Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sumber: BSTV

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sumber: BSTV

Pemulihan Ekonomi akibat Covid-19 Lebih Cepat Dibanding Krisis 1998

Kamis, 20 Januari 2022 | 09:02 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut laju pemulihan ekonomi dari krisis pandemi Covid-19 lebih cepat dibanding saat krisis moneter 1998-1999. 

"Laju pemulihan ekonomi kita saat ini dibandingkan saat krisis 1998 jauh lebih cepat dan kuat. Pada saat krisis 1998, pemulihan ekonomi berlangsung sangat lama hingga ekonomi kembali ke level sebelum krisis,” ujar Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (19/1). 

Kendati begitu, saat pandemi Covid-19 ekonomi cepat bangkit khususnya saat munculnya varian delta pada periode Juli hingga Agustus. Hal ini tercermin dari mobilitas masyarakat sudah meningkat dan berada di atas level sebelum pandemi Covid-19.

Geliat kegiatan ekonomi yang meningkat turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi di kuartal IV yang diproyeksi mencapai 5%.

"Konsumsi dan produksi sudah menunjukkan penguatan dan di atas level sebelum Covid-19," kata Sri Mulyani. 

Di sisi lain, pemulihan ekonomi yang jauh lebih cepat dan kuat dibandingkan krisis 1998 juga karena instrumen kebijakan yang dimiliki pemerintah sudah lebih lengkap.

Lantaran pemerintah terus belajar dari berbagai krisis-krisis terdahulu, untuk mengkalibrasi kebijakan dan mendukung pemulihan ekonomi.

"Setiap krisis memberikan kita pembelajaran. Ini yang di Kementerian Keuangan, saya selalu minta kepada jajaran agar setiap krisis di-capture bagaimana respons kita dan saat krisis terjadi lagi, sehingga dapat digunakan lagi saat terjadi krisis," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia tak menampik bahwa setiap krisis akan menimbulkan peningkatan kemiskinan dan ketimpangan, karena orang miskin atau paling vulnerable akan lebih sulit mengatasi dampak dari krisis.

Oleh karena itu, kebijakan yang diambil pemerintah dalam merespons krisis akibat pandemi Covid-19 tak sebatas untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi. 

"Kami juga melihat bagaimana kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Angka kemiskinan kita sempat mencapai di atas 10% tetapi kemarin sudah diumumkan BPS bahwa angka kemiskinan kita sudah kembali ke level single digit," ujarnya. 

Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers neraca perdagangan Desember 2021, 17 Januari 2021.
Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers neraca perdagangan Desember 2021, 17 Januari 2021.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (17/1) melaporkan, jumlah penduduk miskin pada September 2021 mencapai 26,5 juta orang atau 9,71% dari total penduduk Indonesia. Jumlah penduduk miskin berkurang 1,04 juta orang dibandingkan Maret 2021 atau 1,05 juta orang dibandingkan September 2020.

"Ini berarti kurang dari 24 bulan, kita sudah bisa mengembalikan ekonomi dan kemiskinan pada jalur yang benar. Ini tidak terjadi begitu saja, ini hasil kebijakan yang didesain untuk melindungi golongan terbawah. Kebijakan ini akan kita teruskan," kata dia.

Lebih lanjut, untuk data angka pengangguran yang sudah mulai menurun. Berdasarkan data terbaru BPS, angka pengangguran per Agustus 2021 mencapai 9,1 juta orang atau 6,49%, turun 0,67 juta atau 0,58% dibandingkan Agustus 2020. 

“Jadi kalau dilihat ini enggak mungkin terjadi begitu saja ini sebab desain kebijakan memang fokus untuk melindungi yang paling bawah jadi setiap growth bisa create job, dan turunkan kemiskinan setiap growth bisa turunkan gini ratio agar lebih merata dan inistratstegi akan terus kami lanjutkan,” ujarnya.

Dengan demikian, Menkeu memastikan akan terus memantau berbagai perkembangan indikator dengan terus mengkalibrasi berbagai kebijakan melalui program pemulihan ekonomi nasional.

“Mana area yang harus di-accelerate Momentum pemulihan eko sudah menunjukkan hal yang bagus sesudah alami dampak delta sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal III hanya 3,5%. Kami optimis di kuartal IV, pertumbuhan ekonomi akan recovery cukup kuat beberapa indikator dan estimasi dari BKF sekitar 5%.   Jadi kalau kuartal IV di 5% maka keseluruhan  tahun akan berada di 4%,”ungkapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN