Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Shinta W Kamdani, Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Shinta W Kamdani, Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Pemulihan Ekonomi 2022 akan Bertumpu pada Herd Immunity

Senin, 22 November 2021 | 21:32 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Pemulihan ekonomi tahun depan akan bertumpu pada herd immunity yang saat ini sedang dikejar pemerintah melalui percepatan vaksinasi nasional.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi dan Luar Negeri Kadin Indonesia, Shinta W Kamdani menerangkan, pihaknya melihat pemulihan ekonomi di 2022 akan bertumpu pada penciptaan heard immunity atau transisi pandemi menjadi endemi.

“Ini yang menarik, kapan itu terjadi. Karena faktor apapun walaupun kondisi sekarang sudah sangat baik di Indonesia tetapi tetap hal tersebut harus menjadi perhatian,” ucap dia dalam Berita Satu Economic Outlook 2022, Senin (22/11/2021).

Shinta mengingatkan, masih ada ketidakpastian meskipun ancaman pandemi lebih rendah. Apalagi kalau dilihat di beberapa negara Eropa sudah mulai naik lagi kasusnya, dan menimbulkan banyak kekhawatiran.

Dia mengatakan jika pandemi bisa berubah menjadi endemi, ini akan mendorong normalisasi demand pasar domestik, juga normalisasi dari kinerja berbagai sektor ekonomi khususnya sektor jasa, pertumbuhan investasi, dan juga penciptaan lapangan pekerjaan.

Dia mengatakan karakteristik pemulihan dan normalisasi ekonomi Indonesia lebih bersifat gradual. Kondisi ini sangat berbeda dengan pemulihan ekonomi global yang cenderung ship recovery karena dorongan normalisasi demand yang sangat cepat di berbagai pasar utama dunia seperti Tiongkok, AS, dan UE.

“Jadi ini tentu saja berbeda. IMF bilang pertumbuhan dunia itu pada 2021 akan lebih tinggi daripada 2022 dimana 2021 itu 5,9% dan 2022 itu 4,9%, kalau Indonesia justru terbalik dimana ekonomi Indonesia di 2022 ini diproyeksikan sekitar 5,9% oleh IMF dan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2021 yang Kemenkeu bilang 4%,” ucap Shinta.

Dia mengatakan Kadin melihat bahwa ekspor masih penting untuk mendorong pertumbuhan dan pemulihan ekonomi pada 2022. Proyeksi WTO menunjukkan bahwa volume transaksi perdagangan global akan terus tumbuh mendekati proyeksi pertumbuhan perdagangan global sebelum pandemi. Namun pada saat yang sama hampir seluruh harga Komoditas global itu cenderung turun pada 2022, karena suplai stok dan krisis energi yang terjadi pada 2021 akan perlahan menghilang seiring dengan peningkatan suplai komoditas dan normalisasi produktivitas ekspor berbagai negara yang sebelumnya terkendala pandemi.

“Jadi ini harus menjadi perhatian walaupun sekarang keliatan cuan semua pelaku usaha batu bara dan sawit. Indonesia masih berpeluang menciptakan surplus perdagangan. Kami perkirakan paling tidak sampai dengan pertengahan 2022. Dan ini saya rasa kita harus lebih mempersiapkan diri. Jangan terlalu terpukau dengan kondisi yang ada,” ucap Shinta.

Dia menerangkan, Kadin cukup optimis pada 2022 karena pemerintah mulai melakukan reformasi struktural dalam UU Ciptaker. Shinta melanjutkan, semua hal-hal kunci di reformasi struktural sudah mulai ditata oleh pemerintah walaupun memang dalam pelaksanaannya masih ada beberapa isu yang harus diperhatikan. Tetapi ini membuat gairah untuk bisa tahun depan lebih tancap gas untuk investasi.

“Terutama Indonesia akan menjadi tuan rumah di dalam G20 yang memberikan harapan bahwa Indonesia akan menjadi perhatian. Kebetulan saya dapat kesempatan untuk memimpin di G20. Kita akan menarik sebanyak-banyaknya investor untuk datang ke Indonesia,” ujar dia.

Meski begitu, Shinta mengingatkan, dengan adanya pengumuman tapering The Fed, Indonesia berpotensi mengalami gangguan arus FDI, dan pendalaman CAD (current account deficit), yang harus jadi perhatian pemerintah. Dia menerangkan, kombinasi ini berpotensi menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar dan kenaikan suku bunga pinjaman domestik dapat menciptakan ketidakstabilan yang harus diperhatikan terhadap ekonomi makro.

Dia mengatakan, akan beresiko tinggi apabila Indonesia tidak bisa menciptakan kinerja ekonomi domestik yang memadai dan devisa yang cukup yang biasa didapat dari ekspor maupun FDI untuk memenuhinya kewajiban pembayaran utang jangka pendek nasional dan menciptakan stabilitas.

“Meskipun tidak ada bahaya yang tinggi terhadap terjadinya defisit utang jangka pendek, Indonesia masih sangat berpotensi mengalami pendalaman CAD. Bagaimanapun juga kuncinya adalah menaikkan devisa dengan ekspor dan menarik lebih banyak FDI,” ucap Shinta.

Dia menerangkan pemerintah perlu melakukan fleksibilitas perpanjangan PEN. Kadin merasa PEN masih dibutuhkan untuk sepanjang 2022 sebagai bantalan jika pandemi masih belum pasti kondisi kedepannya. Pemerintah diharapkan juga memberi perpanjangan masa pelonggaran restrukturisasi kredit.

“Diharapkan dapat terus dilonggarkan paling tidak sampai Maret 2024. Jadi satu tahun lebih panjang daripada yang diberikan di POJK saat ini. Mengingat karena faktor pandemi ini masih membayangi proses pemulihan di 2022 dan pelaku usaha sektor riil membutuhkan waktu untuk memulihkan cash flow,” kata Shinta.

Kadin juga meminta adanya perluasan pembiayaan bunga rendah seperti KUR juga perlu dialokasikan oleh perbankan, bukan hanya oleh dana pemerintah. Lalu juga alokasi pembiayaan KUR khusus untuk menargetkan UMKM baru, karena mereka masih rendah aksesnya terhadap peminjaman dari bank.

“Setelah itu penyederhanaan formalitas dan prosedur penyaluran pinjaman perbankan untuk pelaku usaha. Lalu peningkatan partisipasi UMKM dalam suplai chain domestik dan Global. Menciptakan akses financing yang lebih tinggi bagi umkm dan ini saya rasa harus menjadi perhatian semua,” pungkas Shinta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN