Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Kemenristek-BRIN. (Foto: Ist)

Ilustrasi. Kemenristek-BRIN. (Foto: Ist)

Pemerintah Tidak Bisa Terus Andalkan APBN untuk Pembiayaan Riset

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:33 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) menyatakan, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk membiayai riset. Karena itu, ke depannya diperlukan model pendanaan baru untuk pelaksanaan riset. Selain itu, tujuan pelaksanaan riset juga harus dibuat secara spesifik sehingga tidak memakan anggaran besar.

“Kita sadar tidak bisa mengandalkan APBN yang semakin lama semakin kecil untuk mendukung riset, walaupun disebutkan Rp 26 triliun. Tetapi tahun ini prakteknya nol dan kita harus mengajukan lagi ke Kementerian Keuangan melalui LPDP,” ucap Kasubdit Industri Energi dan Transportasi Kemenristek/BRIN Wiwik Yuliani dalam diskusi virtual, Kamis (9/7).

Ia mengatakan, diperlukan strategi dan model bisnis baru sehingga riset tetap bisa berjalan. Di saat yang sama, tujuan riset juga harus dilakukan dengan melihat scope yang jelas. Saat menentukan visi dan misi riset maka harus mengetahui kondisi ekosistem serta kebijakan yang berlaku.

“Kita juga perlu prioritasnya, apakah itu penugasan atau berangkat dari yang sudah terjadi di sekitar. Apa yang sudah dirintis oleh kawan-kawan? Kemudian entry barrier-nya dan feasibility studies-nya seperti apa,” ucapnya.

Ia menambahkan, selama ini dalam penyusunan rencana riset, tujuan yang ada masih terlalu makro. Kegiatan riset dilihat berdasarkan kondisi ekonomi makro atau kondisi yang ada. Dari pengalaman yang ada masih banyak sekali penghambat ketika pihaknya ingin meneruskan kajian tentang teknologi.

“Ketika teknologi sudah siap, pasar itu belum tentu berpihak pada teknologi dalam negeri. Padahal kita sudah diminta misalnya substitusi impor tetapi ketika dijalankan sulit. Menurut saya sebaiknya sangat spesifik tidak usah terlalu makro,” ucapnya.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN