Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produksi Garam Nasional

Produksi Garam Nasional

Pemerintah Diminta Percepat Penerbitan Izin Impor Garam Industri

Harso Kurniawan, Rabu, 5 Februari 2020 | 08:36 WIB

JAKARTA, investor.id - Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono meminta pemerintah untuk mempercepat penertiban perizinan impor bahan baku, terutama garam industri.

 

"Kebutuhan garam untuk industri CAP (chlor alkali producer) yang terdiri atas 11 perusahaan sekitar 2,3 juta ton dan semuanya dipasok dari impor. Celakanya, stok tersebut akan habis dalam satu bulan ini. Padahal garam industri ini sangat dibutuhkan sebagai bahan baku," jelas Fajar di Jakarta, Selasa (4/2).

 

Menurutnya, izin impor bahan baku garam industri masih tertahan di salah satu instansi pemerintah, sedangkan impor itu butuh waktu 2-3 minggu, dan baru bisa dikirim ke sini. "Saya berharap izin impor garam industri dapat segera dilakukan, sebab kebutuhannya sudah sangat mendesak," kata Fajar.

 

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, kuota impor garam untuk industri makanan dan minuman (mamin) yang disetujui pada tahun ini di bawah rekomendasi yang diberikan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi), yakni di bawah 550.000 ton.

 

“Garam untuk industri mamin ada kemungkinan kurang. Tidak tahu apakah itu garam industri sektor lain bisa digeser atau tidak, kita tunggu saja,” kata Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono.

 

Dia menilai, rendahnya kuota impor yang diberikan merupakan strategi agar industri mamin menggunakan garam lokal. Adapun Fridy menyampaikan, kuota impor garam tersebut akan dievaluasi pada awal kuartal II-2020.

 

Menurut dia, akan ada kebijakan lebih lanjut terkait penggunaan garam oleh industri jika garam lokal tidak memenuhi standar industri. Pada tahun lalu, Kemenperin mengarahkan agar sebagian garam dari industri klor akali digeser untuk industri mamin.

 

Berdasarkan data Kemenperin, industri menufaktur mendominasi konsumsi garam sebesar 83,7% atau sebanyak 3,5 juta ton pada tahun ini. Industri CAP mendominasi konsumsi garam sebesar 67,86%, diikuti oleh industri mamin sebesar 30,35% atau sejumlah 1,1 juta ton.

 

Sementara itu, kekurangan garam industri untuk pabrikan mamin pada tahun lalu mulai dirasakan pada awal semester II-2019. Saat itu, kuota impor garam industri mamin yang dikabulkan hanya 330 ribu ton, sedangkan rekomendasi yang diberikan adalah 500 ribu ton.

 

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk mengatakan, perlu ada kelonggaran dalam pemberian kuota garam impor. Tony menilai rendahnya pemberian kuota tersebut disebabkan garam di gudang industri yang masih tersedia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA