Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Beras di gudang. Foto ilustrasi: IST

Beras di gudang. Foto ilustrasi: IST

Pemerintah Diminta Antisipasi Kenaikan Harga Beras

Damiana Simanjuntak, Minggu, 6 Oktober 2019 | 23:42 WIB

JAKARTA, investor.id - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, pemerintah harus terus melakukan upaya-upaya mengantisipasi gejolak harga beras pada akhir tahun. Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir, harga beras terus naik.

Pergerakan harga sebagai parameter ketersediaan beras di pasar, kata Galuh, perlu terus dipantau untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Faktor yang paling mempengaruhi kenaikan harga beras adalah kekeringan. Saat ini, kekeringan melanda sebagian besar wilayah penghasil beras di Indonesia. Kondisi itu menyebabkan naiknya harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG), yang pada akhirnya akan berimbas pada kenaikan harga beras di tingkat konsumen," kata Galuh dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Minggu (6/10).

Dia memaparkan, per bulan September 2019, harga GKP di tingkat mencapai Rp 4.905 per kilogram (kg). Mengacu data BPS, kata dia, terjadi kenaikan sebesar 3,07% dari bulan sebelumnya yang tercatat berada pada Rp 4.759 per kg. Hal yang sama terjadi pada harga GKG yang naik menjadi Rp 5.392 per kg dari yang sebelumnya tercatat sebesar Rp 5.309 per kg.

"Upaya antisipasi perlu terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan beras di pasar. Bulog juga perlu berinovasi agar proses serapan berasnya bisa berjalan lancar dan memenuhi target. Meski agak sulit karena Bulog terkendala HPP. Juga terkena imbas dari kekeringan yang terjadi," kata Galuh.

Meski tipis, lanjut dia, kenaikan harga beras sudah berlangsung selama 5 bulan terakhir. Kondisi itu dikhawatirkan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Belum lagi, kata Galuh, musim panen sudah lewat. Artinya, penyerapan gabah petani nantinya akan terus berkurang.

"Sementara, menjelang akhir tahun, memasuki masa Natal dan Tahun Baru. Permintaan diprediksi bakal terus meningkat. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus tetap menjaga ketersediaan pasokan beras dengan harga yang stabil lewat operasi pasar oleh Perum Bulog. Meski, sebagai solusi jangka pendek," ujar Galuh.

Untuk solusi jangka panjang, lanjut dia, koordinasi antar pihak terkait harus dilangsungkan. Dengan demikian, kenaikan harga beras tidak menjadi fenomena akhir tahun berulang.

"Gejolak harga beras ini harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah. Untuk menghasilkan kebijakan yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat secara langsung tanpa proses yang panjang dan berbelit-belit," kata Galuh.

Sementara itu, BPS mencatat pada bulan September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,27% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,37. Disebutkan, deflasi terjasi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan sebesar 1,97%.

Di sisi lain, BPS merilis, pada bulan yang sama, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum non migas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,36% terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada sektor pertanian sebesar 1,88%. Komoditas yang mengalami penurunan harga pada September 2019 antara lain cabai merah, cabai rawit, ayam ras, tomat, daging ayam, timah, serta plastik dan barang dari plastik impor.

"Selama bulan September 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp 4.905 per kilogra. atau naik 3,07% dan di tingkat penggilingan Rp 5.012,00 per kg atau naik 3,21% dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp 5.392 per kg atau naik 1,56% dan di tingkat penggilingan Rp 5.522,00 per kg atau naik 1,82%. Harga beras kualitas medium sebesar Rp 9.301 per kg atau naik sebesar 0,84%. Dan, rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 9.141 per kg atau naik sebesar 1,02%," demikian rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/10)

Di sisi lain, Seditjen Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang Pamuji menyatakan, pihaknya telah melakukan antisipasi dan mitigasi kekeringan. Di antaranya, dengan merehabitasi jaringan irigasi dan pompanisasi secara besar-besaran.

"Sejak tahun 2015, saat El-Nino terparah, bisa kita antisipasi dan dapat dilalui dengan baik. Bahkan, dari data BPS, lonjakan sangat tajam produksi padi terjadi pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014. Artinya, Kementan sebenarnya sudah melakukan langkah antisipatif agar kemarau tidak mengganggu produksi," Bambang di Jakarta, pekan lalu.

Karena itu, lanjut dia, Kementan optimistis produksi padi di tahun 2019 surplus, meski terjadi musim kemarau.

"Sesuai dengan penghitungan BPS, pada bulan Januari- November 2019 akan ada produksi sebesar 29,4 juta ton beras. Data Kerangka Sampling Area (KSA) BPS mencatat, stok beras akhir bulan Desember 2018 sebesar 3,3 juta ton dan stok 2019 saat ini ada 5,5 juta ton beras. Cukup melimpah," katanya.

Menghadapi musim kemarau tahun 2019, Bambang mengatakan, Kementan tetap melakukan antisipasi dini dan mitigasi kekeringan seperti tahun-tahun sebelumnya. Infrastruktur sudah terbangun dan terus dilanjutkan.

"Dengan pompanisasi, pipanisasi, sumur dangkal, embung, dam parit, long storage, hingga benih dan pasca panennya," papar Bambang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN