Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi buah import

Ilustrasi buah import

Wabah Virus Korona

Pemerintah Tegaskan Larangan Impor Tidak Berlaku untuk Barang

Leonard Cahyoputra, Rabu, 5 Februari 2020 | 08:28 WIB

JAKARTA, Investor.id - Pemerintah menegaskan, kebijakan larangan impor dari Tiongkok hanya berlaku untuk hewan hidup (live animal), dan membebaskan perdagangan untuk barang. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri rapat terbatas mengenai Kesiapan Menghadapi Dampak Virus Korona yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Selasa (4/2).

 

"Pemerintah melarang impor live animal (hewan hidup) dari Tiongkok, kalau sekarang ada (impor yang dikirim) akan dikembalikan, karena metode transmisi penyakit melalui human to human dan wild animal. Sedangkan untuk perdagangan barang, karena tidak terkait dengan penularan, akan terus berlanjut, dan termasuk holtikultura seperti bawang putih dan buah-buahan," kata Airlangga.

 

Airlangga menambahkan, pemerintah masih akan menyiapkan skenario berikutnya, termasuk memperhitungkan dampak penyebaran virus korona tersebut terhadap perekonomian nasional. "Kami akan monitor terus, di Tiongkok (penyebaran virus korona) juga akan dimonitor terus sampai pertengahan Februari. Outbreaknya diperkirakan sampai pertengahan Februari, dan karantina mereka dievaluasi pada akhir Februari, maka pemerintah akan melakukan hal yang sama," jelas dia.

 

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan, larangan impor hewan hidup tersebut segera diberlakukan. Sejumlah hewan hidup yang dilarang untuk diimpor adalah hewan-hewan reptil seperti kura-kura, ular, dan reptil lainnya.

 

"Berlaku segera, mungkin Februari ini saya keluarkan peraturannya, sampai nanti dievaluasi kembali setelah Presiden mengevaluasi kembali. Sifatnya sementara, tidak selamanya, karena ini mengantisipasi saja," ungkap Agus.

 

Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik & Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Rachmat Hidayat mengingatkan pemerintah agar bijak melakukan kebijakan larangan impor, dan jangan sampai mengganggu kinerja industri. "Saat ini kami belum menyiapkan antisipasinya. Kami yakin pemerintah tidak akan gegabah asal melarang impor, dan jangan sampai salah sasaran,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (4/2).

 

Rachmat mengatakan, pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan Kementerian terkait melalui Ketua Umum Adhi S Lukman agar berhati-hati melakukan pelarangan impor. "Gapmmi mendukung langkah pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran virus korona, namun bukan berarti asal melarang. Virus tidak bisa hidup bila tidak ada inangnya yang harus makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Virus itu tidak akan bisa menempel di barang. Yang kami takutkan, jangan sampai melarang ke bahan baku industri makanan dan minuman (mamin),” ujar dia.

 

Menurut Rachmat, industri mamin jarang mengimpor daging segar, tetapi daging beku dari Tiongkok. Selain itu, mereka biasanya mengimpor bawang putih, bawang bombay, bahan baku untuk produk olahan susu (dairy milk) seperti white powder dan skim milk powder, serta bahan baku penolong.

 

“Hingga saat ini kami belum mendengar ada penurunan impor dari Tiongkok sejak wabah korona muncul,” ujar dia.

 

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian mengatakan, penghentian impor beberapa jenis produk dari Tiongkok oleh Indonesia bisa berdampak negatif bagi hubungan perdagangan kedua negara. “Tindakan itu (penghentian impor) akan merugikan perdagangan kedua negara dan juga memberikan dampak negatif kepada hubungan kedua negara,” kata dia.

 

Xiao mengungkapkan, hingga saat ini belum ada bukti bahwa virus korona dapat ditularkan melalui barang-barang impor. “Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan bahwa mereka tidak setuju terhadap tindakan pembatasan perdagangan ke arah Tiongkok,” kata Xiao merujuk pada pernyataan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang mengatakan tidak ada alasan untuk mengintervensi perdagangan dan perjalanan internasional terkait virus korona.

 

Oleh sebab itu, Xiao berharap agar Indonesia dapat menimbang saran dari WHO dan tidak mengambil tindakan yang dianggap dapat memberikan dampak negatif bagi hubungan kedua negara. Terlebih, mengingat Indonesia dan Tiongkok memiliki hubungan bilateral yang baik.

 

“Kami berharap, pihak Indonesia bisa memandang wabah ini dan melakukan pencegahan serta penanggulangan secara objektif, ilmiah, dan mengambil tindakan pencegahan yang rasional, bukan overreact supaya menghindari gangguan terhadap hubungan kedua negara dan kerja sama,” papar dia.

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono memprediksi, wabah virus korona akan berdampak pada industri dalam negeri, mengingat masih banyaknya bahan baku dan barang modal yang diimpor dari Tiongkok. Mewabahnya virus korona di Tiongkok sendiri membuat beberapa pabrik di negara tersebut berhenti beroperasi untuk sementara.

 

Untuk itu, kata dia, Kemenperin akan mengidentifikasi dampak tersebut terhadap pasokan bahan baku dan penolong bagi industri nasional. “Pasti ada dampaknya, karena impor kita dari Tiongkok terbesar berupa barang modal dan bahan baku. Secara detail masih diidentifikasi seberapa besar pengaruhnya,” kata dia.

 

Sigit menyebut, hal-hal yang akan diidentifikasi antara lain kemungkinan dan skenario terkait kebutuhan bahan baku dan upaya terus meningkatkan kapasitas produksi bahan baku. Pada kondisi saat ini, industri akan secara alamiah mencari sumber pasokan bahan baku dan barang modal dari negara lain untuk dapat terus beroperasi.

 

Menurut Sigit, situasi tersebut sebetulnya dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan subtitusi impor, sehingga bahan baku dan penolong yang biasanya diimpor dari Tiongkok dapat diproduksi di dalam negeri. “Di satu sisi, ini merupakan kesempatan dalam negeri untuk substitusi impor,” ujar dia. (ant)

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA