Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisata Bali. Foto: IST

Wisata Bali. Foto: IST

Pariwisata Tak Siap Hadapi Krisis

Minggu, 2 Agustus 2020 | 05:39 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Mayoritas perusahaan pariwisata dunia tak siap menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19. Hal ini mengancam 75 juta pekerja di sektor perjalanan dan pariwisata dunia.

CEO Pacific Asia Travel Association (PATA) Mario Hardy mengungkapkan, pada 2019, nilai pasar sektor travel dan pariwisata dunia mencapai 10,3% dari ekonomi global atau setara dengan US$ 8,9 triliun. Namun, tahun ini, nilainya diprediksi turun US$ 2,1 triliun atau sebesar 23%.

“Sebanyak 65% industri secara global tidak siap menghadapi krisis, 38% dari mereka terpaksa memutus kontrak kerja dengan karyawan. Oleh karena itu, pariwisata harus segera pulih,” ungkap dia, belum lama ini.

Menurut Mario untuk pemulihan pariwisata di masa pandemi, industri akan mengalami lima fase, mulai dari kehilangan wisatawan, masyarakat fokus pada penurunan jumlah kasus, munculnya keberanian masyarakat lokal mengunjungi tempat umum seperti restoran, dan berujung pada kegiatan wisata domestik yang akan disusul oleh wisata internasional.

Meskipun masih dalam proses yang bisa memakan waktu hingga 12 bulan ke depan, dia meyakini penggunaan teknologi dapat membantu pemulihan pariwisata lebih cepat.

Mario menerangkan, wisatawan harus dipastikan untuk mematuhi protokol clean, health, safety (CHS) baru dalam berpergian dimulai dari prosedur sebelum penerbangan hingga kepulangan menuju daerah asalnya. Pengurangan kontak dalam aktivitas (touchless program) yang berkaitan dengan wisata juga perlu ditingkatkan mengingat cara penyebaran virus.

Touchless program dan teknologi lainnya sebenernya sudah ada sebelum adanya Covid-19 tapi sekarang jadi accelerating. Ini yang harus ditekankan. Penggunaan teknologi jadi krusial,” terang dia.

Di sisi lain, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkomitmen menggerakkan pariwisata berkelanjutan atau quality tourism. Pengembangan quality tourism di Indonesia akan mendorong pemulihan alam dan strategi yang sesuai dengan tantangan kepariwisataan ke depan.

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Frans Teguh memastikan, kualitas kunjungan ditentukan quality of experience, belanja tinggi, serta daya dukung lingkungan yang memadai. Sosialisasi ini terus dilakukan untuk meningkatkan keyakinan publik baik domestic maupun mancanegara agar pergerakan pariwisata terjadi.

”Pariwisata akan hadir atau tumbuh kalau ada pasar, ada pergerakan wisata, ada kunjungan. Jadi alur pengunjung sangat memengaruhi dampak ekonomi atau kegiatan kepariwisataan,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN