Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Pandemi Covid-19 Bikin Industri Keuangan Syariah Tertekan

Senin, 21 September 2020 | 13:33 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pandemi Covid-19 telah berdampak masif terhadap aspek ekonomi dan sosial, tak terkecuali industri ekonomi dan keuangan syariah.Ia mengatakan, kinerja industri keuangan syariah sebelum masa pandemi menunjukkan kinerja yang baik. Pada tahun lalu industri keuangan syariah membukukan kinerja dengan market share melebihi 5%, namun setelah terjadi Covid-19 pertumbuhan industri keuangan syariah dan konvensional diperkirakan menurun.

“Sebelum terjadi Covid-19, perbankan syariah Indonesia telah bukukan kinerja cukup baik dengan pertumbuhan double digit, dengan market share di atas 5%. Namun, di saat terjadi covid seluruh industri keuangan termasuk perbankan dan perbankan syariah melakukan perubahan dalam rencana pertumbuhan mereka diakibatkan risiko akibat Covid-19,” tutur Menkeu dalam acara Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah, Senin (21/9).

Ia mengatakan, pandemi Covid-19 tidak hanya mengancam masalah kesehatan dan jiwa, tetapi juga menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan harus terus menerapkan social distancing dan menjalankan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Di sisi lain, pemerintah merespons pandemi melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal dalam penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang menyentuh semua elemen masyarakat. Kemudian, pemerintah juga memberikan bantuan yang masif kepada sektor rumah tangga dan juga kepada usaha kecil dan menengah (UKM) yang berbasis syariah.

“Bantuan kepada mereka yang meminjam di bawah Rp 10 miliar diberikan bentuk relaksasi pinjaman tidak bayar cicilan 6 bulan dan dikurangi beban biaya utang. Ini upaya pemerintah yang terus dilakukan untuk melindungi masyarakat dan dunia usaha termasuk lindungi industri dan keuangan syariah. Bantuan langsung kepada usaha menengah kecil diberikan dalam bentuk usaha yang mengikuti rambu-rambu atau prinsip syariah mulai bank wakaf dan Baitul Maal wa Tamwil,”tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pandemi Covid-19 merupakan bencana luar biasa dan unpresidented atau presedent sejak satu abad lalu, disaat terjadinya flu spanyol pada 1918-1919.

“Pandemi yang luar biasa, dan pertama kali kita alami jadi saya berharap kita semua melihat situasi ini tidak hanya sisi negatif tapi terus berikhtiar, bertawakal, dan terus upayakan agar Indonesia bisa menangani sisi tantangan kesehatan dan implikasi sosial ekonomi kemasyarakatan termasuk industri keuangan dan industri keuangan syariah,”tuturnya.

Disamping itu, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI) mengatakan, upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya semata-mata menjadi tugas pemerintah. Tetapi juga diperlukan peran seluruh pemangku kepentingan lainnya untuk sama-sama mendorong ekonomi dan keuangan syariah.

"Kembangkan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya tugas pemerintah tetapi suatu kepedulian seluruh pemangku kepentingan. Ini kepedulian kolektif untuk menimbulkan energi yang lebih besar dalam menciptakan tatanan ekonomi yang memiliki value atau nilai keIslaman," kata Sri.

Adopsi Teknologi

Lebih lanjut, ia mengatakan adopsi teknologi yang terus bergerak dan infrastruktur yang mendukungnya perlu terus disiapkan untuk mendorong ekonomi dan keuangan syariah. Pasalnya, tidak hanya menghadapi pandemi Covid-19, dunia juga tengah menghadapi ancaman perubahan iklim yang mengancam eksistensi kehidupan dunia. Oleh karena itu, pemerintah juga memberikan solusi dengan membangun infrastruktur, memberikan akses teknologi informasi dan komunikasi ke semua pelosok.

“Indonesia perlu terus melakukan berbagai langkah adopsi teknologi perkembangan ekonomi. Pemerintah dalam APBN 2021-2024 akan terus bangun infrastruktur termasuk infrastruktur ICT dalam rangka dapat memberikan akses untuk TIK dan teknologi digital. Pembangunan infrastruktur merupakan keharusan untuk menciptakan daya dukung dan daya pengaruh teknologi yang diharapkan menjadi akselerasi pembangunan ekonomi keuangan syariah termasuk inklusi keuangan,”tuturnya.

Dengan teknologi, ia berharap dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing dari industri-industri syariah. Sehingga pemerintah akan terus mendukung peningkatan konten teknologi dan inovasi dalam industri halal, termasuk makanan, manufaktur, farmasi dan keuangan. “Penerapan teknologi disertai prinsip prinsip kehalalan akan memberikan jawaban yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan industri produk halal Indonesia,”ujarnya.

Di sisi lain, aspek peraturan perundang-undangan dan mekanisme untuk bisa meningkatkan pengujian produk halal secara efisien dan tidak menjadi beban bagi industri menjadi sesuatu yang penting. Hal ini pun perlu menjadi perhatian bagi periset, bagaimana agar jaminan kehalalan dari industri-industri dapat disampaikan pelaku industri tanpa menurun dari sisi daya saing.“Teknologi tentu bisa membantu tapi policy dan institusi juga perlu kita kaji sehingga mampu menjadi pusat industri halal efisiensi, inovatif, produktif, dan memiliki daya kompetisi,”tutupnya.

Adapun pada kesempatan yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset keuangan syariah meningkat 20,61% secara tahunan dengan market share 9,68% di tengah pandemi Covid-19. Aset keuangan syariah, termasuk bank syariah dan non bank, meningkat dari Rp 1.359 triliun per Juli 2019 menjadi Rp 1.639,08 triliun per Juli 2020, dengan rincian perbankan syariah Rp 542,83 triliun dengan market share 6,11%, IKNB Rp 110,29 triliun dengan pangsa pasar 4,39%, dan pasar modal Rp 985,9 triliun dengan pangsa 17,8%.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN