Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto. Foto: Amrozi Amenan

Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto. Foto: Amrozi Amenan

Pandemi Covid-19, Industri di Jatim Mulai Terpukul

Amrozi Amenan, Rabu, 1 April 2020 | 05:11 WIB

SURABAYA, investor.id - Dampak pandemi Covid-19 sudah mulai dirasakan oleh industri di Jawa Timur terutama yang mengandalkan bahan baku impor.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menjelaskan, untuk industri yang mengandalkan bahan baku dari impor, terkena dua dampak sekaligus. Pertama, melemahnya nilai tukar rupiah dan kedua, berkurangnya kuantitas pasokan bahan baku dari beberapa negara, khususnya Tiongkok, yang juga mengalami situasi yang sama akibat pandemi Covid-19.

Sedangkan untuk industri yang berorientasi ekspor juga terpukul, dengan melemahnya serapan pasar global. Baik pasar di Tiongkok, yang mayoritas, maupun pasar di sejumlah negara lain di Eropa, Asia dan Amerika.

“Ini persoalan serius. Apalagi Jatim dikenal memiliki core industri kemasan. Sementara industri ini sangat mengandalkan bahan baku biji plastik. Dan hampir semua diimpor dari Tiongkok,” kata Adik di Surabaya, Selasa (31/3/2020).

Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto. Foto: Amrozi Amenan
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto. Foto: Amrozi Amenan

Menurut Adik, dampak Covid-19 juga memukul industri lainya. Seperti industri pariwisata yang paling awal terpukul. Kemudian, industri agro, meskipun belum terlalu terpukul, namun ketersediaan pupuk dan daya beli masyarakat lokal juga menurun akibat pelambatan ekonomi nasional.

Adik mengatakan dari data statistik Jawa Timur tahun 2019 yang mulai menunjukkan tren defisit neraca perdagangan yang semakin lebar. Impor non migas Jatim dari Tiongkok pada 2019 mencapai US$ 5,872 miliar atau sekitar 337,43% dari total impor Jatim sapanjang 2019 yang mencapai US$ 18,930 miliar. Sementara ekspor non migas Jatim ke Tiongkok sepanjang 2019 mencapai US$ 2,299 miliar, atau sekitar 16,19% dari total ekspor Jatim di 2019 yang mencapai US$ 19,369 miliar,” papar Adik.

“Itu artinya defisit antara ekspor dan impor non-migas sudah cukup tinggi sejak tahun 2019. Sehingga, Kadin Jatim memperkirakan di triwulan I tahun 2020 ini bisa tergerus turun ke angka 0,25 sampai 0,40%. Apalagi kalau beberapa negara masih melakukan lock down policy,” katanya.

Adik menyebut dalam kondisi ini semua pihak harus berpikir out of the box. Pertama, instrumen APBN dan APBD harus benar-benar menjadi stimulus dunia usaha. Ini sifatnya emergensi.  Swasta harus tetap hidup. Karena tanpa swasta, PDRB akan anjlok, dan pertumbuhan ekonomi akan terjun bebas. Pada akhirnya daya beli masyarakat tergerus habis.

Kedua, stimulus dari Pemerintah Pusat berupa paket-paket kebijakan ekonomi, baik fiskal maupun non-fiskal harus segera diikuti oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota dan Kabupaten. Ini mutlak dan bisa dilakukan. Apalagi diskresi ini telah diberi payung hukum oleh Pemerintah Pusat melalui instrumen revisi alokasi anggaran.

Ketiga, program murni pemerintah berupa jaring pengaman sosial, apakah itu bantuan tunai atau subsidi listrik dan lain-lain harus cepat dirasakan, terutama oleh kalangan tenaga kerja  informal dan buruh pabrik. Ini penting, sebab kalau nanti bulan Mei kita belum recovery, sementara buruh minta kenaikan UMR, pasti pengusaha angkat tangan.

Karena itu, kata Adik, Kadin Jatim telah melayangkan surat permohonan kepada seluruh Walikota dan Bupati di Jawa Timur, agar memperhatikan beberapa masukan dari Kadin, sebagai wadah para pengusaha di Jatim. “Inti isi surat tersebut adalah tiga hal tersebut,” pungkasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN