Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Agus Santoso dalam webinar Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Peningkatan Daya Tahan UMKM, Jumat (26/2/2021).

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Agus Santoso dalam webinar Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Peningkatan Daya Tahan UMKM, Jumat (26/2/2021).

Pedagang Besar dan Eceran Paling Terdampak Pandemi

Sabtu, 27 Februari 2021 | 10:49 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, beberapa permasalahan yang dihadapi UMKM antara lain produksi terhambat (18,83%), akses permodalan (19,39%), penjualan atau permintaan menurun (22,9%), kesulitan bahan baku (18,875), dan distribusi terhambat (20,1%).

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Agus Santoso mengungkapkan, berbagai sektor usaha UMKM terdampak pandemi Covid-19, namun yang paling terdampak adalah pedagang besar dan eceran (40,92%), lalu penyedia akomodasi dan makan minum (26,86%), dan industri pengolahan (14,25%).

“Penurunan aktivitas usaha akibat Covid-19 dirasakan oleh hampir seluruh UMKM, terutama terkait menurunnya permintaan, kendala pemasaran, dan ketersediaan atau akses bahan baku,” kata Agus Santoso dalam webinar "Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Peningkatan Daya Tahan UMKM", Jumat (26/2/2021).

Dari hasil rapid survey yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) pada Mei 2020 lalu, Agus mengungkapkan mayoritas bisnis UMKM memang melambat akibat pandemi Covid-19. Bahkan mayoritas responden usaha mikro harus menutup usaha untuk sementara, dan mengalami penurunan penjualan karena adanya penurunan permintaan domestik. Hal ini berdampak pada menurunnya pemasukan dan pengurangan tenaga kerja.

“Menurunya tingkat permintaan dan penjualan berdampak langsung pada cash flow dan kondisi keuangan UMKM. Akhirnya pelaku UMKM ada yang meminjam dari keluarga atau teman, atau menggunakan dana pribadi,” kata Agus.

Dari hasil rapid survey tersebut, beberapa kebijakan yang diharapkan pelaku UMKM yaitu pembiayaan agar dapat memulai usahanya, pinjaman tanpa bunga dan/atau tanpa agunan, dan bantuan tunai langsung atau hibah. Kebijakan yang diharapkan tersebut sudah dijalankan pemerintah Indonesia pada 2020 lalu dan dilanjutkan pada tahun ini melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 

“UMKM hingga saat ini tetap perlu dukungan pemerintah dan stakeholders untuk bangkit dari dampak pandemi. Implementasi kebijakan pemulihan UMKM juga perlu sinergi yang terarah antar kementerian/lembaga,” kata Agus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN