Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto.

Pelonggaran PSBB Belum Berdampak ke Inflasi Juni 2020

Arnoldus Kristianus/Nasori, Rabu, 1 Juli 2020 | 12:03 WIB

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mulai diterapkan beberapa pekan terakhir belum berpengaruh terhadap inflasi Juni 2020 yang tercatat 0,18% secara bulanan (month to month/mtm). Inflasi pada periode ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan terutama daging ayam ras dan telur ayam ras.

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto menjelaskan, aktivitas beberapa tempat belanja sehari-hari memang mulai meningkat, tetapi untuk kembali ke performa normal seperti sebelum diterapkan anjuran kerja dari rumah (work from home/WFH) atau pun PSBB, masih membutuhkan waktu.

“Ke depan tentunya inflasinya akan dipengaruhi (pelonggaran PSBB). Tetapi, khusus pada Juni (2020) ini, kalau kita lihat inflasi lebih karena kenaikan harga daging ayam ras dan juga telur ayam ras. Sementara ada kontribusi sedikit dari kenaikan (tarif) angkutan udara,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (01/07/2020).

Ia mengungkapkan, BPS telah membuat analisis big data yang menunjukkan mulai terjadi peningkatan aktivitas masyarakat sesudah ada pelonggaran PSBB. “Jadi, sejak ada pelonggaran PSBB kemarin, ada peningkatan aktivitas masyarakat. Tapi, masyarakat masih sangat tertib untuk tidak pergi ke taman dan tempat-tempat rekreasi,” kata Suhariyanto.

Suhariyanto memaparkan, pada Juni 2020 terjadi inflasi sebesar 0,18% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,06. Dari 90 kota IHK, 76 kota mengalami inflasi dan 14 kota deflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar 1,33% dan terendah di Makassar sebesar 0,01%. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Ternate sebesar 0,34% dan di Padangsidimpuan sebesar 0,02%,” ucap dia.

Dengan inflasi pada Juni tersebut, maka tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juni) 2020 tercatat sebesar 1,09% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2020 terhadap Juni 2019) sebesar 1,96%.

Inflasi pada periode Juni lalu itu terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkann oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,47%; kelompok pakaian dan alas kaki 0,02%; kelompok kesehatan 0,13%; kelompok transportasi 0,41%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,13%; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,28%.

Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04%; kelompok perlengkapan,peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,03%; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,06%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,08%. Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok pendidikan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN