Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Blok migas. Ilustrasi: IST

Blok migas. Ilustrasi: IST

Penambahan Split Pertamina Tunggu Persetujuan Menteri ESDM

Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:26 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan perubahan bagi hasil (split) PT Pertamina (Persero) di beberapa blok migasnya masih menunggu persertujuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Namun, tambahan split ini berpotensi menambah cadangan minyak 120 juta barel dan gas 1,7 triliun kaki kubik.

Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Suardin menuturkan, diskusi terkait usulan tambahan split Pertamina di beberapa blok migasnya kini sudah mencapai tahap akhir.

Selanjutnya, untuk merealisasikan tambahan split tersebut, pihaknya membutuhkan persetujuan dari Kementerian ESDM. “Perlu persetujuan dari ESDM karena memang nanti perlu ada hal yang disetujui Menteri ESDM,” kata dia dalam jumpa pers daring, Jumat (23/10).

Deputi Perencanaan SKK Migas
Deputi Perencanaan SKK Migas

Jaffee mengungkapkan, usulan tambahan split ini melalui diskusi panjang dengan pihaknya. Pasalnya, usulan ini dimulai dari upaya pihaknya mencari potensi migas yang dapat dikembangkan namun belum masuk dalam rencana jangka panjang Pertamina.

Selanjutnya, pihaknya mengeluarkan rekomendasi ke Kementerian ESDM. “Kami mau coba ke depannya, untuk 1-2 bulan, untuk bisa kami selesaikan,” ujar dia.

Menurut dia, penambahan split ini berpotensi menghasilkan cadangan migas bagi Indonesia tanpa harus menunggu dilakukannya kegiatan eksplorasi. Tak hanya itu, langkah ini juga akan menambah keekonomian blok migas hingga 10 tahun.

“Yang sedang didiskusikan sekarang kurang lebih bisa tambah reserve minyak 120 juta barel dan gas 1,7 triliun kaki kubik,” ungkap Jaffee.

Proposal tambahan split ini disebutnya tidak hanya berakhir untuk Pertamina saja. Pihaknya akan terus mencari potensi-potensi migas di wilayah kerja lain yang dapat dikembangkan ke depannya.

“Intinya, semakin agresif dan efisien,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Taufik Aditiyawarman mengatakan, pihaknya telah mengusukan penambahan split untuk Blok Mahakam dan Blok Sanga-Sanga.

Selain itu, pihaknya masih mengkaji pengajuan perubahan bagi hasil Blok East Kalimantan, Offshore North West Java (ONWJ), dan Offshore Southeast Sumatra (OSES). Kelima blok ini merupakan blok terminasi yang dikelola perseroan.

Deputi Monetisasi dan Keuangan SKK Migas Arief S Handoko mengungkapkan adanya potensi peningkatan produksi gas dari blok migas yang ada di Kalimantan Timur atau East Kalimantan System. Hal ini menyusul adanya insentif yang tengah diajukan oleh Pertamina untuk Blok Mahakam, Sanga-Sanga, dan Kalimatan Timur.

Adanya insentif akan mendorong kegiatan operasi dan pengeboran sumur yang lebih masih.

“Pada 2021 itu dari Blok Mahakam bisa lebih dari 500 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMScfd), belum dari yang lainnya,” tutur dia.

Taufik sempat mengungkapkan, jika memperoleh perbaikan bagi hasil, pihaknya berkomitmen menggenjot produksi blok migas tersebut.

“Tentunya dengan keekonomian yang lebih baik, akan memaksimalkan monetisasi potensi-potensi yang ada di blok migas tersebut, meningkatkan cadangan dan produksi ke depannya,” ungkapnya.

Pertamina meneken kontrak kerja sama (production sharing contract/PSC) Blok Sanga-Sanga, East Kalimantan, dan Blok OSES dengan skema bagi hasil kotor (gross split) pada 2018 lalu. Demikian juga amendemen PSC Blok Mahakam yang memakai skema investasi yang dapat dikembalikan (cost recovery). Kontrak Blok ONWJ diteken pada 2017 lalu. Mengacu kontrak tersebut, bagi hasil Pertamina di Blok Sanga- Sanga dipatok sebesar 49% untuk minyak dan 54% untuk gas.

Sementara di Blok East Kalimantan-Attaka, perseroan memperoleh bagi hasil 61% untuk minyak dan 66% untuk gas. Selanjutnya, bagi hasil Pertamina di Blok OSES ditetapkan sebesar 68,5% untuk minyak dan 73,5% untuk gas.

Di Blok ONWJ, Pertamina sebelumnya telah memperoleh tambahan split melalui diskresi menteri dan perubahan skema gross split. Awalnya, bagi hasil Pertamina di blok ini sebesar 57,5% untuk minyak dan 62,5% untuk gas. Di akhir 2017, besaran bagi hasil ini meningkat menjadi 73,5% untuk minyak dan 81% untuk gas.

Kelima blok terminasi yang digarap Pertamina ini masuk dalam daftar 10 produsen migas terbesar di Indonesia. Mengacu data SKK Migas, realisasi lifting minyak di Blok Mahakam tercatat sebesar 29.361 barel per hari (bph) dari target APBN-Perubahan 25 ribu bph dan gas 558 MMScfd dari target 510 Mmscfd.

Selanjutnya, lifting minyak Blok ONWJ sebesar 28.893 bph dari target 27.500 bph dan gas 71 MMScfd dari target 58 MMScfd. Berikutanya, capaian lifting minyak Blok OSES sebesar 26.542 bph dari target 24.010 bph, East Kalimantan 9.862 bph dari target 11.380 bph, serta Sanga-Sanga 12.515 bph dari target 12.030 bph.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN