Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Airlangga Hartarto. Foto: IST

Airlangga Hartarto. Foto: IST

Pemerintah Optimis Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan Capai 5,2%

Senin, 22 November 2021 | 11:44 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini pertumbuhan ekonomi pada 2022 bisa mencapai 5,2%. Hal ini dilihat dari kondisi pandemi Covid-19 yang bisa tertangani, dan pada saat yang sama, beberapa indikator perekonomian mulai menunjukan tanda-tanda positif.

“Beberapa indikator baik itu dari PMI, Indeks Keyakinan Konsumen itu sudah positif. Kami perkirakan bahwa di tahun ini, kita bisa capai [pertumbuhan ekonomi] 4%, maka ke tahun depan kami optimis bisa memacu di 5,2%,” ucap Airlangga dalam Economic Outlook 2022 yang digelar oleh BeritaSatu Media Holdings pada Senin (22/11).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada kuartal III 2021, pertumbuhan ekspor mencapai 29,16%, impor 30,11%, investasi 3,74% konsumsi rumah tangga 1,03%, dan konsumsi pemerintah 0,66%. “Kalau kita lihat dari berbagai komponen pengeluaran PDB seluruhnya positif, seperti ekspor, impor, tentu konsumsi rumah tangga dan investasi ataupun PMTB,” tambah Airlangga.

Indonesia mempunyai sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab, kondisi neraca perdagangan surplus di mana cecara kumulatif, dari Januari sampai Oktober 2021, sudah mencapai US$ 30,81 miliar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2021 tercatat sebesar US$ 145,5 miliar, setara dengan pembiayaan 8,5 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor

“Tentu kita harus memanfaatkan harga super komoditas yang biasanya juga tidak berlangsung lama antara 1,5 sampai 2 tahun. Sehingga kita harus menyiapkan engine lain untuk menggerakkan atau memacu pertumbuhan ekonomi, termasuk diantaranya digitalisasi ekonomi global,” tutur Airlangga.

Dia mengatakan, pada kuartal IV 2021, pertumbuhan ekonomi harus mencapai 6%. Hal ini agar pertumbuhan ekonomi keseluruhan pada tahun ini secara kumulatif bisa mencapai 4%. “Tentu kami mendorong bahwa perekonomian tahun depan bagi Indonesia lebih baik dari tahun ini. Kami berharap di kuartal IV ini, kita bisa menjaga di 5-6% kalau kita mau tumbuh di angka 4%,” jelas Airlangga.

Namun, masih terdapat sejumlah tantangan dalam perekonomian domestik. Pertama yaitu kondisi pandemi Covid-19. Pemerintah, sebut Airlangga, terus berupaya menjalankan kebijakan penanganan pandemi Covid-19 dari sisi kesehatan dan ekonomi seperti, gas dan rem. Dua hal ini dijalankan secara seimbang.

“Gas dan rem ini tetap kita harus jaga, kita ketahui covid-19 belum berakhir. Dengan berbagai variannya di Eropa itu menimbulkan gelombang yang ke empat ini yang harus kita jaga,” ujarnya.

Tantangan kedua yaitu menjaga ketidakpastian geo politik akibat perang dagang yang dilanjutkan saat Covid 19. Ketidakpastian ini sangat berpengaruh di kawasan Indo Pasifik. Berikutnya, normalisasi kebijakan (tapering off) dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Terakhir, kenaikan harga komoditas energi.

“Kita ketahui energi sempat harganya minus, namun kenaikan energi ini yang diperkirakan juga sangat berpengaruh terhadap negara kita, terutama terkait dengan subsidi energi yang kita ketahui bahwa kita punya ekspor seluruhnya walaupun positif yang non migas US$ 40 miliar,” jelas dia.

Pemulihan ekonomi yang secara cepat meningkatkan produksi namun masih banyak komoditas Sumber Daya Alam (SDA) yang belum tersedia di pasar. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan pada rantai pasok. Terhambatnya rantai pasok menyebabkan kenaikan harga komoditas SDA.

“Sehingga berbagai harga termasuk minyak mentah, gas alam, batu bara, tembaga, minyak sawit mengalami kenaikan. Beberapa negara mengalami krisis energi, terutama saat transisi energi dari energi berbasis fosil energi ke renewable energy yang tidak berjalan sesuai dengan harapan,” tutur Airlangga.

Airlangga mengatakan Indonesia harus belajar dari kondisi ini agar transisi energi tidak berdampak terhadap base load (beban dasar) yang dipersiapkan. Sebab, data dari base load ini penting untuk sektor produktif. The Fed juga diperkirakan akan menurunkan tingkat pembelian obligasi pemerintahnya yang direncanakan dari US$ 10 miliar menjadi US$ 5 miliar hingga Juni 2022. Hal ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan tingkat suku bunga.

“Apabila ada kenaikan suku bunga akan memicu capital flight, terutama di emerging countries termasuk Indonesia, karena di sana (Amerika Serikat) memberikan tingkat suku bunga lebih tinggi daripada negara negara berkembang,” ucapnya.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN