Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Pembiayaan Utang Tahun ini Hanya Rp 958 Triliun

Senin, 12 Juli 2021 | 14:34 WIB
Triyan Pangastuti

Jakarta, investor.id-Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, pembiayaan utang pada 2021 hanya akan terealisasi Rp 958,1 triliun atau turun 18,6%, atau realisasinya akan lebih rendah dari target pembiayaan utang tahun ini sebesar Rp 1.177,4 triliun. Proyeksi realisasi pembiayaan utang yang lebih rendah itu disebabkan perkiraan defisit APBN 2021 yang juga akan jauh lebih rendah dari target yang dipatok sebesar 5,7% atau setara Rp 1.006,4 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan, arah kinerja ekonomi terus menunjukkan akselerasi yang semakin baik, tercermin dari penerimaan negara yang semakin meningkat dan belanja negara yang diperkirakan akan terserap optimal hingga akhir tahun. “Pembiayaan utang tahun ini lebih rendah dari target, ini hal yang bagus, berarti kami kurangi kenaikan utang seharusnya Rp 1.177,4 triliun menjadi Rp 958,1 triliun atau turun 18,6%. Ini terutama disebabkan defisit APBN secara nominal akan lebih rendah,” tutur Menkeu saat rapat dengan Banggar DPR RI, Senin (12/7).

Secara rinci, Menkeu menyebutkan, rendahnya realisasi pembiayaan utang sepanjang tahun juga tercermin dari hasil pembiayaan utang selama semester I-2021 yang tercatat Rp 433 triliun atau setara 37,6% dari target APBN. Kemudian, untuk pembiayaan utang melalui SBN neto selama semester I-2021  tercatat Rp 464 triliun, kemudian pinjaman neto sudah mencapai Rp 20,9 triliun.

Dalam bahan paparan Menkeu disebutkan, realisasi pembiayaan utang selama semester I-2021 terus meningkat dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Secara rinci, pada semester I-2017 realisasi pembiayaan utang mencapai Rp 207,8 triliun dan pada 2018 tercatat Rp 180,2 triliun. Lalu, pada 2019 pemerintah merealisasikan pembiayaan utang sepanjang semester I mencapai Rp 180,5 triliun dan mulai meningkat pada 2020 menjadi Rp 421,5 triliun.

Menurut Menkeu, peningkatan pembiayaan utang sepanjang semester I merupakan bentuk konsekuensi dari kebijakan fiskal yang ekspansif melalui perluasan berbagai program stimulus fiskal dalam rangka menjaga kesehatan masyarakat dan akselerasi pemulihan ekonomi nasional. “Kita semua tahu bahwa APBN 2021 memang masih alami atau sebagai countercyclical sangat penting untuk melindungi rakyat dan ekonomi, memang desain defisit APBN 2021 mencapai 5,7%,” tutur Menkeu.

Untuk prognosis semester II-2021 sekitar Rp 515,1 triliun atau setara 46,8% terhadap pagu pembiayaan utang tahun ini.  “(Sehingga) kita hanya akan realisasi utang tahun ini Rp 958 triliun, jauh lebih rendah atau sekitar Rp 219 triliun lebih rendah dari UU APBN. Ini hal yang bagus berarti kami kurangi kenaikan utang yang seharusnya Rp 1.177 triliun,” jelas Sri Mulyani.

Tak hanya itu, faktor lain menurunnya proyeksi realisasi pembiayaan utang juga disebabkan faktor penggunaan sisa anggaran lebih atau (SAL) tahun lalu yang digunakan secara optimal di tahun ini. “Penggunaan SAL yang kita pakai secara optimal dalam situasi saat ini, pemanfaatan SAL untuk investasi pemerintah dalam penyelesaian jalan tol Sumatera dalam hal ini infrastruktur transportasi ditujukan tidak hanya sekadar pulih tapi ingin bangun fondasi ekonomi lebih kuat ke depan,” jelas Menkeu.

Untuk melengkapi berbagai kebijakan fiskal ekspansif, pemerintah tetap berupaya menjaga kesimbangan melalui penerapan kebijakan countercyclical dan kebijakan refocusing anggaran atau fiskal konsolidatif. “Pemerintah senantiasa mengupayakan kombinasi sumber pembiayaan dalam rangka memenuhi target kebutuhan anggaran yang efisien, namun tetap mempertimbangkan risiko,” ungkap Menkeu.

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN