Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjar Sumping Tjatur. Foto: jurnas.com

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjar Sumping Tjatur. Foto: jurnas.com

Pemerintah Selidiki Kasus Kematian Ternak

Damiana Simanjuntak, Senin, 14 Oktober 2019 | 11:08 WIB

JAKARTA, investor.id – Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kasus kematian ternak babi yang terjadi di Sumatera Utara. Termasuk, atas laporan kematian puluhan ternak babi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Saat ini, kata Fadjar, pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium. Yang pasti, kata dia, kewaspadaan harus ditingkatkan karena saat ini sedang merebak virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di sejumlah negara di dunia, termasuk Asia Tenggara.

"Kasus kematian babi di Dairi sudah dilaporkan dan sudah diturunkan Tim dari pusat, balai, dan dinas. Sementara itu, diduga karena Hog Cholera, tapi harus diwaspadai karena sedang merebak ASF di dunia dan Asia Tenggara. Saat ini, masih sedang konfirmasi hasil uji laboratorium," kata Fadjar saat dihubungi, Minggu (13/10/2019).

Dia mengatakan, Porcine Reproctive and Respiratory Syndrome (PRRS), ASF, dan Hog Cholera adalah penyakit pada babi yang disebabkan oleh virus. Untuk itu, dia menambahkan, telah diupayakan peningkatan biosekuriti dan desinfeksi, serta pengawasan lalu lintas babi dan produknya.

"Upaya yang bisa dilakukan adalah biosekuriti dan vaksinasi. Kecuali, jika ASF suda masuk, tidak ada vaksinnya. Sampai saat ini, kami belum bisa menyatakan akibat ASF karena dari hasil pengujian masih ada positif Hog Cholera. Seperti kejadian di Minahasa, ternyata karena Hog Cholera. Namun, meski demikian, kita harus waspada karena ASF sudah masuk di Filipina, yang dekat ke Sulawesi Utara," kata Fadjar.

Sementara itu, Ditjen PKH Kementan telah mengadakan pelatihan termasuk analisis risiko kepada Dinas Kabupaten di seluruh Sumatera Utara pada 7-8 Oktober 2019.

"Mengingat urusan kesehatan hewan sudah menjadi otonomi dan kewenangan daerah, kami hanya bisa melalui pemerintah daerah (dinas yang membidangi PKH). Meski demikian, kami selalu berkoordinasi dan bekerja bersama pemda, melalui dinas yang menangani kesehatan hewan. Khusus Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah kabupaten/ kota, kami telah bersama-sama melakukan upaya untuk membantu para peternak babi yang terkena musibah kematian ternak," tutur dia.

Sementara itu, lanjut dia, masih terus dilakukan pemantauan. Dan, telah dikirimkan bantuan tambahan disinfektan, alat semprot, alat pelindung diri (APD), serta membentuk tim untuk di lapangan.

"Kami masih menunggu konfirmasi hasil laboratorium dan nanti rapat dengan komisi ahli kesehatan hewan. Jadi, intinya terhadap kasus kematian babi ini harus segera dilakukan upaya biosekuriti dan pengawasan lalu lintas ternak babi dan produknya. Serta, menjaga tidak ada penyebaran penyakit ke daerah lainnya. Sambil mewaspadai ASF yang sulit dikendalikan karena belum ada vaksinnya. Apalagi, virus ASF sangat tahan dan bisa terbawa oleh hewan, produk hewan segar dan olahan, terbawa sepatu, baju dan alat alat peternakan, serta alat angkut/kendaraan yang keluar masuk peternakan atau daerah tertular ASF," kata Fadjar.

Terkait angka, dia mengakui, belum ada data final yang bisa dirilis resmi. "Angkanya masih berubah-ubah karena informasi dari peternak berbeda-beda. Ada yang menghitung kumulatif 1 bulan, ada yang dalam 2 minggu dan ada yang kejadian hari terakhir saja. Juga, ada yang menghitung yang mati karena penyakit. Tapi ada yang digabung dengan yang dipotong paksa karena takut keburu tertular penyakit," kata Fadjar.

Mengutip dokumen laporan kinerja tahunan Ditjen PKH Kementan tahun 2018, selain unggas, saat ini pemerintah meningkatkan budidaya ternak kelinci dan babi sebagai alternatif penghasil protein dan meningkatkan variatif pilihan kebutuhan protein yang sehat.

Kebutuhan daging babi di Indonesia saat ini sudah terpenuhi. Karena itu, pemerintah meningkatkan kualitas daging babi agar dapat menembus ekspor ke negara lainnya. Untuk menunjang peningkatan kualitas dan kuantitas ternak babi pemerintah melakukan pembinaan ke kelompok peternak untuk memperbaiki manajemen pemeliharaan menjadi manajemen yang baik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA