Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (26/9/2019).

Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (26/9/2019).

Inflasi Maret 0,1%

Pemerintah Harus Jaga Pasokan Barang Jelang Ramadan

Arnoldus Kristianus, Rabu, 1 April 2020 | 19:43 WIB

 

JAKARTA, investor.id -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Maret 2020 sebesar 0,10%, lebih rendah dari inflas bula sebelumnya yang mencapai 0,28%. Namun pemerintah diminta harus menjaga ketersediaan barang karena pada pekan terakhir April ini akan memasuki bulan Ramadhan.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, untuk menjaga inflasi maka komponen yang menyebabkan inflasi besar ini perlu diwaspadai, misalnya pangan. Kondisi pangan ini perlu disesuaikan dengan kecukupan stok dalam negeri dan impor yang dilakukan pemerintah.

“Jangan sampai ada keterlambatan impor kalau stok dalam negeri tidak bisa mencukupi,” ucap Yusuf Rendy ketika dihubungi pada Rabu (1/4).

Selain itu, alur distribusi pangan yang panjang ini perlu ditingkatkan pengawasannya jangan sampai ada oknum yang melakukan penimbunan. Perlu ada peningkatan koordinasi antar kementerian/lembaga (K/L) yang mengawasi.

“Karena pangan ini yang akan menyumbang inflasi untuk semakin besar,” ujar Yusuf.

Merurut dia, kalau diperhatikan ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, misalnya gula pasir, bayam, kangkung, anggur, jeruk, dan bawang merah. Hal ini pemerintah belum melakukan impor sehingga supply relatif terbatas. Dengan adnya pandemi virus korona atau Covid-19 harus dipastikan alur distribusi pangan yang terdampak lebih besar, salah satunya Jakarta. Karena itu, kalau tidak dipastikan distribusinya maka akan berdampak di bulan Ramadan.

“Khusus untuk di bulan Ramadan perlu diperhatikan karena permintaan pangan meningkat,” ucap Yusuf.

Catatan lain, maka pemerintah harus memberikan kompensasi untuk menjaga daya beli masyarakat yang terdampak Covid-19. Masyarakat yang bekerja di sektor informal harus diperhatikan daya belinya. Karena inflasi ini akan menggeret harga. Kalau harga naik tetapi pendapatan masyarakat tidak naik ini yang akan menjadi masalah tambahan bagi pemerintah. Pemerintah sudah mengeluarkan sinyal untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Tetapi yang perlu dipertegas adalah validasi data penerima BLT karena saat bicara data penerima bantuan seringkali amburadul. Dalam situasi seperti sekarang perlu bantuan secara tepat sasaran,” ucap Yusuf.

Cukup Terkendali

Senada, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyatakan stok dan kelancaran distribusi barang harus diperhatikan jelang memasuki bulan Ramadan. “Dengan memperhatikan apa yang dicapai pemerintah pada tahun lalu tentunya kita harap inflasi pada ramadhan dan lebaran tetap akan terkendali,” ucap Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (1/4).

BPS mencatat inflasi pada Maret 2020 sebesar 0,10%. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Maret) 2020 sebesar 0,76% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2020 terhadap Maret 2019) sebesar 2,96%. Inflasi Maret 2020 disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan, telur ayam ras, dan gula pasir.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2020 secara umum ada kenaikan meskipun kenaikan jauh lebih landai dari bulan-bulan sebelumnya. Dari data-data yang ada saya simpulkan inflasi Maret 2020 cukup terkendali,” ucap Suhariyanto.

Dari 90 kota yang dipantau BPS, sebanyak 43 kota mengalami inflasi dan 47 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,64% dan inflasi terendah terjadi di Pekanbaru, Surakarta, dan Surabaya masing-masing sebesar 0,01%. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 1,91% dan terendah terjadi di Tangerang sebesar 0,01%.

“Kalau ditelusuri lebih dalam disebabkan oleh kenaikan berbagai harga jenis ikan dan sumbangan kenaikan emas perhiasan. Sedangkan deflasi terjadi di Timika sebesar 1,91% dan disebabkan turunnya tiket angkutan udara sehingga sumbangannya ke deflasi 0,77%,” ucap Suhariyanto.

Sementara itu, komponen inti pada Maret 2020 mengalami inflasi sebesar 0,29%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Maret) 2020 sebesar 0,61% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Maret 2020 terhadap Maret 2019) sebesar 2,87%.

“Dari sisi komponen inflasi pada maret didorong inflasi inti yang utamanya disebabkan keniakan harga emas dan perhiasan,” ucap Suhariyanto.

Menurut komponen dari tiga komponen yang ada hanya satu komponen inflasi yaitu inflasi inti sebesar 0,29% dan andil ke inflasi 0,19%. Untuk inflasi inti yang menyumbang besar ke inflasi adalah emas perhiasan 0,05%, diikuti bawang bombay 0,03% dan gula pasir 0,02%.

Sementara untuk harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,19% dan sumbangan ke deflasi 0,03%. Ada penurunan tarif angkutan udara dengan andil 0,06% meskipun masih ada kenaikan harga rokok kretek dan filter yang masing- masing menyumbangkan ke inflasi 0,01%.

“Sementara untuk kelompok harga bergejolak mengalami deflasi 0,06% dengan berbagai penurunan harga seperti cabai merah dan cabai rawit,” ucap Suhariyanto.

Penyumbang Inflasi

Penyumbang inflasi disebabkan oleh kenaikan kelompok pengeluaran Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi paling tinggi 0,99% sehingga andil ke inflasi sebesar 0,06%

“Di sana komoditas yang paling dominan ke inflasi adalaha kenaikan emas perhiasan sehingga andil ke inflasi 0,05%,” ucap Suhariyanto.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,10%. Ada beberapa komoditas dominan pertama kenaikan telor ayam ras menyumbang andil inflasi 0,03%. Kenaikan harga bawang bombay menyumbang andil inflasi 0,03%. Kenaikan gula pasir dimana sumbangan atau andil inflasinya sebesar 0,02%.

“Kenaikan rokok kretek filter dan rokok putih masing masing memberikan andil 0,01%,” ucap Suhariyanto.

Di sisi lain, ada komoditas yang mengalami penurunun harga sehingga memberikan andil kepada deflasi pada kelompok ini, di antaranya harga cabai merah telah turun drastis sehingga menyumbang deflasi 0,09%, dan harga cabai rawit menyumbang andil deflasi 0,04%.

Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,12%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02%. kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,28%, kelompok kesehatan sebesar 0,21%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,36%.

“Berikutnya penyediaan, makanan, minuman, dan restoran terjadi inflasi 0,36% dan dengan andil 0,03%. Salah satu komoditas yang memberikan andil kepada kenaikan adalah nasi dan lauk pauk dimana andilnya sebesar 0,1%,” ucap Suhariyanto.

Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok transportasi sebesar 0,43% dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,09%. Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok pendidikan.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN