkini,”ungkapnya saat dihubungi.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa isu terkait percepatan kenaikan suku bunga acuan dan pengurangan pembelian aset lebih cepat dari perkiraan menjadi isu yang sensitif di pasar (global dan domestik). Pasalnya keputusan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 Desember lalu berbeda dari perkiraan pasar.

“Ini juga menyebabkan yield US Treasury 10 tahun saat ini sudah naik 22 bps mencapai 1,77%. The Fed akan menurunkan secara drastis atau hanya run off dari balance sheet-nya, yang saat ini sudah mencapai US$ 8,7 triliun saat ini  dari  posisi awal US$ 800 miliar saat sebelum pandemic,”tegasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN