Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi SRG. (ist)

Ilustrasi SRG. (ist)

Pemerintah Sulit Cari Pengelola SRG Mandiri

Selasa, 25 Mei 2021 | 20:17 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Pemerintah kesulitan mencari pengelola gudang dalam sistem resi gudang (SRG) yang mampu mandiri mencari pembeli atau off taker.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, saat ini, pemerintah masih harus turut mencarikan off taker untuk beberapa komoditas di SRG.

“Padahal, kalau punya jiwa entrepreneurship, mereka bisa melihat peluang bisnis. Kalau sekarang kita harus mencarikan off taker-nya. Padahal, beberapa SRG yang berhasil tanpa dicarikan off taker, mereka sudah bisa menjalankan bisnis dengan baik. Contoh SRG rumput laut di Sulawesi Selatan yang dikelola oleh eksportir, yang memanfaatkan resi gudang untuk menjadi fasilitas pembiayaan dan mengumpulkan barang sebelum diekspor,” kata Wisnu dalam webinar Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Selasa (25/5/2021).

Menurut dia, SRG juga perlu dikelola oleh orang yang profesional sehingga perbankan mau memberikan pinjaman kepada pihak yang menjadikan SRG sebagai jaminan.

Menurut dia, saat ini, SRG tidak hanya dimanfaatkan oleh petani, tetapi juga oleh pelaku industri dan eksportir yang membutuhkan kepastian pasokan komoditas. SRG paling banyak dimanfaatkan untuk penyimpanan gabah dengan senilai Rp 283 miliar, kopi Rp 98 miliar, dan timah Rp 56 miliar sepanjang 2021.

“Pada prinsipnya, SRG dapat digunakan menjadi alternatif pembiayaan untuk siapapun,  baik petani, pedagang, industri, eksportir, melalui manajemen tunda jual. Ini juga diharapkan menjadikan efisiensi di rantai perdagangan, sehingga harga lebih stabil dan stok terjamin,” kata Wisnu.

Saat ini, SRG sudah dimanfaatkan oleh 20 komoditas. Namun, untuk komoditas garam, pemerintah masih kesulitan membuat SRG yang bersedia menyerap garam petambak dalam negeri. Pasalnya, untuk diserap SRG, petani harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, sehingga komoditas mereka bertahan lama saat disimpan.

Selain pengelola gudang, menurut dia, pengembangan pemanfaatan SRG jmasih terganjal oleh suku bunga perbankan yang tinggi. Karena itu, pihak yang menjadikan SRG jaminan saat meminjam uang kepada bank masih keberatan dengan suku bunga yang sebesar 6%. Kemendag pun masih membicarakan penurunan suku bunga ini dengan Kementerian Keuangan dan pihak terkait lain.

Ekonom Indef Aviliani mengatakan, pemerintah harus memastikan komoditas SRG memiliki off taker, sehingga perbankan mau meminjamkan dana dengan SRG sebagai jaminan. Ini bisa dilakukan antara lain oleh pemerintah daerah.

Aviliani mengatakan, pemerintah perlu membantu membuat perbankan membedakan bunga pinjaman antarsektor. Ketentuan suku bunga juga dapat bergantung pada kuantitas dan kualitas komoditas di gudang SRG yang dijadikan jaminan.

Sementara itu akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa menyoroti pemanfaatan SRG gabah. Menurut dia, selama ini, SRG hanya dimanfaatkan oleh petani-petani padi dengan skala usaha besar dan oleh pengepul.


 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN