Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan bank menghitung uang dolar AS di Bank Mandiri. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan bank menghitung uang dolar AS di Bank Mandiri. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pemerintah Perlu Mitigasi Risiko Efek Samping SWF

Senin, 28 Desember 2020 | 18:25 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Managing Director Samuel Holding Harry Su mengatakan bahwa pemerintah perlu memperhatikan berbagai hal saat mengimplementasikan sovereign wealth fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI), agar ideal bagi pasar dan investor. 

Pasalnya SWF memiliki hubungan secara makro yang juga memiliki potensi  efek terhadap penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI), defisit transaksi berjalan dan defisit APBN sehingga diperlukan juga langkah-langkah mitigasinya. 

“SWF dapat timbullan efek samping terhadap FDI melalui kanibalisasi mengingat adanya potensi inevstor FDi mungkin memiliki investasi di SWF dapat akibatkan berkurangnya porsi invesatsi di FDI,”tuturnya dalam diskusi, Senin (28/12). 

Untuk mengantisipasi berkurangnya investasi FDI, maka Harry meminta pemerintah untuk meningkatkan lebih intensif dana investasi FDI, agar tidak menimbulkan sentimen dipasar. 

Kemudian untuk dampak implementasi  SWF terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit yakni lantaran keluarnya dana dalam bentuk dolar untuk membayarkan dividen ke investor. 

“SWF untuk hindari deifsit lebih besar, pemerintah perliu tingkatkan aktiviats ekspor melalui inevstasi SWF sektor berkaitan ekspor,”jelasnya. 

Lebih lanjut Harry mengatakan SWF juga dapat mempengaruhi defisit APBN yang ditargtekan untuk dikurangi secara berkala di tahun mendatang dapat berdampak pada kurangnya potensi dana di SWF. Sehingga sangat penting bagi pemerinth tingkatkan pertumbuhan ekonomi  jangka menengah dengan mendorong pendapatan pajak lebih besar di kemudian hari. 

“Dalam PP SWF,  jika dana investasi awal SWF turun sebesar 50%, maka pemerintah harus berikan tambahan modal atau top up hal ini dapat perburuk defiist APBN maka team menagement yang andal dan profesional dibutuhkan untuk kelola dana SWF,” jelasnya. 

Di samping itu, ia menyebut agar investor dapat tertarik di SWF maka pemerintah menawarkan dividen yang lebih tinggi kepada investor dibandingkan Yield obligasi tenor 10 tahun pemerintah AS yakni sekitar 2,6% selama satu tahun terakhir. 

“Untuk dapat capai dividen menarik bagi investor, pengelola SWF dapat investasi di perusahaan patungan atau  joint venture di  sektor rill khsususnya ekspor dapat meng-outside pembayaran dividen ke investor SWF selain JV tentu ada juga  reksadana, contract investment collective dan lainnya. Dengan diharapkan terbentuk keseimbangan inevstasi pada proyek jangka panjang pemerintah dan investasi jangka pendek. 

Selain itu, ia menyebut perlunya pipeline investasi dengan  rencana bisnis jelas sehingga SWF berkelanjutan dapat terbentuk. 

“Saya harap point yang saya sampaikan dapat bantu pembentukan SWF ideal dan diinginkan pasar,”ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN