Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Shinta Kamdani. Foto: IST

Shinta Kamdani. Foto: IST

Pelonggaran PSBB Geliatkan Kembali Ekonomi

Rabu, 8 Juli 2020 | 11:34 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com) ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -   Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, pelonggaran PSBB dalam rangka new normal membuat ekonomi kembali menggeliat.

Itu tercermin pada indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index/PMI) Indonesia yang naik menjadi 39,1 pada Juni 2020, dibanding 28,6 pada bulan sebelumnya.

Namun, menurut dia, daya beli masyarakat masih lemah. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkannya. Selain itu, dunia usaha, terutama korporasi, membutuhkan stimulus lain dari pemerintah agar dapat bertahan.

Shinta mengakui, walau menunjukkan tren positif dalam dua bulan terakhir, PMI masih jauh di bawah level normal, 50. Ini menandakan industri manufaktur masih akan menekan produksi hingga satu bulan ke depan dan belum kembali memproduksi hingga level prapandemi dalam waktu dekat.

“Pelaku industri masih wait and see. Perusahaan juga akan mengontrol produksi dan stok barang sedemikian rupa, sehingga pasokan produk manufaktur bisa dihentikan atau diperbanyak sewaktu-sewaktu sesuai perubahan pasar yang dapat terjadi sebulan ke depan,” papar dia.

Shinta menjelaskan, saat ini, meskipun kegiatan ekonomi sudah meningkat, banyak perusahaan yang hanya menghabiskan stok atau menjual produk yang sudah diproduksi disbanding memproduksi baru.

Penyebabnya adalah kondisi pasar yang masih galau akibat ketidapastian PSBB dan belum pulihnya daya beli masyarakat.

“Ini tentu memengaruhi confidence pelaku usaha manufaktur dalam menetapkan target produksi ke depan. Jadi, kalau kuartal III sudah bisa positif, ini bagus. Namun, kalau mau benar-benar pulih, paling tidak baru bisa tahun depan. Harapan kami, pertumbuhan ekonomi 2020 berkisar 1-2%, ini saja sudah bagus,” tandas dia.

Shinta Kamdani menilai, progam pemulihan ekonomi yang dijalankan pemerintah harus efektif dan realisasinya mesti lebih cepat, karena harus berlomba dengan waktu.

“Kalau tidak cepat, akan banyak perusahaan yang telanjur tidak bisa diselamatkan lagi,” tutur dia.

Itu sebabnya, menurut Shinta, Kadin mengimbau pemerintah segera mendorong percepatan realisasi stimulus. “Yang jadi permasalahan sekarang adalah berapa lama lagi para pengusaha bertahan tanpa diberikan stimulus,” ujar Shinta. (leo)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN