Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto:  Humas Kementerian Koperasi dan UKM

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: Humas Kementerian Koperasi dan UKM

KEJAR TARGET RASIO KWIRAUSAHAAN,

Pemerintah Terbitkan Perpres Insentif bagi Wirausaha

Minggu, 23 Januari 2022 | 08:12 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional Tahun 2021 -2024 telah terbit. Perpres ini menjadi terobosan untuk melakukan percepatan penumbuhan dan rasio Kewirausahaan di tanah air.

Perpres yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi dan resmi berlaku pada 3 Januari 2022 menjadi pedoman bagi kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam melakukan Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang ditetapkan untuk periode tahun 2021 - 2024.

“Perpres Pengembangan Kewirausahaan Nasional sangat diperlukan untuk mengejar ketertinggalan jumlah Wirausaha di Indonesia yang masih mencapai 3,47%. Pemerintah menargetkan pertumbuhan rasio kewirausahaan pada 2024 mencapai 3,95% agar struktur ekonomi nasional lebih kuat,” ucap Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers yang diterima pada Sabtu (22/1).

Menurut Teten, Perpres ini memberikan kemudahan, insentif, dan pemulihan bagi wirausaha baik yang sudah menjalankan usahanya maupun yang baru merintis sebagai wirausaha. Kemudahan tersebut mencakup pendaftaran perizinan secara elektronik; fasilitasi standardisasi dan sertifikasi dalam negeri dan untuk ekspor; akses pembiayaan dan penjaminan; dan pengutamaan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah; serta pengutamaan dalam akses pasar digital Badan Usaha Milik Negara.

Selain itu, kemudahan untuk mendapatkan akses penyediaan bahan baku dan bahan penolong; mengakses fasilitas umum meliputi lahan area komersial, pada tempat perbelanjaan, dan/atau tempat promosi yang strategis pada infrastruktur publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; melakukan riset dan pengembangan usaha; dan mendapatkan akses peningkatan kapasitas usaha melalui pendampingan, pendidikan dan pelatihan, dan bimbingan teknis.

“Insentif yang diberikan kepada wirausaha berupa pengurangan, keringanan, dan/atau pembebasan pajak daerah dan retribusi daerah; subsidi bunga pinjaman pada kredit program pemerintah; dan/ atau fasilitas pajak penghasilan,” kata mantan Kepala Kantor Staf Presiden ini.

Dalam upaya pemulihan karena kahar atau bencana, kementerian/ lembaga dan pemerintah daerah mengupayakan pemulihan Wirausaha meliputi: restrukturisasi kredit; rekonstruksi usaha; bantuan permodalan; dan/atau bantuan bentuk lain. Bencana yang dimaksud dalam hal ini tidak hanya bencana alam, tapi bencana lain yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang.

Dalam rangka Pengembangan Kewirausahaan Nasional, Perpres mengamanatkan pembentukan Komite Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang bertanggung jawab kepada Presiden. Pelaksana Komite ini diketuai oleh Menteri Koperasi dan UKM, dengan wakil Ketua Menteri BUMN, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Menteri Dalam Negeri yang beranggotakan 20 Kementerian/Lembaga.

“Pelaksana akan merumuskan rekomendasi kebijakan strategis kepada Presiden serta melakukan koordinasi dan sinkronisasi Pengembangan Kewirausahaan Nasional,” tandas Teten.

Komite ini selanjutnya akan menyusun Dokumen Pengembangan Kewirausahaan Nasional dan Rencana Aksi Pengembangan Kewirausahaan Nasional untuk melaksanakan Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Perpres juga menegaskan adanya pendanaan untuk pengembangan kewirausahaan yang bersumber dari APBN, APBD dan sumber lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pendanaan pelaksanaan pengembangan Kewirausahaan Nasional di daerah yang berasal dari APBN dialokasikan melalui DAK berupa DAK fisik dan DAK nonfisik. DAK tersebut digunakan untuk peningkatan kapasitas Wirausaha melalui inkubasi; peningkatan kualitas pendamping; dan perluasan akses pasar.

Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet
Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat regulasi tentang kewirausahaan ini menjadi langkah awal keseriusan pemerintah mendorong warga masyarakat memulai usaha. Pemerintah memberikan pendampingan terhadap masyarakat yang ingin memulai wirausaha. Masyarakat cenderung terhambat banyak tantangan saat memulai usaha seperti mengurus perizinan, mencari sumber pembiayaan, mencari bahan baku/ barang modal untuk produksi hingga akses pasar.

“Saya kira memang betul untuk memulai usaha di Indonesia cukup menantang artinya banyak halangan ketika seseorang ingin memutuskan menjadi pengusaha. Tantangan seringkali menjadikan warga masyarakat mengurungkan minat untuk menjadi wirausaha,” kata Yusuf saat dihubungi Investor Daily pada Sabtu (22/1).

Yusuf mengungkapkan pengusaha seringkali terkendala banyaknya regulasi. Dengan adanya regulasi khusus tentang kewirausahaan ini diharapkan tidak tumpang tindih dengan kebijakan yang sudah ada. Khususnya kebijakan yang sebelumnya sudah banyak menyentuh aspek kewirausahaan.

“Tidak kalah penting regulas ini terintegrasi dengan regulasi lain sehingga muara akhirnya adalah mencetak kewirausahaan baru yang siap memulai usaha di dalam negeri. Bahkan tidak menutup pintu untuk melakukan ekspansi sampai ke luar,” ucapnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN