Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati setelah mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR pada Kamis (22/09/2022).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati setelah mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR pada Kamis (22/09/2022).

Pemerintah Waspadai Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed ke Perekonomian 2023

Sabtu, 3 Des 2022 | 04:32 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JJAKARTA, investor.id - Pemerintah mewaspadai dampak kenaikan suku bunga Amerika Serikat (The Fed) terhadap perekonomian nasional di tahun 2023. Dalam hal ini  pemerintah mewaspadai dampak kenaikan suku bunga AS terhadap penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan suku bunga The Fed acuan  dan pengetatan kebijakan moneter dirancang untuk memoderasi sisi permintaan sehingga inflasi tidak  melonjak.

"Interest rate yang tinggi beberapa pejabat di The Fed bahkan menyampaikan it gonna be high for relatively long. Ini berarti dampak terhadap maju mungkin akan terasa sepanjang tahun 2023," ucap Sri Mulyani Indrawati dalam Kompas 100 CEO Forum 2022, Jumat (2/12/2022)

Baca juga: Menkeu Harap Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Bertahan di Atas 5%

Advertisement

Dia mengatakan dengan kenaikan suku bunga The Fed akan berdampak ke capital output dari non residence. Pemegang surat berharga negara asing kemudian keluar dari Indonesia atau melepas SBN. 

"Berarti yield dari surat berharga kita juga akan naik. Interest rate di dalam negeri dari suku bunga Bank Indonesia terpaksa harus juga meng-adjust terhadap trend pressure global ini," ucap Sri Mulyani.

Pemerintah juga menyoroti dampak kenaikan suku bunga ini juga mempengaruhi laju investasi di dalam negeri. Dalam hal ini pemerintah melihat sejauh mana daya tahan  investasi di tengah era suku bunga yang tinggi.

Baca juga: Menkeu: Transisi Energi Jadi Salah Satu Kesepakatan Pelik G20

"Perbankan harus melihat  pertumbuhan kredit akan tetap resilien atau tidak. Perusahaan-perusahaan yang akan tetap melakukan listed supaya capital dan investment itu tetap terjadi," ucap Sri Mulyani.

Pada kuartal III Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ata investasi memberikan kontribusi 28,55% ke pertumbuhan ekonomi kuartal III 2022. PMTB tumbuh 4,96% pada kuartal III-2022. Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan melihat sejauh mana laju investasi di kuartal IV-2022.

"Kalau investasi bisa bertahan tumbuh di atas 5%, kita punya harapan bahwa resiliensi dari ekonomi kita akibat kenaikan interest rate karena inflasi tinggi dari dunia ini bisa kita jaga. Saya akan bertanya ke CEO disini anda confidence enggak untuk tetap ekspansi sehingga growth investasi di atas 5%," kata Sri Mulyani.

Baca juga: Menkeu: Konsumsi Menengah Atas Sumber Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah juga mendorong sisi konsumsi yang menjadi komponen terbesar pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal III-2022 konsumsi rumah tanggan tumbuh 5,39% dan memberikan andil 50,38%. Dia menuturkan daya beli dari konsumsi harus dijaga agar perekonomian domestik bisa berjalan optimal.

"Hal ini yang menyebabkan Presiden Joko Widodo begitu detail mengenai inflasi. Terus menerus mengingatkan kepala daerah dan kita semua, kebijakan fiskal, tahun ini kita menaikan lebih dari tiga kali lipat subsidi dan kompensasi BBM. Pada saat harga BBM naik di atas US$ 100 sekarang double ICP di atas US$ 100 kurs juga relatif di atas asumsi APBN yang Rp 14.750," kata Sri Mulyani.  

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com