Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat Ekonomi UGM Sri Adiningsih. Foto: metrotv

Pengamat Ekonomi UGM Sri Adiningsih. Foto: metrotv

Ekonom UGM:

Pembentukan Holding UMi Majukan Usaha Ultra Mikro

Senin, 30 November 2020 | 10:46 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Adiningsih menyatakan, pengembangan usaha ultra mikro (UMi), mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu bertahan dan berdaya saing  pada era digital,  tidak dapat dilakukan secara parsial.  

Menurut dia, diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan (stakeholder) melalui pembentukan induk usaha atau holding.

“Sinergi antar stakeholder akan mendukung pengembangan UMKM di era digital, agar UMKM bisa maju dengan memanfaatkan digital dan networking yang bisa dikembangkan. Ada besar sekali potensi sinerginya, bisa resmi dengan membentuk holding seperti untuk BUMDes, atau kerjasama yang difasilitasi pemerintah atau asosiasi seperti Kadin dan Apindo, atau diinisiasi oleh komunitas,” kata Sri Adiningsih di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Ia mengatakan,  sangat besar potensi pengembangan UMi dan UMKM melalui sinergi antar lembaga.

“Ide pembentukan kolaborasi pengembangan UMi dan UMKM  bisa berasal dari manapun, baik pemerintah, lembaga swasta, atau asosiasi dan BUMN/BUMDes,” jelas dia.

Sri Adiningsih  mengungkapkan bahwa salah satu bentuk sinergi pemberdayaan UMi dan UMKM yang dapat terwujud adalah melalui pembentukan holding.

Pendiri Institute of Social Economic Digital (ISED) ini berpendapat, keberadaan induk usaha bisa membuat semakin banyak UMKM yang ternaungi program-program dari lembaga anggota holding.

“Jumlah UMKM lebih dari 60 juta dan banyak yang informal. Kalau ada holding yang menaunginya, sepanjang bisa mendukung dan memfasilitasi pengembangan UMKM dan tidak memaksa, mestinya baik. Mesti holdingnya mungkin akan ada banyak, bisa dibentuk per daerah, sektoral, atau BUMDes dan lain-lain,” tuturnya.

Pandangan lain disampaikan Ketua Bidang Organisasi International Council for Small Business (ICSB) Indonesia Samsul Hadi. Menurutnya, secara umum konsep pemberdayaan UMKM melalui pembentukan holding cukup menarik.

“Akan ada efisiensi, peningkatan daya saing dan peningkatan produktivitas, serta mengurangi rivalitas yang tidak perlu antar-BUMN,” ujar Samsul.

CEO platform Layanan UMKM Naik Kelas (Lunas) ini menjelaskan, pembentukan holding pemberdayaan UMKM harus dilakukan secara hati-hati. Alasannya, UMKM di Indonesia memiliki kebiasaan cenderung bergerak sendiri-sendiri (soliter) dan mandiri.

“Untuk holding terkait UMKM perlu dilakukan hati-hati mengingat habit UMKM cenderung soliter dan mandiri. Benefit holding terhadap UMKM harus dijelaskan dengan clear. Termasuk masalah standarisasi, pembiayaan, dan pemasaran,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi)  telah memberikan sinyal akan membentuk holding UMKM agar dapat mengoptimalkan pemberdayaan pengusaha mikro dan kecil.  

Presiden  Jokowi menyebut holding usaha mikro diperlukan demi membantu UMKM mengakses marketplace dan pemasaran baik di lingkup nasional maupun global. Hal  ini  disampaikan Presiden Jokowi saat  berpidato di acara Google for Indonesia 2020, pertengahan November lalu.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemberdayaan UMKM harus dimaksimalkan karena saat ini baru 8 juta usaha mikro, kecil dan menengah yang memanfaatkan teknologi dalam bisnisnya. “Ada 64 juta UMKM, baru 8 juta atau 13% saja yang terintegrasi dengan teknologi digital," kata Presiden Jokowi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN